My Journaling Activity in 2021

Haiiii! Kalau misal kalian follow Instagramku, kalian mungkin sering liat aku upload content seputar journaling; baik di story atau pun feeds. Pertama kali aku upload journalku tuh kayaknya awal 2017 deh, jaman masih pakai DIY notebook ala Midori gitu. Tahun 2018 sampai 2019 aku sempet on-off journaling karena mager sampai akhirnya beneran aktif lagi dengan cukup konsisten di pertengahan 2020 sampai sekarang.

Kali ini aku mau update lagi seputar journaling activity ku di tahun 2021 sekalian nunjukin beberapa printilan journaling yang aku pakai, dan juga sedikit cerita soal kelas, webinar, ataupun workshop journaling yang pernah aku ikutin. Loh ada webinar dan classnya? Ada dong! Kayaknya dimasa pandemi gini banyak banget gaksih online class dan webinar yang menarik bermunculan? Btw kalo ada yang punya info kelas menarik boleh banget share di comment section, siapa tau ada yang butuh.

Mungkin sebagian ada yang masih bertanya-tanya, journaling itu apaansih? Journaling itu pada dasarnya mirip mirip sama nulis diary. It’s an activity where you can pour your thoughts, feelings, emotions, whatnots into a writing in the hope that you can understand and process them better. Dan sama halnya kayak diary, journaling pun bisa dilakuin bebas kapan aja sesuka kamu. Mau diisi setiap hari, seminggu sekali, sebulan sekali juga gapapa. Intinya: bebas!

Aku pribadi ngisi journalku sesuai kebutuhanku, jadi isi tiap bulannya bisa beda konsepnya. Tiap akhir bulan aku selalu bikin monthly spread untuk diisi sama kegiatan bulan berikutnya. Punyaku sih isinya so far cuma jadwal webinar seputar kehamilan dan journaling, jadwal check up ke dokter atau puskesmas, yoga class, atau apa aja yang menurutku penting untuk diingat. Isinya juga cuma singkat aja, ga ada penjelasan yang detail karena emang spacenya juga terbatas. Biasanya cuma aku tulis “Webinar prenatal yoga 4pm via zoom with Gaia“. Kurang lebih kayak gini monthly speadku untuk bulan September, 1 halaman full untuk cover pagenya, dan halaman sebelahnya untuk tabel tanggalnya.

Selain monthly spread, kadang aku juga bikin weekly spread kalo aku lagi ngerasa minggu itu banyak yang harus aku notes, atau kalau misal aku lagi pengen tau gimana keadaan hatiku dengan nulis rutin tiap malam, even though itu cuma 1 sampai 3 kalimat pendek. Karena ini dibuat sesuai kebutuhanku, jadi dalam sebulan aku ga selalu bikin weekly spread tiap minggu, kadang cuma minggu pertama, kedua, pokoknya pretty much up to me. Bagiku ga ada keharusan untuk selalu nulis kalau emang dirasa lagi ga ada yang perlu ditulis.

Taun 2020 aku selalu bikin weekly spread tiap minggu, dan pada saat aku skip gak bikin template untuk 1 minggu, rasanya kek dah gagal gitu dalam journaling. Terus endingnya aku malah jadi berhenti journaling karena ngerasa “yah kelewat seminggu, dah gak oke nih journalku”. Hayoo siapa yang kayak gini juga? Padahal mah ya gapapa kali skip nulis seminggu, toh ga ada yang bakal nilai journal kita isinya kayak gimana. Dan alasan ini juga sih yang bikin banyak orang ragu untuk mulai journaling: takut gak bisa konsisten nulis, atau takut bosen ditengah jalan. Tapi ya gapapa sih, wajar, I’ve been through that phase as well, even a few times.

Terus apa yang aku lakukan? Jadi, setelah aku suka ikut journaling class atau webinar journaling dan dapet insight baru, I changed my journaling style. Yang awalnya pakai template yang harus diisi tiap hari dalam seminggu berubah jadi journal suka-suka. Even sisi virgoku yang ribet, banyak mikir, dan a little too perfectionist mulai bisa menerima kalau my journal is my very personal space dimana aku bisa bebas nulis apa aja dan kapan aja, tanpa harus mikirin sisi estetiknya, in fact it can be ugly too. Kadang aku nulis cerita setengah halaman, dan setengah halamannya aku isi dengan hiasan. Kadang aku isi dengan journaling challenge yang aku dapet dari grup komunitas journaling di telegram. Btw ngehias journal tuh bisa jadi cara untuk self-healing dan untuk mengasah kreatifitas juga. Well, even though my journal is not that pretty, I still like it ❤

Speaking of journaling class, pertama kali aku ikut tuh sekitar bulan Maret 2021. Waktu itu, salah satu temen Instagramku ngadain online workshop dan kebetulan materinya adalah Intentional Journaling yang diisi oleh kak Maya (@Lulana__) owner dari Soleluna Shop. Selain dapet materi, kita dapet journaling kit yang gemes untuk dipake pas sesi journaling bareng. Oiya buat yang penasaran, nama akun IG online workshopnya adalah @tumuci_, kalian bisa check langsung karena workshopnya macem-macem, gak cuma journaling doang. Dan untuk kak Maya, dia juga suka ngadain journaling class dan journaling session baik yang gratis ataupun berbayar. Aku juga join Community Lulana Life punya kak Maya di telegram, biar nambah temen untuk share seputar per-journaling-an juga. Ini lumayan banget untuk nambah motivasi dalam journaling.

Selain join komunitas journaling, hal yang bikin semangat dalam journaling adalah printilan yang gemes a.k.a colorful brushpens, cute stickers, washitapes, various kind of papers etc. Benda-benda ini yang biasanya aku pakai untuk ngehias journalku. Aku biasanya beli di shopee, random aja sih beli di store manapun yang penting ongkirnya gak mehong atau free ongkir. Kalian bisa juga check shopeenya Soleluna Studio karena kak Maya juga jual notebook, sticker lucu, healing tea, dll. Aku sih penasaran banget sama notebooknya soalnya kertasnya tuh HVS 160 gsm, lebih tebel dari notebook pada umumnya.

Gemees kan yaaa printilannya? Tapiii, perlu kalian notes bahwa benda-benda ini adalah penunjang journaling yang seharusnya membantu kamu dalam ngehias journalmu, bukannya malah ngeribetin dan bikin kamu ngerasa terbebani untuk ngehias journal in certain way dengan benda tersebut. Banyak kok yang journalnya polosan, cuma ditempel sticker kecil kecil, atau cuma pake brushpen untuk hand lettering atau gambar hiasan. Carilah journaling style yang bikin kamu nyaman. Sok iye banget gak sih advicenya? Hahaha padahal mah dulu aku juga kayak gini, ribet ama hiasan terus jadi mager nulis, atau kalau pas hiasannya jelek jadi ilang moodnya. Sekarang sih alhamdulillah dah gak gitu sejak menerapkan mindset our journal can be ugly.

Btw sekarang aku pakai 2 notebook; 1 untuk journaling biasa, dan 1 lagi pregnancy journal specially dedicated to mochi (panggilan kesayangan untuk janin di dalam perutku hihihi) untuk nulis hal yang terjadi di masa kehamilanku. Notebook yang ku pakai dua duanya A5 dan dotted ya, soalnya aku kurang suka yang ruled ataupun polos. Notebook yang hitam merknya bukuqu dan jenis kertasnya HVS 100 gsm jadi enak kalo ditempel sticker, sedangkan yang coklat dari leonpaperworks dengan kertas bookpaper 72 gsm, jadi kurang tebel untuk ditempel sticker apalagi kalau nempelnya pakai lem, tapi overall masih enak kok untuk nulis.

Yang hitam untuk journal hiasa, yang coklat untuk mochi

Buat temen-temen yang mau mulai journaling, especially yang udah nyiapin buku dan printilannya, semoga kalian bisa segera mulai ya. Mungkin kalian bisa coba pakai journaling prompts sebagai pancingan tulisan kalian. Coba deh check pinterest juga, banyak banget insponya. Kalian juga bisa ceritain kegiatan atau perasaan kalian dihari itu selayaknya diary kalian jaman SD dulu, well that’s pretty much what I’ve been doing up until now. Malah kadang aku cuma nulis quote bagus yang ku temuin di Instagram, as a reminder aja gitu.

Semoga tulisanku kali ini cukup membantu temen-temen yang penasaran akan journaling, ya. Atau kalau ada yang suka journaling juga, boleh banget share pengalamannya di comment section, siapa tau menambah insight untukku dan yang lainnya. I would always love to learn anything from anyone!

See you on the next post 💕

On Maintaining Friendship

adult-bar-blur-696218

It’s been so long since the last time I had a meaningful conversation with my friends, especially the ones I used to be close with. I’m not gonna play victim and act as if they treated me so bad and left me behind. In fact, I’ve been acting distant lately, and perhaps so have they. It’s safe to say that I have no faintest idea of how they’re doing if it’s not with the help of Instagram and Twitter. Social media indeed has strange way of making us feel like we still know each other’s life when in reality we barely do anymore.

To begin with, in the past several months I haven’t reached out to some of my friends and haven’t replied to their messages to the point where they might assume I ignored them on purpose. Maybe in a way, I did, but not to all of them. I’m a horrible friend and seriously screwed up. I’m really sorry for that. I’m sorry that things haven’t been so great lately. I might come off as uncaring and selfish. I won’t be surprised if some of them no longer consider me as their friends. I get it. I can’t expect anyone to stick by me when I don’t do my best to keep in touch with them and give them the attention they deserve to get.

Friendships are fragile and require active maintenance, or they’ll die. I guess I’ve let it happen more than once. I started to read some articles about how to maintain a friendship so maybe I can still save the remaining friends that I think I still have. Keeping in touch is said to be the fundamental aspect of it, especially when it comes to maintaining a long lasting friendship. It sounds pretty doable though, but I don’t know how to do it. The people I’ve been best friends with until now are the kind of low maintenance friends, and I’m also a low maintenance friend. We don’t always talk to each other every day. We could go months without seeing each other. But we always give the reassurance that we still have each other.

As a trash texter with mild depression, it’s hard to imagine what I have to do to keep the friendship alive when the very basic thing like reaching out to friends, responding back to their messages, or making phone calls can feel so overwhelming sometimes. My close friends came from various background with various upbringing. Each of them carries different set of personality. I have friend whom I can do crazy things together, and I have friends whom I can sit for hours doing nothing but enjoying each other’s company while telling about our secrets. As much as they seem to be diametrically oppisosite, they’re very understanding towards my habit. They never call me out for being not fun when I’m not really up to do anything. That’s the kind of friends that I need in my 20s. I’m only two years away from quarter life crisis so I’m constantly trying to avoid the gravity to fall into it while preparing myself for the probability of experiencing it. No wonder I’m always exhausted.

Talking to my friends has tremendous benefits for my health and psychological well being, as well as broaden my knowledge and perspective. But the crux of the matter is, what kind of friends? Obviously not the ones who drain my energy, make me feel uncomfortable, guilty, insecure, and remind me of all the things I don’t want to be associated with anymore. Even though I’ve forgotten about why I stopped talking to certain people, not all of it was due to some major or minor problems. Sometimes it just happened. We lost the interest to continue the conversation, we started to reply a little longer than usual and finally we never heard anything from each other until our birthday –if we both happened to know each other’s birthday and remember it.

Humans are changing throughout life. The friends you used to do crazy things together apparently have changed and no longer into it. They friends you used to see eye to eye might no longer be on the same page as you about everything, or no longer share the same interest, value, and point of view, which later cause the friendship to be no longer enjoyable. The friends whom you used to stay up late with and talk about everything became person you no longer feel comfortable to spill your guts to.

After witnessing the end of my friendship with a few people, I came to realization that not all friendships are meant to last forever, no matter how good it used to be. Sometimes things are better left as mere memories. We aren’t meant to keep every friend we make, sometimes their chapter in your life is done because they only belong to certain version of yourself. Maybe someday they will end up showing up again in another chapters of your life.

Sakit, Lupa Bawa Dompet, dan Kehabisan Pulsa, Kuota Internet, dan Saldo Gopay

Jumat sore kemarin akhirnya aku beli kartu baru buat internetan. Terakhir beli mungkin sekitar 6 bulan yang lalu, itu pun terpaksa karena lagi ada kerjaan di daerah yang susah sinyal dan sialnya providerku ga ada sinyal sama sekali. Selama hampir dua tahun belakangan aku pake hotspot tetangga, jadi ga ngerasa perlu-perlu amat buang-buang duit buat beli paket internet. Pokoknya kebutuhan akan internetku udah terpenuhi dari sini. Ber season season serial TV favoritku dan ber album-album band favoritku berhasil nangkring di laptop ini atas jasa hotspot tetangga ini. Mana gretong pula woy!! Asik bet lah pokoknya!! Ya biarpun kehalalannya masih diragukan sih karena aku minta username dan passwordnya dari anak tetangga yang pake internet ini juga ehehe. Pokoknya ini adalah nikmat Tuhan yang patut disyukuri. Sebagai sobat qismin, ini semua sangat membantu dari segi finansial.

Sekitar awal Februari kemarin, pas aku ngeposting writing challenge hari ke dua, koneksi internet masih aman-aman aja. Bahkan jam 11 malam aku masih sempet dengerin lagu di Spotify sebelum tidur. Tapi entah kenapa jam 3 pagi aku kebangun terus udah gabisa log in ke hotspot tetangga. Aku pikir lagi error, karena emang kadang sering kayak gitu, tapi palingan ntar siang udah bisa dipake lagi. Yaudah paginya aku paketin internet aja pake pulsa karena emang harus pesen gojek buat berangkat ke kantor. Kalo pulangnya kan emang bisa pake wifi sana.

Hari-hari berikutnya internet tetangga tetep gabisa dipake. Akhirnya aku berniat nanya ke anak tetangga yang dulu ngasih username dan password. Dan ternyata dia selama ini juga ga langgangan!! Dia dikasih passwordnya sama penjaga warung yang kerja di penyedia hotspot ini. Wah kacau ini mah. Kaga bisa pake hotspot tetangga lagi –secara haram.

Sejak ga ada hotspot tetangga hidupku mulai berubah. Ga ada lagi yang namanya nontonin ulang video review makeup dan skincarenya Suhay Salim. Ga ada lagi yang namanya nontonin drum cover pas lagi bosen. Ga ada lagi nontonin videonya brain craft dan SciShow. Kudu nungguin jam 1 malam buat nontonin itu semua, soalnya cuma kuota malamku yang berlimpah ruah. Sejak saat itu aku jadi boros beli pulsa buat internetan. Ini benar-benar berdampak pada perekonomian keluarga. Keluargaku terancam kelaparan gara-gara duitnya pada dipake buat beli pulsa terus. Dan begonya, sampai detik itu aku masih belom kepikiran buat beli kartu baru dengan kuota yang besar biar ga boros pulsa. Sampai akhirnya, beberapa moment menyebalkan yang terjadi minggu ini bikin aku berpikir ulang tentang semuanya.

Moment menyebalkan itu terjadi hari rabu kemarin. Jadi sehari sebelumnya, sekitar selasa sore paket internetku abis. Aku males maketin internet karena pas itu badanku lagi gaenak dan aku pengen istirahat tanpa tergoda internetan. Kalo ada paket pasti jatohnya malah blogwalking kemana-mana. Baru sekitar rabu sore aku maketin internet karena takut ada yang nyariin. PADAHAL MAH GA ADA. Beberapa menit awal hapeku berisik banget sama notif dari whatsapp, line, IG, wordpress, dan email. Pas udah agak tenang akhirnya aku check satu per satu dan ternyata ada email penting tentang program yang pengen aku ikutin yang seharusnya aku baca sejak hari selasa malam. Isinya adalah pemberitahuan interview yang diadain hari rabu siang. Alhasil aku ga dateng, lha emailnya aja baru tak baca menjelang maghrib. Untungnya aku punya kontak whatsapp pengirim email dan tenyata masih dibolehin ikut interview hari kamis jam 9.

Hari kamis pagi, ternyata paket internetku abis karena pas hari rabu sore itu aku cuma maketin 200 MB doang dan udah abis buat nontonin IG story orang-orang. Kampret, gapenting banget. Tapi aku juga update story deng, ehe. Yaudah lah ya, paginya aku paketin lagi karena harus pesen gojek. Dengan bodohnya aku maketin internet 2 kali karena first attempt pulsaku belom kepotong kepotong. Ku kira lagi error kan karena sebelumnya sampai jam 7 pagi emang aku gabisa ngecheck pulsa dan maketin internet. Baru jam setengah 8an aku bisa maketin internet. Karena yang pertama gagal, dengan sotoynya aku maketin lagi beberapa menit kemudian. Tiba tiba pas ada pemberitahuan ternyata aku keitung maketin dua kali. Goodbye my friend. Pulsa terakhirku langsung abis, tinggal 500 perak apa ya.

Aku ga nyangka moment sesepele maketin internet 2 kali bisa bikin aku sesusah itu dikemudian hari. Malam kamisnya, aku dapet pemberitauan interview hari Jumat jam 9. Ini beda sama interview yang kemaren yak. Yaudah lah aku bales kalo aku bakal datang sesuai waktu yang ditentukan. Paginya aku inget sih kalo paket internetku bakal abis pagi ini jam 7 lebih karena emang masa aktifnya cuma 24 jam. Niatnya bakal beli pulsa abis interview aja, soalnya kadang konter pulsa deket rumah baru buka jam 9an. Toh interview gabutuh hape kan, pikirku. Eeeh pas sampe tempatnya ternyata ada semacam psikotest dulu gitu, ngerjainnya suruh lewat hape aja. Mas nya nyodorin secarik kertas berisi username sama password buat log in ke halaman testnya sambil bilang “internet hapenya bisa kan?”. Berhubung aku lagi ga fokus, aku cuma jawab “iya mas”. Aku nangkepnya secarik kertas itu isinya password buat log in ke wifi mereka. Setelah beberapa detik aku liatin, terus aku baru sadar kalo itu bukan password buat wifi. Terus aku bingung lah ya,soalnya mas masnya udah menghilang entah kemana. Lah, terus gimana ngerjainnya?!

Beberapa detik berlalu dengan percuma. Kertasnya kupantengin dengan harapan ada password wifi juga yang tertulis disitu. YA JELAS KAGA ADA LAH. Daripada ga ngerjain akhirnya aku coba ngetok ruangan sebelah, soalnya pas awal datang masnya keluar dari ruangan itu. Eee rejeki anak solehah, alhamdulillah mas nya ada. Abis itu langsung aja aku bilang “mas maaf ternyata hape saya ga ada kuotanya”, untung mas nya dengan baik ngejawab “oh yaudah pake wifi aja”. Alhamdulillah bisa ngerjain testnya, tapi sebelumnya balesin beberapa whatsapp dulu hehehe.

Setelah test selesei, akhirnya aku langsung interview. Pokoknya kelar kelar jam setengah 12an. Aku pengen langsung pulang karena emang lagi gaenak badan. Waktu hari selasa kan cuma gaenak badan, nah rabu malamnya itu aku mulai demam, muntah muntah, dan sakit perut. Masih untung hari kamis kemarin bisa nyempetin interview. Intinya di hari jumat itu aku pengen cepet-cepet sampe rumah soalnya takut sakit perut atau muntah di jalan. Sempet kepikiran mau order gojek aja, tapi gopay ku abis dan aku ga bawa uang cash banyak. DAN GA BAWA DOMPET PULA KARENA AKU BAWA TAS YANG BERBEDA DENGAN TAS YANG AKU BAWA WAKTU INTERVIEW HARI KAMIS. Aku juga ga yakin sih di dompetku yang ketinggalan ada duit cash dalam jumlah besar, soalnya kemarin kamis abis interview aku langsung buru buru pulang dan ga mampir ke ATM. Aku sih gapapa ga bawa dompet selama ada kuota internet, pulsa, atau minimal saldo gopay. Soalnya biasanya aku tetep bawa uang pecahan di pouch kecil yang biasa dipake buat naro kembalian. Masalahnya kali ini tiga tiganya abis semua dan duit receh di dalam pouch cuma 20ribu. Yang 1500 ku pakai fotocopy, dan yang 3500 akhirya ku pake bayar trans untuk pulang. Untung halte trans nya deket sama tempat interviewnya, cuma harus jalan gasampe 100 M. Sebelum naik trans, aku sempet kepikiran mau ke alfamart dulu isi pulsa. Tapi harus jalan agak jauh. Ah yaudahlah ntar turun dari trans di Lapangan Kasihan kan ada alfamart dan banyak konter pulsa juga.

Di dalem trans aku ngecheckin hape mulu. Sok sibuk abis, biar kayak ada yang ngehubungin, padahal mah liatin meme yang ku panen dari thread twitter orang-orang, sambil sesekali mikir “wah udah mau mulai jumatan nih, nanti agak lama ga ya dapet driver gojek ngga ya?”. Btw, dari halte trans ke rumah jaraknya sekitar 2 KM an jadi emang harus ngegojek dulu. Jalan gapapa sih, jaman SMP aku biasanya jalan kaki rame rame. Tapi sekarang kan aku sendirian, lagi sakit pula. Kalo pingsan siapa yang mau nyeret sampe rumah?

Pas udah nyampe di halte tujuan, aku langsung menyadari kalo konter pulsanya tutup. Mampus, lagi pada jumatan apa yak mas mas konternya? Yaudahlah ke alfamart aja. Btw itu posisinya duitku tinggal 15000. Niatnya, yang 6000 mau ku pakai untuk naik gojek. Yang 6500 mau ku pake isi pulsa. Sisanya terserah dah mau buat apaan. Pas lagi muter-muter di dalem alfamart, aku tergoda beli makanan. Kebiasaan emang kudu muter-muter dulu terutama ke bagian per chitatoan dan per parfuman biarpun udah tau kaga bakal beli, orang duitnya ga cukup juga wkwk sedih amat. Masa iya ngutang. Yaudahlah aku beli mie rebus seharga 2200 sama beli pulsa aja. Pas sampe kasir buat bayar mie dan beli pulsa, ternyata kata mas nya “MAAF LAGI GABISA ISI PULSA MBAK”. BUSEETTT GIMANA PULANGNYA WOY. Mie nya tetep ku beli sih, ya masa iya dibalikin, biarpun sebenernya seketika itu juga langsung ga nafsu makan mie.

Aku keluar alfamart dengan tampang cemberut. Disekitar bener-bener lagi ga ada konter pulsa men!! Gimana kaga cemberut. Aku udah coba jalan tapi ga nemu nemu konter pulsa. Mungkin kalo aku maksain jalan agak jauh bakal nemu, tapi siang itu cuacanya lagi panas banget dan badanku lagi gak mendukung buat jalan jauh. Yaudahlah aku nyari tempat duduk aja buat sms ayah minta jemput. Akhirnya aku nemu tukang es coklat dan mengikhlaskan uang yang semula untuk beli pulsa dipake untuk beli es coklat. Udah rejeki mba mba es coklatnya kali ya.

Jadi setelah beli es coklat itu sisa uangku tinggal 6800. Oke ini buat naik gojek cukup sih, tapi pake apa ordernya???? Hmm. Sambil mikir akhirnya aku nulis sms dulu buat ayah yang isinya “yah pulang dari kampus jam berapa? abis jumatan langsung pulang aja dong, kuota dan pulsaku abis, konter pulsa pada tutup semua, alfamart juga lagi gabisa isi pulsa, gopayku kemarin abis lupa diisi, please ya aku nungguin di es coklat sebrang halte takut keburu pingsan”. Sms nya ga langsung aku kirim sih, soalnya aku masih menimbang-nimbang kira-kira siapa yang bisa ku mintain tolong tanpa nunggu lama. Ayah pasti masih jumatan dan jarak dari kampusnya ke tempat aku nunggu mungkin 30 menitan, yang ada aku keburu pingsan. Siapa tau ada orang yang baik hati disekitar situ yang dihapenya ada aplikasi gojek dan mau dimintain tolong orderin gojek dari hapenya. Atau ada yang berbaik hati mau tetheringin.

Kebetulan banget mba mba penjual es coklatnya daritadi mainan hape mulu. Aku samperin aja dan nanya “mba, maaf, ada aplikasi gojek ngga dihapenya?” terus dia bilang “wah gapunya e mba. Kenapa memangnya?”. Untung banget mbaknya nanyain kenapa, jadi aku ada kesempatan untuk ngejelasin kalo aku mau order gojek tapi kuotaku abis dan ga ada konter yang buka. Emang penting sih untuk selalu nanyain “memangnya kenapa?” ketika ada orang nanya sesuatu, kalo gabisa jangan cuma sekedar jawab “engga”. Akhirnya mba ini berbaik hati mau tetheringin hapenya :”) alhamdulillah bisa pulang yeaaaay!!!!

Pas pak gojeknya dateng, aku bilang makasih lagi ke mbaknya karena udah menyelamatkan hidupku. Sebelum naik, duit 6000 buat ongkos udah aku masukin ke saku celana biar ga ribet ngobrak abrik isi tas. Sepanjang perjalanan ga banyak ngbrol sih sama pak gojeknya. Tiba tiba udah mau sampe rumah aja pokoknya. Nah pas udah mau deket, aku raba-raba saku celana buat mastiin keberadaan duitnya. Pas aku pegang, kok duitnya dikit ya? Pas aku itung lagi kok ternyata cuma 4000. Padahal aku yakin banget yang ku masukin beneran 6000. Dua rebuan tiga lembar. Asli. Ga boong. Ya Allah tu duit pake acara ilang segala sih. Terbang kali ya? Huaaaaa 😦

Gara-gara ribet nyariin duit di saku celana, ehhh malah jadi lupa nyuruh berhenti ke pak gojeknya dan akhirnya kebablasan. Puter balik pak, puter balik! Pas lagi puter balik pun aku sibuk nyariin lagi duit di tas, eeeeh kebablasan lagi. Akhirnya puter balik untuk kedua kalinya dan aku minta turun di warung sebelah rumah. Aku langsung ke warung bu Indro dan minjem duit 2000 buat nambahin bayar gojeknya soalnya di dompet yang ketinggalan di rumah emang ga ada uang kecil seingetku. Dan pas ku check ternyata emang ga ada uang karena aku adalah tipe anak yang baru ambil duit kalo pas mau pergi. Ya masa pa gojeknya ku suruh anter ke ATM dulu kan gamungkin. Ya Allah kenapa hari ini gini amat sih.. 😦

adult-alone-autumn-262075

Sampe rumah aku langsung bersih-bersih dan masak mie. Karna berhasil sampe rumah dengan selamat, jadinya aku mau makan mie nya ehehe. Untungnya ga lama kemudian ayah dateng, jadi aku bisa langsung nyeritain semuanya dari awal ampe akhir. Ampe keselek pas lagi makan mie gara-gara ketawa mulu. Ayah juga cuma ngakak sambil ngepuk puk kepalaku dan bilang “yaudah nanti sore beli kartu baru aja dek yang kuotanya gede”. Yeay ayahku emang pengertian.

Mungkin ini hukuman atas dosa yang kuperbuat selama dua taun belakangan ini, pake hotspot tetangga secara gretongan padahal harusnya langganan. Kenapa kok ga langganan? Hmm ya karena aku dan ayahku sama-sama mager buat bilang ke tetangganya. Gajelas banget emang kita.

Semoga ga ada lagi rentetan kejadian menyebalkan kayak gini dikemudian hari.

The Liebster Award

more-flowers.png

Two months ago, Sunny Irene from suncafes nominated my blog for the Liebster Award. I’m sorry it took me so long to response to it since I wasn’t really sure whether I’d love to do this kind post or not. But seeing all her questions intrigued me to give it a try. This is the very first award that my blog has ever been nominated for, so thank you very much for choosing me to be one of the nominees. Make sure to check her blog as soon as you’re done reading this post. Before writing this post, I did a little research about this award and stumbled upon The Global Aussie blog. According to it, the Liebster Awards is an award given to bloggers by other bloggers to give other blogs more exposure to the internet. I just knew that there’s a winner of it (they said the winning blog would win a prize too, hmm sounds interesting). The rules of this award are:

  1. Acknowledge the blog who nominated you;
  2. Answer the 11 questions that your nominator has asked you;
  3. Nominate 11 other bloggers;
  4. Ask them 11 questions;
  5. Let them know that you have nominated them.

And here are my answers to her questions:

  1. How long have you been blogging? – I’ve been blogging on and off since high school, switching from one account to another, trying various platforms from blogspot to tumblr, and now to wordpress. But my current blog is my first blog that I take care quite seriously and it has been a year and three months, which is quite an accomplishment for me since my previous blogs only lasted for less than six months.
  2. What do you spend waaaay too much money on? – Foods (especially spicy chicken wings!!), makeups, and skincare. But mostly chicken wings because I’m hungry all the time and I eat like a horse.
  3. What is a fun fact about you? – It might sound stupid but I’m having difficulty in remembering routes and places. I wouldn’t be surprised if I couldn’t find my way back to the main road after going to my friend’s place –if it’s not located in the main road, even if I’ve visited it for more than three times. I can get a perfect GPA but I can’t be trusted to help you reach somewhere, unless you don’t mind to get lost with me. It can be pretty embarrassing sometimes. If anyone here have any tips for me please let me know.
  4. Where is a place you escape to? – Beach! Since my home is only 50 minutes away from the nearest beach.
  5. What is something you have been aiming to try or do but have not gotten around to it? – Learning to play drums! I hope I’m not old enough for this. As much as I love drummers (yeah I have drummer fettish), I’d love to be able to play it by myself –and meet the cool drummers as well! 😉
  6. Do you like your name? Why or why not? – Yes, I do. Very much. Despite the fact that million of people named Nadya as well. In Russian, it means hope. My friends believe that it has something to do with my bad habit that is giving false hope to some guys. And also, I love the definition of my name that I found on urbandictionary!kkkkkkk
  7. As you get older, what are you becoming more and more afraid of? – Sinking into oblivion and leading a rootless existence.
  8. Do you have a favorite sports team? – Ummm no, I don’t. I don’t really like sports either.
  9. You wake up suddenly in the night. What sound would be the scariest to hear after you realize you are awake? – The sound of dog’s late night barking. Many dog owners said that dogs could sense the supernatural so it’s kind of scared to imagine what kind of creature that it saw. But again, dogs will start barking at things that they find unusual so it doesn’t always mean there is a ghost or something. But I’m still scared, though.
  10. What is your favorite type of cuisine? – Indonesian food ❤
  11. Give a title for the current chapter of you life. – Self discovery

Now that I’m done answering 11 questions, it’s my turn to nominate 11 other blogs. I know not everyone likes to do this so it’s ok if you choose not to take it. And the nominees are:

Here are my questions for you:

  1. Why did you start blogging?
  2. How long have you been blogging and what has kept you going until now?
  3. Do you honestly read every post that you like?
  4. If you could change one thing about yourself, what would it be?
  5. What is one interesting fact about you?
  6. Do you want to be famous? Why or why not?
  7. If you could travel anywhere in the world where would you go and why?
  8. Do you have any hidden talents? If so, what?
  9. What’s your idea of a perfect date?
  10. What is your favorite way to relax?
  11. To what extent do you trust people?

I’m so sorry if any of you have been nominated before. Please let me know once you’ve answered my questions so I can check them out.

A Quote I Try to Live by: Verily, with Every Difficulty, There is Relief

It’s only day-3 and I already messed up this challenge by not writing in the past 6 days. I tried to write when I was on my way back to home from work but always failed, either because I fell asleep along the way on Trans Jogja, or because the situation didn’t make it possible for me to write. And when I reached home, I always got sidetracked doing other things like cooking, gossiping with my dad, or complaining about how my neighbor changed his hotspot username and password so I can’t use it for free anymore. But now that I don’t have to go to work, I have enough time to catch up. Well, it’s not really catching up if I only write one post per day –if I could do that, though.

Well now let’s get cracking with this job.

Have you ever experienced a time when everything doesn’t seem to go your way? When you go through one bad thing after another, and everything seems to go wrong no matter what you do to fix them? Well you’re not alone, then. Bad things happen to everyone. For me and my dad, that time was last month. It was a pretty tough month for both of us, where our patience and sincerity were being tested. While my dad remained calm and patient, I was the one who *sort of* lost control. Instead of being mad at me for cursing a lot, my dad tried to calm me, because he knew how disappointed I was at that time. He just told me not to hate someone that much, and to always remember their kindness and forgive their mistake. He convinced me that we would be okay, we’re gonna find a way out of this difficulty, Allah will help us, and we could get through this together. 

24125675_298485690641520_6896790249771368448_n

How my dad deals with every problem always reminds me of one verse in Quran “verily, with every difficulty, there is relief”. It is the 5th verse from Surah Al-Inshirah. One of the most beautiful verses in the Quran and maybe one of the most widely shared verse on the Internet. It gives a message of hope and encouragement, and makes me more positive and not easily discouraged whenever I’m facing a problem. It’s like a reminder for me that there is always a solution for any problem that we might face, and compared to Allah’s Mercy all our difficulties and problems are tiny. With that being said, that verse automatically becomes a quote that I try to live by.

You may feel like you’re going through your difficulties all alone, but Allah will always be by your side. Hang in there. The promise of Allah is true. After all, with every difficulty, there is relief.