Nyobain Kamera Analog Nikon EF400SV + Film Kodak Vision3 500T

Mumpung lagi mood, lanjut cerita-cerita soal kamera analog lagi yuk! Kamera yang ku pakai kali ini adalah Nikon EF400SV dengan film Kodak Vision 3 500T. Kamera ini aku dapat secara gratis dari giveaway yang diadain @ala.mandas di akun Instagramnya. Alhamdulillah ya bund, rezeki emang ga kemana. Pas lagi seneng-senengnya main kamera analog, eh dapet giveaway. Kalau misal ada diantara kalian yang mau beli kamera analog bisa check Instagram mereka ya. Kalau untuk roll filmnya ini dibeli di @35mm.rons atau di @anakanalog.yk juga bisa.

Ini adalah kali pertama aku nyobain kamera dari nikon, karena sebelumnya selalu pakai keluaran Fujifilm. Makanya pas tau kalau aku dapet giveaway kamera Nikon EF400SV, rasanya super excited buangeeeet buat nyobain!

Kira-kira begini tampilan dari kameranya:

Processed with VSCO with a6 preset
Nikon EF400SV

Dari segi tampilan, cantiq kayak aku dan menawan sekali bukan? Eh gimana sih harusnya kalo ngedeskripsiin kamera? Hahaha. Yaa pokoknya dia tuh bener-bener a pocket-sized point and shot camera yang super lightweight tapi nggak berasa ringkih. Kalau dibawa kemana-mana tuh praktis aja gitu, tinggal dikalungin biar seluruh dunia tau kalau kalian adalah anak antimainstream yang punya dan main kamera analog wkwkwk *gakdeng

Processed with VSCO with a6 preset
Tampak belakang dari Nikon EF400SV

First thing that I noticed ketika pertama pake adalah….wow view findernya gede juga dan bening abis, mantap buat ngeliat objek yang mau kita bidik. Terus, disebelah lensa Nikon 28mm nya ada tombol on-off untuk flashnya juga lho, tapi aku pribadi belum pernah ngotak atik tombolnya sih jadi flashnya selalu nyala. Oiya, kamera ini jenisnya otomatis dalam hal wind-and rewind, jadi kalau abis jepret langsung muter deh filmnya, dan kalau filmnya udah mentok/abis nanti otomatis ngerewind sendiri deh. Kamera ini membutuhkan 2 batre AA if you want to use it.

Baca juga: Nyobain Kamera Analog Fujifilm Axion + Film Fujicolor C200

Kayanya udah cukup ya soal kameranya? Makin panjang tulisannya kayaknya malah bikin makin keliatan kosong otaknya soal perkameraan.

Langsung aku liatin hasil fotonya ajalah ya. Foto foto ini adalah hasil hunting di area landasan pacu pantai depok, gumuk pasir, pantai tall wolu, dan juga pantai parangkusumo.

Ini salah satu foto favorit dari roll ini, soalnya pemandangan dan komposisi fotonya berasa pas aja gitu Yaelah tau apaansih nad soal komposisi foto wkwk bct.

KODAK_VISION_1281_09
Landasan pacu pantai depok, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Hasil foto mobil dengan background pantai ini adalah my most favorit. Hasilnya sesuai banget sama apa yang ada dibayanganku. Would be perfect kalau ngga ada orang dibelakang yang lagi duduk diatas motor. Tapi masih bisa di crop sih kalau mau.

KODAK_VISION_1281_12
Pantai apa ya duh lupa, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Nah kalau foto bapak-bapak dengan alat pancingnya ini sebenernya kayak agak nanggung karena beliau hanya kefoto separo, tapi aku suka liat gulungan ombak-ombaknya dan warna air lautnya jadi aku post saja hehehe

KODAK_VISION_1281_15
Pantai Parangkusumo, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Kalau lagi berdiri dipinggir pantai dan nungguin ombak datang, kalian suka liatin busa-busa yang muncul dari air lautnya gaksih? Kalau iya, berarti kita sama.  That’s why I took picture of it, cause I simply love it.

KODAK_VISION_1281_28
Sunset in Pantai Parangkusumo, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Yang terakhir ini adalah foto sunset di Pantai Parangkusumo sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku baru sadar kalau selama ini kayaknya aku jarang banget bahkan hampir gapernah nikmatin sunset di pantai. Ternyata secantik itu ya sunset di pantai 😦

Untuk beberapa waktu kedepan kayaknya aku ngga bakal hunting dulu, mengingat kondisi diluar saat ini masih belum aman. Semoga pandemi covid19 ini segera berakhir yaa. 

Oke deh, udahan dulu ya tulisan tentang Nikon Ef400SV nya. Sampai ketemu dipostingan selanjutnya. Bye bye.

Nyobain Kamera Analog Fujifilm Axion + Film Fujicolor C200

Halooo, kali ini aku mau sedikit cerita pengalaman selama –njepret njepret asal– pakai kamera analog Fujifilm Axion dengan film Fujicolor C200 sekalian nunjukin hasil fotonya. Berikut ini adalah penampakan dari keduanya:

Processed with VSCO with a6 preset
Fujifil Axion + Fujicolor C200

Hasil foto dari Fujifilm Axion ini belum pernah ku posting di feeds Instagram sih, tapi kalau di story sepertinya pernah. Btw kalau kalian sering menemukan foto di Instagram dengan hashtag #35mm dengan efek efek jadul, nah itu berarti foto-foto tersebut diambil menggunakan kamera analog. Ya walaupun bisa juga sih online shop yang jual peninggi badan ngiklan dengan hashtag #35mm.

Fujifilm Axion ini jenisnya point and shoot, jadi gaperlu mikir gimana cara fotonya, pokoknya gaperlu keahlian khusus atau tekhnik yang gimana gimana untuk menggunakan kameranya. Cocok banget buat yang anti ribet, dan maunya yang praktis praktis aja kayak aku. Cukup buka penutup lensa, intip objek yang akan difoto dari view finder, terus jepret deh. Oiya, jangan lupa juga berdoa supaya gambar yang dihasilkan tida ngaco, dan jangan sampai jari kalian menutupi lensa kameranya! Honestly, ini adalah kebodohanan yang masih terus kuulang dari kamera pertama hingga kamera ketigaku. Heran deh udah ganti kamera tetep aja penyakitnya gailang-ilang. Hati-hati ya teman teman newbieku, kalian gamau kan kalau hasil foto kalian ada bayangan tangannya seperti ini?

Tangga hotel, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk

Fujifilm Axion ini bukan kamera analog pertamaku, tapi gatau kenapa berkesan aja karena hasil fotonya menurutku lebih memuaskan dari kameraku yang pertama alias si Fujica M1, jadi aku pengen nulis tentang ini lebih dulu. So far, aku seneng sih pakai ini karena bentuknya kecil, pocket size banget, udah gitu warnanya juga cakep. Tipe-tipe warna yang hits ditahun 90an, ceunah. Udah gitu aku lumayan beruntung karena barangnya masih bagus, body oke dengan sedikit baret bekas pemakaian, view finder bening, flash nyala terang benderang, rewind jalan, ruang film bersih, tutup kamera ga seret. Pokoknya overall fungsional deh.

Aku cobain kamera ini untuk hunting di sekitar kawasan 0 KM Malioboro sekitar pukul 5 sore. Karena dia udah ada built in flashnya dan alhamdulillah flasnya works normally, jadinya waktu aku pakai untuk foto sore-sore pun masih aman banget. Objek bidikanku masih terlihat jelas pokoknya. Sayangnya kamera ini autoflash dan ga dilengkapi dengan tombol on off untuk flashnya, jadinya flashnya akan nyala setiap kalian motret. Terus masalahnya apa? Yaaa.. ga ada masalah apa-apa sih, cuman gabisa foto diam-diam tanpa bikin orang kaget sama flashnya aja.

Dalam hal jepret menjepret, kamera ini udah otomatis dalam hal winding and rewinding filmnya, alias udah motorized. Kalian tinggal jepret dan filmnya akan bergeser sendiri tanpa perlu muter-muter gerigi film/ngokang. Kalau filmnya sudah mentok, kalian tinggal geser tombol rewind dan filmnya akan tergulung kembali masuk ke canister. Untuk menjalankan fungsi tersebut, Fujifilm Axion ini menggunakan batre jenis AA sebanyak dua buah saja. Ngausa banya banya.

Suda ya basa basinya, sekarang kita langsung liat hasil dari Fujifilm Axion dengan film Fujicolor C200.

FUJI_C200_0794_07
Kopi Pakpos, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk
FUJI_C200_0794_03
Kantor Pos Besar Yogyakarta, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk
FUJI_C200_0794_13
Jl. Malioboro, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk
FUJI_C200_0794_10
Aku hehehe, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk

Mon maap kalo hasilnya masih pas-pasan dan terkesan ngawur, ya namanya juga masi belajar. Kalo kalian mau coba-coba main analog, kamera ini bisa banget dicobain karena gaperlu nyetting apa-apa lagi. Tapi kalau pengen serius ngulik kamera, mungkin bisa cobain range finder atau slr, bukan point and shoot kayak gini.

Yak, sepertinya segini dulu untuk cerita tentang kamera Fujifilm Axion-nya. Semoga bisa segera nulis tentang kamera-kamera lainnya. Sampai jumpa ditulisan berikutnya 😀