Review Produk Terbaru Scarlett Whitening Body Care

Haloo! Yaampun udah lama banget ga nulis di blog ini. Apa kabar kalian? Pandemi bikin aku gapunya kegiatan outdoor yang menarik buat dibahas, nih. It’s even safe to say that 95% waktuku dihabisin di rumah doang untuk beberes, makan, gegoleran, journaling, nungguin suami pulang *eeeh apa? apaaa??? suami? hahaha* dan juga merawat badan tentunya hehehe lumayan kan mumpung kulit lagi ga sering kena paparan sinar matahari (kecuali waktu berjemur) dan polusi, jadi kita bisa ngerawat kulit dengan optimal.

Kali ini aku mau bahas salah satu produk yang aku gunakan selama berdiam di rumah, yakni Scarlett Whitening. Sebenarnya aku udah lama banget sih pakai rangkaian produk Scarlett. Secara ya mereka banyak banget yang pakai dan influencer di Instagram pun pada pakai juga, jadi aku ikut teracuni gitu. Bahkan diseserahan nikahanku February lalu pun aku masukin produk di dalamnya, sekalian nyetok gitu wkwkwk.

Scarlett Whitening Body Care juga punya banyak varian. Bahkan tiap repuchase aku suka coba varian lainnya karena penasaran sama wanginya. So far, selalu amaze sih sama wanginya! Nah sekarang aku mau review varian terbaru dari rangkaian body care mereka yaitu Scarlett Body Scrub Coffee, Scarlett Brightening Shower Scrub Coffee, dan Scarlett Fragrance Body Lotion Jolly. Kalian pasti udah sering liat varian baru ini di Instagram kalian kan?

Varian terbaru dari rangkaian Scarlett Body Care

Sebelum masuk ke review per produknya, aku mau infoin juga kalo produk bodycare dari Scarlett Whitening ini udah registered by BPOM RInot tested on animals, dan udah dapat sertifikat halal dari MUI. Selain itu, produk mereka juga aman dipakai oleh ibu hamil dan menyusui loh! Tapi kalau kalian masih ragu, silahkan konsultasikan dulu ke dokter kandungan masing-masing ya! Aku sih sampai sekarang lagi hamil 6 bulan pun masih terus pakai produk mereka.

Scarlett Body Scrub Coffee

Scarlett Body Scrub Coffee

Kalian masih inget aroma coffee yang kecium kalo masuk ke mall gak sih? Nah Scarlett Body Scrub Coffee ini wanginya mirip kayak gitu. Pokoknya kayak aroma coffee yang enak, manis, tapi ngga bikin eneg. Selain wanginya yang enak, kandungan didalamnya juga bagus buat kulit, yakni Glutathione dan Vit E yang bermanfaat untuk membantu mengangkat sel-sel kulit mati, mengembalikan kelembaban kulit, mencerahkan kulit, melancarkan peredaran aliran darah, sebagai sarana untuk rileksasi tubuh, membantu meregenerasi kulit setelah eksfoliasi, dan meningkatkan kadar hidrasi yang dibutuhkan kulit tubuh.

Dari segi packaging, Scarlett Body Scrub Coffee ini mirip sama varian lain sih, cuman ini jarnya warna coklat transparan. Ketika tutupnya dibuka, terdapat segel yang menandakan kalau produk masih baru. Dengan harga 75ribu untuk isi 250 gram, ini termasuk affordable banget sih untuk isi sebanyak ini.

Dari segi tekstur, dia cukup creamy dan bulir scrubnya juga tergolong halus, jadi nggak harsh buat kulit. Warna scrubnya sendiri agak kecoklatan, beneran kayak bulir coffee gitu. Aku pake body scrub ini nggak tiap hari ya, tapi 2 hari sekali aja. Itu udah cukup untuk bikin kulit kalian jadi halus dan nggak kasar lagi. Untuk hasil cerah yang permanen, kalian bisa gunakan Scarlett Body Scrub ini secara teratur dan konsisten.

Scarlett Brightening Shower Scrub Coffee

Scarlett Brightening Shower Scrub Coffee

Setelah pakai body scrubnya, aku lanjut pakai Scarlett Brightening Shower Scrub Coffee. Ibaratnya double cleansing badan setelah pakai body scrubnya gitu. Wangi kopinya juga enak dan relaxing banget. Kadungan dari Scarlett Brightening Shower Scrub Coffee yakni Glutathione + Vitamin E + Beads yang bermanfaat untuk membantu memaksimalkan saat membersihkan tubuh, mengangkat sel-sel kulit mati pada kulit tubuh, membuat kulit jadi lebih halus setelah eksfoliasi, membantu mengembalikkan kelembaban kulit, dan membantu mencerahkan kulit tubuh.

Untuk packagingnya, mereka pakai botol transparan dengan tutup fliptop, jadi kalian bisa liat dengan jelas produk didalamnya. Pada bagian belakang botol tercantum keterangan produk, cara pemakaian, kode produksi dan ingredientsnya. Dengan isi 300 ml dan harga 75ribu, produk ini lumayan awet loh walaupun dipakai setiap hari. Apalagi kalo mandinya pakai shower puff, pakai sedikit aja busanya bisa jadi banyak.

Tekstur Scarlett Brightening Shower Scrub ini kental dan berwarna coklat dan terdapat buliran scrub berwarna-warni. Bulir scrubnya juga masih mild, jadi nggak melukai kulit. Dan karena ini sama aja kayak sabun mandi, jadi aman-aman aja kalau dipakai setiap hari.

Tekstur Scarlett Brightening Shower Scrub Coffee

Yang aku suka dari shower scrub ini adalah setelah dibilas dia ngga begitu licin di kulit, jadi gampang dibilasnya. Setelah ngeringin badanpun kulit tetep terasa lembab dan halus. Overall, aku suka banget sama shower scrub ini karena wanginya enak dan tahan lama.

Scarlett Fragrance Brightening Body Lotion Jolly

Dari semua produk baru Scarlett, lotion varian Jolly ini adalah yang pertama aku beli. Pas varian ini launching, aku langsung penasaran banget karena wanginya terinspirasi dari wangi parfum mahal yakni YSL yang Black Opium. Setelah aku cobain emang bener sih wanginya enak bangeeett. Kandungan dari Scarlett Fragrance Brightening Body Lotion Jolly ini yakni Glutathione + Vitamin E + Kojic Acid + Niacinamide yang bermanfaat untuk membantu mengembalikan kelembaban kulit, membantu mecerahkan kulit, dan menyegarkan dan memberi keharuman tahan lama.

Scarlett Fragrance Brightening Body Lotion Jolly

Packaging Scarlett Body Lotion ini berupa botol pump. Botolnya sendiri juga aman karena ada lock-unlocknya, jadi gabakal takut tumpah, bocor, atau kepencet. Selain itu, pumpnya juga dilengkapi dengan klip segel yang bisa digunakan sebagai pengunci pumpnya biar lebih aman untuk dibawa kemana-mana. Dengan harga 75ribu dan isi 300 ml, lotion ini beneran seawet itu sih. Aku udah cobain dari beberapa bulan yang lalu pun masih ga abis-abis. Kapan lagi kan yaa bisa ngerasain pakai lotion dengan aroma parfum mahal dengan harga yang terjangkau.

Tekstur Scarlett Fragrance Brightening Body Lotion Jolly ini termasuk thick, mirip whipcream tapi gak lengket, dan cepat meresap di kulit. Lotion ini lumayan instant dalam mencerahkan, tapi gak kayak lotion abal-abal ya. Cerahnya masih natural dan gak bikin jadi abu-abu. So far aku masih nyetok 2 lotion Jolly dan 1 lotion Charming, masih aman lah ya stockku~~~

Verdict

Dari ketiga produk barunya, aku suka banget sama semuanya, gak ada minusnya sih bagiku dari segi kualitas produknya. Body scrubnya enak banget, shower scrubnya juga enak. Lotionnya juga juara. Repurchase? Yes! Kudu banget selalu ada stock Scarlett di rumah.

Where to Buy 

Produk Scarlett ini gampang kalian dapetin. Di Toko kosmetik di kota kalian juga pasti udah ada. Kalau mau beli online bisa langsung check online store @scarlett_whitening, atau order melalui whatsapp di nomer 087700163000 atau dm instagram @scarlett_whitening.

Ada yang udah cobain juga? Atau malah masih maju mundur buat cobain? Yuk yuk langsung check online storenya siapa tau ada diskon menarik!

Cara Membuat Leather Notebook Cover a la Traveler’s Notebook

Choosing the right notebook isn’t an easy thing to do for me. In fact it’s been such a pain in the neck since I’m quite picky when it comes to this. Sometimes the size is either too big or too small. Sometimes I simply hate its page layout, rulings, and binding method. And sometimes its cover simply doesn’t suit me. Ribet banget ya aing jadi jelma teh? But lucky me, in early 2016 I stumbled upon a very impressive Instagram account who regularly shares her journaling activities with her Midori Traveler’s Notebook; which made me fall in love right away! ♡♡

Kalau misal kalian belum tau, Midori Traveler’s Notebook is a notebook which consists of a leather cover and an elastic cord. What makes it special is its flexibility which allows you to place multiple books/inserts at once. Last time I checked, the price  for the official Midori leather cover from JetPens was around $46.50, way too pricey just for a notebook, regardless of what it’s made of. To get around this, yours truly finally decided to turn it into a DIY project with whatever materials I have on hand. Aku udah pernah bikin ini di tahun 2016, tapi beberapa waktu lalu pas aku update soal ini di Instagram Story ada yang minta tutorialnya, jadi aku bikin lagi dan kebetulan emang bahannya lagi ada.

Alat dan Bahan untuk Membuat Leather Cover Traveler’s Notebook

Berikut adalah alat dan bahan yang harus kalian siapin untuk bikin leather cover a la midori traveler’s notebook, kebetulan disini aku pake seadanya yang kebetulan kutemuin di rumah:

Processed with VSCO with a6 preset
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat leather cover traveler’s notebook

  • Leather, atau bahan apapun sesuai preferensi kalian. Disini aku pakai artificial leather sisa bahan sandal, bukan kulit asli. Kalau mau beli bisa di toko bahan kulit.
  • Gunting/cutter
  • Penggaris
  • Pensil/pulpen untuk bikin pola
  • Paku/alat pembolong
  • Palu
  • Elastic cord. 1-2 meter should be enough. Ini juga bisa dibeli di toko bahan kulit

Baca juga: A Little Bit of Something that I Love: Postcards and Handwritten Letters

Gampang didapetin kan semua alat dan bahannya? Kalau udah siap semua, mari kita mulai proses pembuatan leather covernya.

Cara Membuat Leather Cover Traveler’s Notebook

1. Pertama-tama kita mulai dengan bikin pola pada bahan kulitnya. Ukuran cover yang mau ku buat yaitu 26,5 cm x 22 cm; mendekati ukuran reguler nya Midori. Pola keseluruhannya adalah seperti ini:

POLA COVER LEATHER-
Pola leather cover travaler’s notebook

Ukuran panjang dan lebarnya aku sesuaikan dengan ukuran buku yang nantinya akan ku pakai, disini aku pakai buku dengan ukuran 11 cm x 21 cm yang kubuat sendiri pakai kertas pilihanku. You need to ensure that the size of the leather bigger than the size of the notebook so the books don’t come out when folded. Kalau polanya udah jadi, tinggal kita gunting deh~

2. Setelah kita dapetin pola berukuran 26,5 cm x 22 cm, kita lanjut dengan bikin lubang untuk tali elastisnya, Disini aku bikin lubang sebanyak 5 buah. Kalian sebisa mungkin buat lubang pada posisi yang sesimetris mungkin. Aku biasanya mulai bikin lubang dari tengah dulu. Aku lebih suka mulai dengan bikin garis tengah secara vertikal, terus  aku cari titik tengahnya dan aku tandain lagi pakai pulen. Untuk memastikan kalau titik tengah kalian udah bener, coba lipat covernya jadi 2 bagian untuk ngeliat apakah titik itu udah bener bener ada ditengah lipatan. Kalau ternyata gak pas ditengah, digeser-geser lagi aja titiknya.

Processed with VSCO with a6 preset

Selanjutnya, kalian juga bikin tanda untuk masukin tali elastis bagian atas dan bawah. Aku biasanya ngasih jarak 1 cm dari bagian bawah dan bagian atas bahan kulitnya. Sedangkan antara lubang kanan dan kiri juga berjarak 1 cm atau 0,5 cm dari garis tengah untuk masing-masing lubang di kanan dan di kiri. Ngebingungin gaksih penjelasannya? Huhu I suck at explaining things.

Processed with VSCO with a6 preset

3. Setelah kalian nandain titik untuk bikin lubangnya, kita mulai proses melubangi titik titik tersebut dengan paku dan palu. Sebenernya ada alat khusus untuk ngebolongin bahan kulit kayak gini, cuman aku lupa naro alatnya, jadi aku ganti pakai paku aja walaupun paku ku kekecilan sebenernya.

Processed with VSCO with a6 preset

Kalian ngelubanginnya jangan ragu-ragu ya, pokoknya lubangin aja yang mantep karena ukuran tali elastisnya lumayan gede, daripada susah masukinnya. Btw pas bolongin kulitnya kalau bisa dikasih alas kayu ya, biar lebih gampang ngebolonginnya. Disini aku pakai talenan karena gapunya alas kayu yang lain wkwk.

Baca juga: Sending Postcard and Snail Mail; Revisiting Old Hobbies

4. Now it’s time to put the elastic cord in. Take a long enough piece of your preferred elastic cord and divided it into two parts. Di sini aku ngebagi talinya jadi ukuran 45 cm dan  55 cm. Aku mulai masukin tali elastis sepanjang 45 cm dan aku lipat jadi 2 ke kedalam lubang yang ada di tengah buku sebagai pengunci buku. Begini kurang lebih penampakan talinya ketika udah berhasil dimasukin lewat lubang yang tengah dari sisi dalam.

Processed with VSCO with a6 preset
tampak dalam

Processed with VSCO with a6 preset
tampak luar

Setelah tali berhasil dimasukkan, jangan lupa kita tali mati sisa tali yang ada di dalam cover, biar talinya ga lepas 🙂

Processed with VSCO with a6 preset

5. Setelah tali penguci buku terpasang, selanjutnya kita pasang tali yang digunakan untuk ngikat buku dibagian dalam. Step by step pemasangan talinya kurang lebih seperti ini:

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Untuk pemasangan talinya kurang lebih kayak gambar diatas ya, simple sekali bukan? Btw aku sengaja bikin 2 tali di dalamnya jadi bisa dimasukin 2 buku ke dalam 1 cover.

6. Kalau talinya udah terpasang, sekarang saatnya kita pasang insert/buku ke dalam cover leather yang udah kita bikin. Cuma tinggal diselipin aja talinya~~

Processed with VSCO with a6 preset
Cara pemasangan insert pertama ke dalam leather cover

Processed with VSCO with a6 preset
Cara pemasangan insert kedua ke dalam leather cover

Processed with VSCO with a6 preset

Yeay udah jadi deh leather notebook covernya. Btw ujung ujung covernya bisa kalian bikin melengkung atau mau tetep siku siku kayak punyaku ini. Aku sebenernya lebih suka yang ujungnya melengkung sih, cuma kemarin kelupaan belum bikin tapi udah terlanjur foto dan males foto ulang.

Processed with VSCO with a6 preset

Semoga tutorial –yang gak jelas– ini bisa bermanfaat untuk temen-temen yang pada mau bikin traveler’s notebook juga. Kalau ada yang udah pernah bikin DIY notebook jenis lain atau mungkin pakai midori yang asli, boleh loh share di kolom komen tentang kesan pesannya selama pakai Midori Traveler’s Notebook. I’d love to hear that!

Thank you! See you on the next post. ♡♡

Yours Truly Finally Made Her Own Postcards!

The thought that in a few months after all the painful hours I spent at work each day I’d be somewhere traveling for a few days is one of the things that keeps me going everyday. But due to the covid19 pandemic many plans got cancelled; now I’m even taking a month off of work. I guess what I need right now is pretty much something keep me occupied, or at least something fun to do during this stay-at-home period, just like everyone else on Instagram who seemed so busy doing their hobbies or learning new skills. And all this eventually led me to revisit an old hobby; sending postcard and snailmail. I know I still have to go out to the post office to send them but it’s only 500 meters from my house.

Processed with VSCO with a6 preset

It’s been some time since the last time I sent postcard and I rarely did the direct swap either. I pretty much didn’t stock up on the postcards to actually start sending one again, so I decided to make one with some photos taken by yours truly using analog cameras & mirrorless. Yayy! Another stuff to keep me occupied, plus..our photos don’t only end up on the gram.

Processed with VSCO with a6 preset
The postcards I made with photos from analog cameras

Processed with VSCO with a6 preset
The postcards I made with photos from mirrorless camera

To keep the postcards and other stuffs for snail mailing, I provide 2 boxes; one for the postcards (blank and incomings), snail mails, & handmade envelopes, while the other one is used to keep stamp supplies, washi tapes, image cutouts and whatnot. I know it’s not really much but it makes me easier to organise them rather than to put them in the same box.

Processed with VSCO with a6 preset
My blank postcard

Processed with VSCO with a6 preset
Handmade Envelope for Snail Mai

Processed with VSCO with a6 preset
Stamps, image cutouts, washi tapes, and vintage papers.

Anyway if you’re interested to swap your postcard with mine please let me know. Or if you want to send yours to me that would be great :3

You can see my postcards on my other instagram account created specially for postcard & snail mail thingy @kartuposnadya ♡♡

Nyobain Kamera Analog Cannonmate AF1000 + Film Kodak Color Plus 200

Ngga kerasa udah seminggu lebih aku work from home dan ngedekem di rumah. Selama itu pula aku sama ayah akhirnya berhasil beberes rumah dan buangin barang-barang yang udah ga kepake. Bahkan kita berhasil ngumpulin 131 kilogram kertas bekas untuk kita jual. Sayangnya uang hasil penjualannya langsung dirampas gitu aja sama adek. Nduwe adek kok koyo preman.

Processed with VSCO with a6 preset

Btw aku lagi ikut beberapa giveaway kamera analog di Instagram. Doain ya semoga menang lagi. So far aku baru menang 2 kali dari sekian belas giveaway yang aku ikutin. Kamera Nikon EF400SV yang kemarin udah ku publish adalah salah satunya. Nah mumpung lagi ada motivasi untuk nulis, jadi mari kita lanjutkan cerita tentang hasil giveaway berikutnya, yaitu kamera analog Cannonmate AF 1000.

Processed with VSCO with a6 preset
Cannonmate AF1000

Cannonmate AF 1000 ini adalah kamera hasil giveaway pertamaku. Sebenernya ada cerita yang cukup menggelikan dibalik giveaway yang sebenernya tidak aku ikuti tapi malah aku menangkan ini. Hloo hlooo kok bisaa? Haha ya gitudeh *yaelah nanggung amat ceritanya*. Btw awalnya ku pikir Cannonmate itu ya Canon lho, eh ternyata beda ya walaupun namanya mirip mirip?

Processed with VSCO with a6 preset
Box kamera Cannonmate AF1000

Processed with VSCO with a6 preset
Instructions book dan kartu garansi Cannonmate AF1000

Cannonmate AF 1000 yang kudapet ini kondisinya NOS (New Old Stock) alias barang baru tapi stock lama, biasanya sih mereka dapet dari toko yang udah tutup tapi masih punya stock kamera baru yang belum laku. Karena NOS, jadi kelengkapan kameranya masih yahuuud yaitu masih ada box, kartu garansi (walaupun udah gabisa dipakai), dan instruction booknya. Kondisi kameranya sendiri sih Alhamdulillah masih bagus. Body nya mulus, flash nyala, rewind aman, pokoknya fungsional semua. Cuma yang aku kurang suka adalah ukuran kamera ini cukup besar untuk kamera pocket. Bulky aja gitu. Nih ya bandingin sama kamera-kamera yang lain.

Processed with VSCO with a6 preset
Kamera Cannonmate AF1000 nya ada ditengah ya, dia paling gede dan tebel compared to others.

Aku nyobain kamera ini pakai film Kodak Color Plus 200, film sejuta umat yang sekarang harganya sudah tidak merakyat lagi huhuhu. Untuk bisa beroperasi kamera dengan motor drive ini membutuhkan 2 buah batre AA, jadi setelah kalian jepret, filmnya udah otomatis bergeser sendiri dan kalau misal udah mentok nanti tinggal geser tombol rewindnya dan filmnya udah tergulung sendiri ke dalam canister. Kamera point and shoot model gini nih yang aku suka soalnya ngga ribet.

Baca juga: Nyobain Kamera Analog Nikon EF400SV + Film Kodak Vision 3 500T

Selama di Jogja aku sempet bawa kamera ini waktu main ke Seribu Batu Songgolangit, Imogiri. Pas itu cuacanya agak mendung, tapi berhubung flashnya nyala jadinya gabegitu masalah. Kebetulan aku gabegitu banyak ngambil gambar karena, jadi aku cuma bisa nunjukin sedikit aja:

KODAK_GA200_0985_09

Untuk foto pertama, ini ngefotonya dari jarak jauh soalnya aku malu kalau harus mendekat wkwk jadi mohon maaf kalau ngeblur. Fotonya B aja sih ya, tapi masih okelah ya 🙂

Aku juga sempet bawa kamera ini pulang ke Tasik bulan February lalu, tapi sebagian besar hasilnya ga memuaskan karena lagi lagi LENSA KAMERANYA KETUTUPAN JARI AING ANJIR KESYEEL BANGET GAK TUH? Udah cape cape jalan kaki biar bisa hunting gataunya adaaaa aja jari yang nutupin sebagian lensa kameranya. Tulul. Tapi tetep akan aku post beberapa fotonya, sebagai pengingat agar next time lebih berhati-hati dalam motret.

KODAK_GA200_0985_16
Statsiun Lempuyangan, nunggu keretanya berenti, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk

KODAK_GA200_0985_18
Kereta di Stasiun lempuyangan, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk

KODAK_GA200_0985_23
Jl. HZ Mustofa di Tasikmalaya, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk

Huhuhu kesyel bange asli 😦 padahal pengen motret keadaan Kota Tasik sore-sore tapi malah hasilnya begini. Tapi masih bisa ditangkep lah ya suasana yang mau ditampilin difotonya? :((

Udahan dulu deh cerita kali ini, nanti aku bakal lanjut lagi nulis tentang kamera analog yang lainnya. Bye-bye ❤

Nyobain Kamera Analog Nikon EF400SV + Film Kodak Vision3 500T

Mumpung lagi mood, lanjut cerita-cerita soal kamera analog lagi yuk! Kamera yang ku pakai kali ini adalah Nikon EF400SV dengan film Kodak Vision 3 500T. Kamera ini aku dapat secara gratis dari giveaway yang diadain @ala.mandas di akun Instagramnya. Alhamdulillah ya bund, rezeki emang ga kemana. Pas lagi seneng-senengnya main kamera analog, eh dapet giveaway. Kalau misal ada diantara kalian yang mau beli kamera analog bisa check Instagram mereka ya. Kalau untuk roll filmnya ini dibeli di @35mm.rons atau di @anakanalog.yk juga bisa.

Ini adalah kali pertama aku nyobain kamera dari nikon, karena sebelumnya selalu pakai keluaran Fujifilm. Makanya pas tau kalau aku dapet giveaway kamera Nikon EF400SV, rasanya super excited buangeeeet buat nyobain!

Kira-kira begini tampilan dari kameranya:

Processed with VSCO with a6 preset
Nikon EF400SV

Dari segi tampilan, cantiq kayak aku dan menawan sekali bukan? Eh gimana sih harusnya kalo ngedeskripsiin kamera? Hahaha. Yaa pokoknya dia tuh bener-bener a pocket-sized point and shot camera yang super lightweight tapi nggak berasa ringkih. Kalau dibawa kemana-mana tuh praktis aja gitu, tinggal dikalungin biar seluruh dunia tau kalau kalian adalah anak antimainstream yang punya dan main kamera analog wkwkwk *gakdeng

Processed with VSCO with a6 preset
Tampak belakang dari Nikon EF400SV

First thing that I noticed ketika pertama pake adalah….wow view findernya gede juga dan bening abis, mantap buat ngeliat objek yang mau kita bidik. Terus, disebelah lensa Nikon 28mm nya ada tombol on-off untuk flashnya juga lho, tapi aku pribadi belum pernah ngotak atik tombolnya sih jadi flashnya selalu nyala. Oiya, kamera ini jenisnya otomatis dalam hal wind-and rewind, jadi kalau abis jepret langsung muter deh filmnya, dan kalau filmnya udah mentok/abis nanti otomatis ngerewind sendiri deh. Kamera ini membutuhkan 2 batre AA if you want to use it.

Baca juga: Nyobain Kamera Analog Fujifilm Axion + Film Fujicolor C200

Kayanya udah cukup ya soal kameranya? Makin panjang tulisannya kayaknya malah bikin makin keliatan kosong otaknya soal perkameraan.

Langsung aku liatin hasil fotonya ajalah ya. Foto foto ini adalah hasil hunting di area landasan pacu pantai depok, gumuk pasir, pantai tall wolu, dan juga pantai parangkusumo.

Ini salah satu foto favorit dari roll ini, soalnya pemandangan dan komposisi fotonya berasa pas aja gitu Yaelah tau apaansih nad soal komposisi foto wkwk bct.

KODAK_VISION_1281_09
Landasan pacu pantai depok, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Hasil foto mobil dengan background pantai ini adalah my most favorit. Hasilnya sesuai banget sama apa yang ada dibayanganku. Would be perfect kalau ngga ada orang dibelakang yang lagi duduk diatas motor. Tapi masih bisa di crop sih kalau mau.

KODAK_VISION_1281_12
Pantai apa ya duh lupa, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Nah kalau foto bapak-bapak dengan alat pancingnya ini sebenernya kayak agak nanggung karena beliau hanya kefoto separo, tapi aku suka liat gulungan ombak-ombaknya dan warna air lautnya jadi aku post saja hehehe

KODAK_VISION_1281_15
Pantai Parangkusumo, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Kalau lagi berdiri dipinggir pantai dan nungguin ombak datang, kalian suka liatin busa-busa yang muncul dari air lautnya gaksih? Kalau iya, berarti kita sama.  That’s why I took picture of it, cause I simply love it.

KODAK_VISION_1281_28
Sunset in Pantai Parangkusumo, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Yang terakhir ini adalah foto sunset di Pantai Parangkusumo sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku baru sadar kalau selama ini kayaknya aku jarang banget bahkan hampir gapernah nikmatin sunset di pantai. Ternyata secantik itu ya sunset di pantai 😦

Untuk beberapa waktu kedepan kayaknya aku ngga bakal hunting dulu, mengingat kondisi diluar saat ini masih belum aman. Semoga pandemi covid19 ini segera berakhir yaa. 

Oke deh, udahan dulu ya tulisan tentang Nikon Ef400SV nya. Sampai ketemu dipostingan selanjutnya. Bye bye.