Nyobain Kamera Analog Cannonmate AF1000 + Film Kodak Color Plus 200

Ngga kerasa udah seminggu lebih aku work from home dan ngedekem di rumah. Selama itu pula aku sama ayah akhirnya berhasil beberes rumah dan buangin barang-barang yang udah gakepake. Bahkan kita berhasil ngumpulin 131 kilogram kertas bekas untuk kita jual. Sayangnya uang hasil penjualannya langsung dirampas gitu aja sama adek. Jinguuukkk, nduwe adek kok koyo preman.

Processed with VSCO with a6 preset
Sebagian kecil dari tumpukan kertas di rumah

Btw aku lagi ikut beberapa giveaway kamera analog di Instagram. Doain ya semoga menang lagi. So far aku baru menang 2 kali dari sekian belas giveaway yang aku ikutin. Kamera Nikon EF400SV yang kemarin udah ku publish adalah salah satunya. Nah mumpung lagi ada motivasi untuk nulis, jadi mari kita lanjutkan cerita tentang hasil giveaway berikutnya, yaitu kamera analog Cannonmate AF 1000.

Processed with VSCO with a6 preset
Cannonmate AF1000

Cannonmate AF 1000 ini adalah kamera hasil giveaway pertamaku. Sebenernya ada cerita yang cukup menggelikan dibalik giveaway yang sebenernya tidak aku ikuti tapi malah aku menangkan ini. Hloo hlooo kok bisaa? Haha ya gitudeh *yaelah nanggung amat ceritanya*. Btw awalnya ku pikir Cannonmate itu ya Canon lho, eh ternyata beda ya walaupun namanya mirip mirip? Aku sering banget liat merk kamera ini bersliweran, ya 11 12 sama kamera Aikon dan Akica lah ya.

Processed with VSCO with a6 preset
Box kamera Cannonmate AF1000
Processed with VSCO with a6 preset
Instructions book dan kartu garansi Cannonmate AF1000

Cannonmate AF 1000 yang kudapet ini kondisinya NOS (New Old Stock) alias barang baru tapi stock lama, biasanya sih mereka dapet dari toko yang udah tutup tapi masih punya stock kamera baru yang belum laku. Karena NOS, jadi kelengkapan kameranya masih yahuuud yaitu masih ada box, kartu garansi (walaupun udah gabisa dipakai), dan instruction booknya. Kondisi kameranya sendiri sih Alhamdulillah masih bagus. Body nya mulus, flash nyala, rewind aman, pokoknya fungsional semua. Cuma yang aku kurang suka adalah ukurn kamera ini cukup besar untuk kamera pocket. Bulky aja gitu. Nih ya bandingin sama kamera-kamera yang lain.

Processed with VSCO with a6 preset
Kamera Cannonmate AF1000 nya ada ditengah ya, dia paling gede dan tebel compared to others.

Aku nyobain kamera ini pakai film Kodak Color Plus 200, film sejuta umat yang sekarang harganya sudah tidak merakyat lagi huhuhu (sok sedih padahal dapetnya gratisan dari Febri). Untuk bisa beroperasi kamera dengan motor drive ini membutuhkan 2 buah batre AA, jadi setelah kalian jepret, filmnya udah otomatis bergeser sendiri dan kalau misal udah mentok nanti tinggal geser tombol rewindnya dan filmnya udah tergulung sendiri ke dalam canister. Kamera point and shoot model gini nih yang aku suka soalnya ngga ribet.

Baca juga: Nyobain Kamera Analog Nikon EF400SV + Film Kodak Vision 3 500T

Selama di Jogja aku sempet bawa kamera ini waktu main ke Seribu Batu Songgolangit, Imogiri. Pas itu cuacanya agak mendung, tapi berhubung flashnya nyala jadinya gabegitu masalah. Kebetulan aku gabegitu banyak ngambil gambar karena, jadi aku cuma bisa nunjukin sedikit aja:

KODAK_GA200_0985_09
Seribu Batu Songgo Langit, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk

Untuk foto pertama, ini ngefotonya dari jarak jauh soalnya aku malu kalau harus mendekat wkwk jadi mohon maaf kalau ngeblur. Fotonya B aja sih ya, tapi masih okelah ya 🙂

KODAK_GA200_0985_11
Siapa hayow, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk

Untuk foto kedua ini kebetulan objeknya selalu muncul disetiap roll yang ku pakai. Kurang afdol aja gitu kalau ga ngehabisin satu dua jepretan untuk Febri ❤ Kalau kalian liat dibagian kanan kayak bayangannya, nah itu adalah jariku yang gasengaja nutup lensanya. Bahlul bener.

Aku juga sempet bawa kamera ini pulang ke Tasikmalaya bulan February lalu, tapi sebagian besar hasilnya ga memuaskan karena lagi lagi LENSA KAMERANYA KETUTUPAN JARI AING ANJIR KESYEEL BANGET GAK TUH? Udah cape cape jalan kaki biar bisa hunting gataunya adaaaa aja jari yang nutupin sebagian lensa kameranya. Tulul. Tapi tetep akan aku post beberapa fotonya, sebagai pengingat agar next time lebih berhati-hati dalam motret.

KODAK_GA200_0985_16
Statsiun Lempuyangan, nunggu keretanya berenti, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk
KODAK_GA200_0985_18
Kereta di Stasiun lempuyangan, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk
KODAK_GA200_0985_23
Jl. HZ Mustofa di Tasikmalaya, captured with Cannonmate af1000 + kodak color plus 200, desvcanned by anakanalog.yk

Huhuhu kesyel bange asli 😦 padahal pengen motret keadaan Kota Tasik sore-sore tapi malah hasilnya begini. Tapi masih bisa ditangkep lah ya suasana yang mau ditampilin difotonya? :((

Oiya Febri udah pernah ngereview kamera ini di yuchub channelnya dia lho. Jangan lupa ditonton juga ya!

Baca juga: New Obsession: Nyobain Kamera Analog

Anyway sekarang kamera ini sudah bukan milikku lagi alias udah dibeli orang, soalnya ya..buat apa gitu ngoleksi kamera banyak banyak? Aku kan pengen motret, bukan mau jadi kolektor. Apakah kamu juga ingin membeli kamera analog seperti temanquw? Kalau iya, ayo dong beli disini, kita masih ada stock kamera kok:
– Fujifilm Avec
– Fujifilm Chic motor (ada 2 kamera)
– Fujifilm DL-80 date
– Canon prima BF80
– Yashica Electro 35 GSN

Seperti biasa, copy paste dari postingan sebelumnya, kalau ada diantara kalian yang pengen tanya-tanya lebih lanjut soal detail kameranya, apakah ada minusnya atau tidak, bisa DM kita di IG @nadyairsalina atau @efebeeri. Hehehe

Udahan dulu deh cerita kali ini, nanti aku bakal lanjut lagi nulis tentang kamera analog yang lainnya. Bye-bye ❤

Nyobain Kamera Analog Nikon EF400SV + Film Kodak Vision 3 500T

Belakangan ini, instagram story orang-orang didominasi dengan updetan tentang work from home, eh gataunya akhirnya aku ngerasain juga. Berhubung hari ini aku udah  official mulai work from home, waktu kerjaku jadi sedikit lebih fleksibel. Aku yang biasanya agak keteteran di pagi hari jadi bisa sedikit lebih nyantai. Kapan lagi coba bisa sarapan dengan rambut setengah kering yang masih digulung handuk karena habis keramas doang padahal ga mandi, sambil balesin dan check email/chat kerjaan? Gausa dibayangin bentuknya gimana, kayak curut pokoknya.

Karena hari ini aku nggak selelah kayak hari biasanya, aku mau ngelanjutin tulisan sebelumnya tentang hasil foto kamera analog. Kamera yang ku pakai kali ini adalah Nikon EF400SV dengan film Kodak Vision 3 500T. Kamera ini aku dapat secara gratistiisstissss dari giveaway yang diadain @ala.mandas di Instagramnya. Alhamdulillah ya pak, buk, rezeki emang ga kemana. Pas lagi seneng-senengnya main kamera analog, eh dapet giveaway. Kalau misal ada diantara kalian yang mau beli kamera analog bisa check Instagram mereka ya. Kalau untuk film nya sih aku dapet giveaway dari pacar alias gratisan lagi wkwkwkkw. Dia beli di @35mm.rons kalau gasalah. Terus kamu modal apaaaaaann cuuuuuk?! Ehehe santai santai, aku masih modal 50ribu buat devscan filmku di @anakanalog.yk kok.

Baca juga: New Obsession: Nyobain Kamera Analog

Ini adalah kali pertama aku nyobain kamera dari nikon karena mayoritas kamera analog point and shoot yang aku dan Febri punya adalah keluaran Fujifilm. Makanya pas tau kalau aku dapet giveaway kamera Nikon EF400SV, rasanya super excited buangeeeet buat nyobain!! Oiya mumpung inget, mau sekalian update stock kamera yang kita jual yaa hehehe:
– Fujifilm Avec
– Fujifilm Chic motor (ada 2 kamera)
– Fujifilm DL-80 date
– Canon prima BF80
– Canon prima zoom shot

Kalau ada diantara kalian yang pengen tanya-tanya lebih lanjut soal detail kameranya, apakah ada minusnya atau tidak, bisa DM kita di IG @nadyairsalina atau @efebeeri. 

Ok, sekarang kembali ke Nikon EF400SV. Kira-kira begini tampilan dari kameranya:

Processed with VSCO with a6 preset
Nikon EF400SV

Dari segi tampilan, cantiq dan menawan sekali bukan? Eh gimana sih harusnya kalo ngedeskripsiin kamera? Hahaha. Yaa pokoknya dia tuh bener-bener a pocket-sized point and shot camera yang super lightweight tapi nggak berasa ringkih. Kalau dibawa kemana-mana tuh praktis aja gitu, tinggal dikalungin juga bisa karena ada strapnya yang cukup panjang.

Processed with VSCO with a6 preset
Tampak belakang dari Nikon EF400SV

First thing that I noticed ketika pertama pake adalah….wow view findernya gede dan bening abis, mantap buat ngeliat objek yang mau kita bidik. Terus, disebelah lensa Nikon 28mm nya ada tombol on/off untuk flashnya juga lho, tapi aku pribadi belum pernah ngotak atik tombolnya sih jadi flashnya selalu nyala. Oiya, kamera ini jenisnya otomatis dalam hal wind-and rewind, jadi kalau abis jepret langsung muter deh filmnya, dan kalau filmnya udah mentok/abis nanti otomatis ngerewind sendiri deh. Dia butuh 2 batre AA if you want to use it, otherwise the camera wouldn’t work.

Baca juga: Nyobain Kamera Analog Fujifilm Axion + Film Fujicolor C200

Kayanya udah cukup ya soal kameranya? Makin panjang tulisannya kayaknya malah bikin makin keliatan kosong otaknya soal perkameraan.

Sekarang saatnya liatin foto hasil hunting di area landasan pacu pantai depok, gumuk pasir, pantai tall wolu, dan juga pantai parangkusumo ketika sebelum social distancing dan work from home diterapkan. Kamera yang kita bawa untuk hunting adalah Nikon EF400SV (of course, duh),  Olympus Trip 35, dan Yashica FX-3 super 2000. Tapi yang akan aku posting hanya hasil yang Nikon EF400SV aja ya. sisanya mungkin menyusul di post selanjutnya atau di blog Febri.

KODAK_VISION_1281_08
Landasan pacu pantai depok, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Ini salah satu foto favorit dari roll ini. Bukan cuma karena modelnya yang aku suka, tapi karena pemandangan dibelakangnya yang kece dan komposisi fotonya yang pas. Yaelah tau apaansih nad soal komposisi foto wkwk bct.

KODAK_VISION_1281_09
Landasan pacu pantai depok, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Hasil foto mobil dengan background pantai ini adalah my most favorit. Hasilnya sesuai banget sama apa yang ada dibayanganku. Would be perfect kalau ngga ada orang dibelakang yang lagi duduk diatas motor, though. Bisa di crop sih.

KODAK_VISION_1281_12
Pantai apa ya duh lupa, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Nah kalau foto bapak-bapak dengan alat pancingnya ini sebenernya kayak agak nanggung karena beliau hanya kefoto separo, tapi aku suka liat gulungan ombak-ombaknya dan warna air lautnya jadi aku post saja hehehe

KODAK_VISION_1281_15
Pantai Parangkusumo, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Kalau lagi berdiri dipinggir pantai dan nungguin ombak datang, kalian suka liatin busa-busa yang muncul dari air lautnya gaksih? Kalau iya, berarti kita sama. That’s why I took picture of it, cause i simply like it.

KODAK_VISION_1281_28
Sunset in Pantai Parangkusumo, captured with Nikon EF400SV + Kodak Vision 3 500T, devscanned by anakanalog.yk

Yang terakhir ini adalah foto sunset di Pantai Parangkusumo sebelum akhirnya aku dan Febri memutuskan untuk pulang dan cari makan karena seharian belum makan. Aku baru sadar kalau selama ini kayaknya aku jarang banget bahkan hampir gapernah nikmatin sunset di pantai. Ternyata secantik itu ya sunset di pantai. Alhamdulillah pas hunting sempet foto pake kamera analog walaupun ga bener ngambilnya. But I took better pictures with mirrorlessnya Febri.

Untuk beberapa waktu kedepan sepertinya aku ngga bakal hunting dulu, mengingat kondisi diluar saat ini masih belum aman. Semoga wabah Covid19 ini segera berakhir yaa. Buat yang beruntung bisa work from home, atau pun yang gabisa work from home, mari tetep jaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan.

Okedeh, udahan dulu ya tulisan tentang Nikon Ef400SV nya. Sampai ketemu di post selanjutnya. Bye bye.

 

Nyobain Kamera Analog Fujifilm Axion + Film Fujicolor C200

Dalam rangka melanjutkan tulisan sebelumnya tentang per-kamera analog-an, kali ini aku mau sedikit cerita pengalaman selama njepret njepret asal pakai kamera analog Fujifilm Axion dengan film Fujicolor C200 sekalian nunjukin hasil fotonya. Berikut ini adalah penampakan dari keduanya:

Processed with VSCO with a6 preset
Fujifil Axion + Fujicolor C200

Hasil foto dari Fujifilm Axion ini belum pernah ku posting di feeds Instagram sih, tapi kalau di story sepertinya pernah. Btw kalau kalian sering menemukan foto di Instagram dengan hashtag #35mm dengan efek efek jadul, nah itu berarti foto-foto tersebut diambil menggunakan kamera analog. Ya walaupun bisa juga sih online shop yang jual peninggi badan ngiklan dengan hashtag #35mm.

Fujifilm Axion ini jenisnya point and shoot, jadi gaperlu mikir gimana cara fotonya, pokoknya gaperlu keahlian khusus atau tekhnik yang gimana gimana untuk menggunakan kameranya. Cocok banget buat yang anti ribet, dan maunya yang praktis praktis aja kayak aku. Cukup buka penutup lensa, intip objek yang akan difoto dari view finder, terus jepret deh. Oiya, jangan lupa juga berdoa supaya gambar yang dihasilkan tida ngaco, dan jangan sampai jari kalian menutupi lensa kameranya! Honestly, ini adalah kegoblokan yang masih terus kuulang dari kamera pertama hingga kamera ketigaku. Heran deh udah ganti kamera tetep aja penyakitnya gailang-ilang. Hati-hati ya teman teman newbieku, kalian gamau kan kalau hasil foto kalian ada bayangan tangannya seperti ini?

Tangga hotel, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk
Tangga hotel rahasia, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor C200, and devscanned by Anakanalog.yk

 

Fujifilm Axion ini bukan kamera analog pertamaku, tapi gatau kenapa berkesan aja karena hasil fotonya menurutku lebih memuaskan dari kameraku yang pertama alias si Fujica M1, jadi aku pengen nulis tentang ini lebih dulu. So far, aku seneng sih pakai ini karena bentuknya kecil, pocket size banget, udah gitu warnanya juga cakep. Tipe-tipe warna yang hits ditahun 90an ceunah. Udah gitu aku lumayan beruntung karena barangnya masih bagus, body oke dengan sedikit baret bekas pemakaian, view finder bening, flash nyala terang benderang, rewind jalan, ruang film bersih, tutup kamera ga seret. Pokoknya overall fungsional deh.

Aku cobain kamera ini untuk hunting di sekitar kawasan 0 KM Malioboro sama Febri sepulang kerja sekitar jam 5 sore. Karena dia udah ada built in flashnya dan alhamdulillah flasnya works normally, jadinya waktu aku pakai untuk foto sore-sore pun masih aman banget. Objek bidikanku masih terlihat jelas pokoknya. Sayangnya kamera ini autoflash dan ga dilengkapi dengan tombol on off untuk flashnya, jadinya flashnya akan nyala setiap kalian motret. Terus masalahnya apa? Yaaa.. ga ada masalah apa-apa sih, cuman gabisa foto diam-diam tanpa bikin orang kaget sama flashnya aja.

Dalam hal jepret menjepret, kamera ini udah otomatis dalam hal winding and rewinding filmnya, alias udah motorized. Kalian tinggal jepret dan filmnya akan bergeser sendiri tanpa perlu muter-muter gerigi film/ngokang. Kalau filmnya sudah mentok, kalian tinggal geser tombol rewind dan filmnya akan tergulung kembali masuk ke canister. Untuk menjalankan fungsi tersebut, Fujifilm Axion ini menggunakan batre jenis AA sebanyak dua buah saja. Ngausa banya banya.

Suda ya basa basinya, sekarang kita langsung liat hasil dari Fujifilm Axion dengan film Fujicolor C200.

FUJI_C200_0794_07
Kopi Pakpos, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk
FUJI_C200_0794_03
Kantor Pos Besar Yogyakarta, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk

 

FUJI_C200_0794_13
Jl. Malioboro, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk
FUJI_C200_0794_08
Pacarku hehe, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk
FUJI_C200_0794_10
Aku hehehe, captured with Fujifilm Axion, film Fujicolor, and devscanned by Anakanalog.yk

Mon maap kalo hasilnya masih pas-pasan dan terkesan ngawur, ya namanya juga masi belajar. Kalo kalian mau coba-coba main analog, kamera ini bisa banget dicobain karena gaperlu nyetting apa-apa lagi. Tapi kalau pengen serius ngulik kamera, mungkin bisa cobain range finder atau slr, bukan point and shoot seperti ini. Btw kalo mau liat review versi videonya, bisa check di youtube channelnya Febri.

Jadiii, adakah diantara kalian yang ingin coba kamera analog juga? Apakah sudah stalking akun-akun penjual kamera analog di Instagram tapi bingung pengen beli yang mana? Nah, kebetulan banget aku sama Febri masih punya beberapa kamera yang pengen kita jual, yaitu:
– Fujifilm Qcam
– Fujifilm Avec
– Fujifilm Chic motor (ada 2 kamera)
– Fujifilm DL-80 date
– Toycam warna putih
– Cannonmate AF1000
– Canon prima BF80
– Canon prima zoom shot

Kalau ada diantara kalian yang pengen tanya-tanya lebih lanjut soal detail kameranya, apakah ada minusnya atau tidak, bisa DM kita di IG @nadyairsalina atau @efebeeri. Tapi lebih baik DM Febri saja karena aku ujung-ujungnya juga akan bertanya pada Febri. Tapi gaboleh digodain ya.

Yak, sepertinya segini dulu untuk cerita tentang kamera Fujifilm Axion-nya. Semoga bisa segera nulis tentang kamera-kamera lainnya.

New Obsession: Nyobain Kamera Analog

New year, new obsession! Hahaha jadi, sejak akhir desember kemarin, aku jadi mulai kepoin kamera analog di instagram dengan hashtag andalan #kameraanalog dan #indo35mm. Kepoan-ku ini disebabkan oleh Febri yang tiba-tiba nyeletuk pengen beli hikari cam. Hal yang terlintas dipikiran adalah “ini anak kenapa anjir gak jelas banget tiba tiba pengen kamera analog, kan uda ada mirrorless” “hmm kok dia tiba tiba pengen kamera analog, lagi naksir ama siapa nih ni anak” *jiwa posesif dan curigaan langsung muncul*. Jadilah aku si anak yang gatau apa apa ini ikut penasaran sama kamera analog, apalagi Febri cukup gencar membahas soal kamera analog di sela-sela percakapan kita di WhatsApp alias ini ana uda pengen banget beli.

Long story short, akhirnya Febri memutuskan untuk beli Fujifilm ZO dan barangnya datang pas banget tanggal 31 Desember 2019. New year new camera, ceunah. Saking excited dan nggak sabar pengen langsung nyobain kameranya, dia langsung beli roll film deket rumahnya, padahal mah dia udah order dari Tokopedia juga. Dasar tidak sabaran. Eh aku juga deng.

Processed with VSCO with a6 preset
Inilah Fujifilm ZO yang bikin aku jadi pengen beli kamera analog juga

Pertemuan pertamaku dengan kamera baru Febri terjadi di tanggal 1 Januari 2020. First impression saat liat kameranya adalah: eh kok lucu juga ya?! Kok kayaknya asik ya main ginian? Beli ahh. Hahaha tau sendiri lah ya bahayanya kalau cewek udah bilang lucu terhadap suatu barang? *gak sih, itu mah emang kamunya aja nad yang pengenan*. Btw kamera Fujifilm ZO ini udah memasuki roll kedua, jadi hasil roll pertama bisa kutujukkan dipostingan ini.

KODAK_GA200_0545_04
Hasil foto Fujifilm ZO dengan Kodak Color Plus 200, dev and scan di anakanalog.yk dengan resolusi medium

Seperti orang tua jaman dulu, ayahku sempet punya kamera analog yaitu Fujifilm MDL 5 untuk mengabadikan momen masa kecilku. Sayangnya sekarang kameranya entah ada dimana, huhuhu. Jadi ya mau nggak mau harus beli lagi. Setelah pencarian yang cukup singkat *karena uda gak sabar pengen cepet beli*, pilihanku jatuh ke Fujica M1 warna hitam. Kenapa kok milih ini? Sebenernya nggak ada alasan yang gimana-gimana sih selain karena bentuknya yang lucu dan warnanya yang kece, mengingat kamera ini biasa aja dari segi kualitas. Cuman ya gimana ya, kan aku awalnya tertarik karena kamera analog lucu, jadi kubeli yang lucu lucu juga gitu. Newbie yang cuma modal ikut ikutan emang gini nih.

Processed with VSCO with a6 preset
Kamera Fujica M1. Super gemes sih menrutku. Menurutku lho ya.
Processed with VSCO with a6 preset
Ala ala banget gak nih fotonya?

Menurutku dari segi bentuk cukup menggemaskan sih, meskipun hasilnya so so. Sebagai bocoran ku tunjukin 1 hasil foto dari Fujica M1 menggunakan Kodak Color Plus 200. Untuk develop and scan-nya dilakuin di @anakanalog.yk. Aku lupa butuh berapa lama untuk ngabisin 1 roll, tapi yang jelas lumayan cepet karena awal-awal aku norak apa apa dipotret. Selain norak, ya emang pengen cepet ngabisin filmnya. Pokoknya aku super penasaran sama hasilnya sehingga cukup ‘boros’ jepret sana sini.

KODAK_GA200_0633_18
Hasil foto Fujica M1 dengan Kodak Color Plus 200, dev and scan di anakanalog.yk dengan resolusi medium

Febri sebenernya sempet mewanti-wanti untuk nggak beli kamera dulu, cukup satu untuk berdua aja mengingat harga roll film dan harga cucinya juga lumayan sis Hmmm ya, iyasih, bener juga. Sejujurnya aku pun sempet ngerasa ga enak karena udah ngeyel beli kamera baru, yang mana uangnya sebenernya bisa digunakan untuk membeli 2 roll film Kodak Color Plus beserta biaya dev&scan-nya. Tapiiiii, sebenernya perasaan ga enak ini hanya berlangsung beberapa saat dan sirna karena Febri malah beli kamera analog LAGI, iya, beli LAGIIIII, yaitu Fujifilm MDL 55. Alasannya adalah karena yang Fujifilm MDL 55 ini udah otomatis, nggak kayak Fujifilm ZO yang tiap habis njepret harus muter kokangnya ampe mentok baru kemudian bisa mulai jepret jepret lagi. Udah gitu dia bilang kamera yang ini bakal dipake buat motret motret aku. HAHAHAHAHA alesan.

Processed with VSCO with a6 preset
ini dia penampakan Fujifilm MDL 55. Cihuuuy abis!

Pertemuan pertama ku sama kamera keduanya Febri ini terjadi pada tanggal 20 Januari 2020. First impression? Wow asik juga ternyata pake kamera yang gak perlu muter-muter kokang tiap abis jepret. Wow canggih uga nih. Ku juga mau punya ahh pokoknya! Hahahaha mampus. Btw kamera Fujifilm MDL 55 ini juga udah ngabisin 1 roll yaitu Kodak Vision 3 Marilyn 100. Hasilnya cakep sih huhu ku ingin mencoba kodak vision juga 😦

KODAK_VISION_0634_17
Hasil foto Fujifilm MDL 55 dengan Kodak Vision 3 Marilyn 100, dev and scan di anakanalog.yk dengan resolusi medium

Mengetahui betapa asiknya jepret jepret pake kamera yang otomatis gitu, aku langsung gercep dong ya nyari kamera baru. Selang tiga hari, kali ini dengan restu bebeb Febri, akhirnya beli Fujifilm Axion dengan harapan kualitas gambarnya akan 11 12 dengan fujifilm ZO nya Febri, karena zuzur aja gambarnya jauh lebih oke dari si Fujica M1. Untuk hasil dari Fujifilm Axionnya belum bisa ku tunjukin karena emang belum masuk ke tahap dev&scan. Masih bisa untuk jepret jepret 8 kali. Untuk roll nya sekarang lagi dipakein yang Fujicolor C200.

Processed with VSCO with a6 preset
Fujifilm Axion my luv :*

Btw ketika tulisan ini ditulis, si Fujica M1 nya baru banget laku dengan harga yang lumayan. Sebenernya agak sedih juga melepas Fujica, secara baru pake 1 roll film doang, tapi gapapa deh soalnya aku sama Febri sebelum ngejual Fujica M1 udah beli kamera lagi yaitu Canon Prima BF-80, tapi belum sempet kita cobain bareng karena pas barangnya datang, Febri lagi nggak di Jogja.

Processed with VSCO with a6 preset
Canon Prima BF-80. Gasabar pengen coba!

Iya, kita emang serandom itu anaknya ampe beli 5 kamera analog dalam jangka waktu satu bulan wkwkw. I guess playing with analog camera has became our new obsession!

Anyway, pengalaman menggunakan masing-masing kamera akan ku coba ceritain di post selanjutnya aja biar ada bahan untuk post tulisan baru, tentunya dengan catatan kalau ngga males dan nggak sibuk rebahan dan pacaran. Untuk sekarang cukup sekian postingannya. Hehe. Dadah.

Nyobain Makanan Vegetarian di Warung Kitasuka Vegetarian

Tahun 2019 adalah tahunnya icip-icip makanan enak. Mungkin kalau diitung-itung, pengeluaran terbesar adalah untuk jajan, entah itu karena tergiur promo GrabFood, pengen nyobain tempat makan baru sama Febri, atau biar ada bahan untuk dipost di instagram kita berdua yaitu @enaknyamakanapaya. Kira-kira tahun 2020 ini akan jadi tahun yang gimana ya? Apakah akan diisi dengan makan-makan enak dan traveling lagi? Atau harus bekerja keras dan berhemat? Atau akan menjadi tahun untuk beristirahat dan rehat dari segala aktifitas yang membuat lahir dan batin ini lelah? Entahlah ya~ mari kita lihat saja, yang penting tetap bahagia.

Btw, ada satu tempat makan yang aku dan Febri datengin sekitar akhir tahun 2019 yang berkesan tapi belum sempet ku tulis. Kita tau tempat ini secara ga sengaja, atau lebih tepatnya Febri nemuin tempat ini ketika lagi nyari makan di GoFood, secara kita selalu bingung mau makan apaan wkwkwk. Pas itu kita liat menu-menu makanannya kok kayaknya enak, kok kayaknya lucu buat foto-foto, kok kayaknya tempatnya asik. Abis itu kita langsung stalk instagramnya (@kitasukaidea) dan langsung penasaran sama tempatnya. Nama tempatnya adalah Warung Kitasuka Vegetarian.

Processed with VSCO with a6 preset

Sesuai namanya, Warung Kitasuka Vegetarian ini menjual makanan untuk vegetarian. Tapi tenaang, menu makanan disini cukup variatif kok. Sejujurnya kita udah sempeting browsing menu makanan disini ada apa aja dan baca beberapa reviewnya, biar lebih meyakinkan dan milih menunya juga ga kelamaan. Soalnya waktu itu aku mampir jam 12:00 dan harus masuk kerja jam 14:00 alias takut telat cuuuy. Kok ngga datang pagian ajaa? Yaaa maunya sih gitu, tapi mereka bukanya dari jam 12:00-20:00 dan tutup setiap hari senin. Alamatnya ada di Jl. Roto Kenongo, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Gampangnya cari google maps wae lah. Aku aja yang jaraknya cuma 3 KM tetep pakek google maps karena emang gatau ada tempat ini sebelumnya. 

Lokasi warung kitasuka ini ada di jalan perkampungan tapi gak sulit ditemuin kok, udah gitu dari luar bangunannya tampak berbeda dengan cat warna kuning dan beberapa lukisan/mural (??? idk its name).

Processed with VSCO with a6 preset
Tampak luar dari Kitasuka Vegetarian

Dari pintu gerbang, kalian akan masuk ke area parkir motor. Begitu liat-liat lebih ke dalem lagi, hal yang kita liat bukanlah meja dan kursi untuk makan melainkan semacam bulk store yang ngejual banyak banget pernak-pernik, tote bag, kalung, sedotan stainless, notebook, pouch, pink salt, almond, postcard dan barang-barang handmade lainnya yang gemes gemeeeees. Kayaknya ini gabungan dari beberapa penjual gitu deh. For more info bisa lihat di instagram @kitasuka.store. Aslii lucu-lucuuu banget barang-barangnya.

Processed with VSCO with a6 preset
Beberapa barang yang ada di bulk store Kitasuka Store
Processed with VSCO with a6 preset
Situasi di dalam bulk store~

Zuzur aku sama Febri sempet agak bingung pas masuk, kita wondering “dimana tempat makannya?” “jangan-jangan tutup”. Tapi ternyataaaa tepat di belakang bulk store ini kayak ada gang kecilll banget, dan itu adalah jalan untuk menuju ke warungnya. Aku sempet nggak yakin kalau ini adalah jalannya, tapi ya emang ngga ada jalan lagi wkwkw.  Setelah tanya ke mbak-mbak cashiernya eh gataunya bener. Setelah melewati lewatin gang itu, ada tangga turun untuk area makannya.

Processed with VSCO with a6 preset

Jadiii tempat makannya itu ada di joglo yang di dalamnya disusun beberapa meja dan ada bantalan untuk kita duduk. Tempat makannya outdoor dan langsung bisa lihat ke sungai. Mana disekitarnya ada banyak pepohonan juga, gileee gileee bener-bener enak banget buat ngadem dan menenangkan diri karena suasananya sepi dan sejuk. Saranku sih jangan pas lagi buru-buru makan disininya, biar bisa maksimal nikmatin ambiencenya. Selain joglo, ada juga sih meja berpayung dan kursi yang disusun di area sekitar joglo, view ke sungainya lebih jelas dari sini. Tapi untuk makan sih aku lebih prefer di joglonya aja. Kurang lebih suasananya kayak gini:

Processed with VSCO with a6 preset
Area joglo kitasuka vegetarian.  Luas, bisa buat gegoleran atau makan sambil kayang.
Processed with VSCO with a6 preset
Salah satu meja di joglonya. Bisa buat nugas atau ngerjain kerjaan
Processed with VSCO with a6 preset
Ada buku dan games yang bisa kalian cobain
Processed with VSCO with  preset
View nya langsung ke sungai

Okedeh, biar postingannya ga kepanjangan, ini dia menu makanan dan minuman yang ada di Warung Kitasuka Vegetarian per tanggal 26 Desember 2019 ya. Kita fotoin selengkap lengkapnya biar bisa buat itung-itung budget kalau mau kesini *karena akupun suka begitu*

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

Makanan yang kita pesen adalah:

– Rames Terong (26k)

– Spaghetti (25k)

– French Fries with Spinach Sauce (17k)

– Fruit Cup (20k)

– Passion Hoci (17k)

– Chia Seeds Vanilla (20k)


Itu udah lumayan buanyak gak sih pesennya? Tapi sebenernya kita sempet galau mau nambah menu tempe mendoan/bakwan (15k) atau engga, soalnya takut kenyang bego, tapi kok yaa pengen coba juga. wkwkwk.

Processed with VSCO with a6 preset

Makanan utama yang ku pesan adalah Rames Terong. Well, kenapa kok rames terong? Yaa karena aku suka terong, apalagi kalau terongnya digoreng crispy atau dibumbu balado. Suka sedih akutuh kalau ada yang ngatain terong gaenak. Oiya, satu porsi rames terong ini lumayan banyak juga lho soalnya isinya ada terong (of course, duh), telur, bunga kol yang dibikin capcay, sop, kerupuk, dan nasinya ituuu lhooo pake nasi merah yang bikin auto kenyang. Biarpun difoto kelihatannya nasinya cuma sedikit, percaya lah itu bikin kenyang.

Processed with VSCO with a6 preset
Rames Terong Kitasuka Vegetarian

Dari segi rasa, aku suka sih sama terongnya. Bumbunya kerasa, walaupun katanya mereka gapake MSG dan lain-lain tapi rasa masakannya enak kok, begitupun untuk pelengkap lainnya. Sesekali makan sehat tanpa micin.

Makanan yang dipesen Febri adalah spaghetti. Berhubung ini warung vegetarian tentunya spaghettinya bukan yang ada saus bolognese dengan daging. Menurut deskripsi yang ada di buku menunya sih spaghetti with vegetable, tomato basil sauce and garlic cracker. Kapan lagi ya kan makan spaghetti pake krupuk~. Dari foto yang kita liat di Instagram sih porsinya ngga begitu banyak ya, makanya kita pesen snack lain biar kenyang. Gataunya…..porsinya gede juga cuy.

Processed with VSCO with a6 preset

Rasa spaghettinya enak juga ternyata. Dan lagi lagi, bumbunya gak hambar sama sekali. Ya cuman emang ngga senendang kalau makan spaghetti yang ada daging-dagingnya itu sih. Tapi ini tetepp enaaaak dan super ngenyangin apalagi dengan porsi yang sebuanyak ini. Untuk harga 26k, ini worth it.

Baca juga: Icip-Icip Makanan di JiwaJawi Jogja: Hidden Gem di Selatan Kota Jogja

Untuk minumannya, aku pesen Passion Hoci dan Febri pesen Chia Seeds Vanilla. Nah tapi karena pas itu vanilla sirupnya lagi abis, jadi diganti sama sirup lain tapi aku lupa namanya. Minuman yang kita pesen sama-sama enak dan nyegerin sih, yang Passion Hoci beneran kerasa rasa passion fruitnya dan rasanya lebih manis dari yang chia seeds vanilla. Ataukah karena Febri mengaduk minumannya tidak sampai homogen? Tapi jujur aja untuk minumannya aku lebih amaze ke sedotannya, karena mereka udah pake sedotan stainless. Good job, kitasuka!

Processed with VSCO with a6 preset

Biarpun dua menu diatas plus minumannya sebenernya udah bikin kenyang, tapi kita udah terlanjur pesen dua menu lain yaitu French Fries with Spinach Sauce dan juga Fruit Cup yang wajib kita habiskan wkwkkw padahal mah kentangnya datang paling duluan dan fruit cupnya datang paling akhir sampe kita lupa kalau masih ada 1 menu yang belum datang.

Processed with VSCO with a6 preset
French Fries with Spinach Sauce

Sumpeeeh yaaa ini lucu banget saos kentangnya pake bayam. Aku kurang tau ya bikinnya gimana, sepertinya diblender karena saking lembutnya. Rasanya unik dan kayak ada rasa bawangnya gitu. Duh aku kurang yakin ya bahan sausnya apa aja tapi yang jelas rasana enak!!! Gaberasa lagi makan bayam. Rasa sausnya asin-asin gimana gitu. Kalau kentangnya ya seperti kentang pada umumnya. Aku tertarik sama ini karena penasaran sama saus bayamnya. Cobain menu ini deh kalau makan disini.

Processed with VSCO with a6 preset

Akhirnya sampai juga di menu terakhir yaitu Fruit Cup. Fruit Cup ini isinya potongan 4 jenis buah dan dikasih topping ice cream vanilla. Waktu itu buah yang kita dapet adalah semangka, pear, anggur, dan buah naga. Perpaduan warna buahnya cantik sih, kalau untuk rasanya ya selayaknya rasa buah yang diberi es krim, yang jelas enak dan nyegerin. Tapi sayang pas itu kita udah keyang bego jadi kurang menikmati moment makan fruit cup ini. Seharusnya tuh ya, makan fruit cup ini doang tuh udah lumayan ngganjel perut lho.

Baca juga: Makan Siang Enak di Aroma Kasongan

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati pengalaman makan siang di Warung Kitasuka Vegetarian. Menu makannya emang beneran enak, ngenyangin, ditambah lagi suasana tempat makannya bener-bener bikin nyaman. Udah gitu harga makannannya juga masih affordable. Ditambah lagi ada bulk storenya. Bisa makan sambil beli-beli printilan handmade yang gemes. Untuk rasa makannya, scorenya kalau aku sih 8.5/10, dan untuk tempatnya 9/10.

Apakah aku akan kembali lagi? Yes, karena pengen nyobain menu yang lainnya, especially pengen ke bulk storenya karena kemarin belum sempet beli apa-apa.

Kalau kamu, mau cobain kesini juga nggak?

Makan Siang Enak di Aroma Kasongan

Beberapa taun silam, percakapan seputar tempat tinggalku cuma berkisar antara:

“Kamu tinggal di daerah mana Nad?”
“Kasongan, Bantul”
“Sama yang jual gerabah gerabah itu sebelah mananya?”
“Masih ke barat lagi, lurus terus ya sekitar 2 kiloan lagi”
“Ooh”
–kemudian percakapan berakhir karena ga ada yang menarik untuk di bahas–

Gak ada yang salah sih dengan percakapan diatas, karena selama ini Kasongan memang terkenal sebagai pusat kerajinan gerabah. Jadi jangan heran kalau di area ini banyak ditemui toko-toko yang memajang kerajinan gerabah. Tiga tahun belakangan ini, selain gerabah di Kasongan juga udah mulai banyak toko yang menjual perabotan rumah tangga yang kekinian dan ada beberapa tempat makan baru yang enak buat nongkrong atau sekedar bersantai sambil nikmain suasana alam di Kasongan loh!

Jadi sekarang percakapan seputar daerah tempat tinggalku agak lebih bevariasi:

“Kamu tinggal di daerah mana Nad?”
“Kasongan, Bantul”
“Dari Aroma Kasongan sebelah mananya?”
“Wah dari situ masih 2 kiloan lagi”

Nah buat yang bertanya-tanya Aroma Kasongan ini apaan, jadi ini tuh salah satu tempat makan yang ada di area Kasongan, alamatnya ada di Jl. Kasongan Raya 69 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, atau kurang lebih 250 meter dari gerbang Kasongan. Tempat ini ada di kiri jalan ya kalau kalian datang dari arah gerbang Kasongan, gampang ditemuin deh pokoknya apalabi kalo ngikutin Google Maps yang terhomat.

Berhubung Aroma Kasongan ini berada di jalan Kasongan yang mana merupakan akses jalan untuk aku pergi kuliah atau kerja, jadi hampir tiap hari selalu lewat di depannya. Mungkin udah ada tiga tahunan kali ya Aroma Kasongan ini beroperasi, tapi aku baru sempe icip-icip rabu minggu lalu (13/11).

Processed with VSCO with a6 preset

Yeaayy akhirnya kesampean juga untuk makan siang disini! Setelah kita memarkirkan motor di halaman parkirnya yang lumayan luas untuk motor, akhirnya kita masuk ke bangunannya dan liat liat ada apa aja di dalamnya.

Processed with VSCO with a6 preset
Halaman depan Aroma Kasongan

Aroma Kasongan yang Unik dan Menenangkan~~

Kalau kalian liat dari luar, bangunan Aroma Kasongan ini terbilang tidak terlalu besar, namun begitu kalian masuk teryata di dalam terdapat cukup banyak meja dengan berbagai hiasan di meja dan dinding yang unik yang tertata dengan sangat cantik. Jadi mereka ini punya ruang indoor dan semi-outdoor gitu. Ruang indoornya ada dibagian depan, dihiasi berbagai pernak pernik antik. Sedangkan bagian semi-outdoor ada dibagian belakang dimana pengunjung dihadapkan view sawah, dan ada kolam ikannya jua yang menamba nuansa adem di Aroma Kasongan ini.

Processed with VSCO with a6 preset
Bagian depan/indoor di Aroma Kasongan

Kita akhirnya memilih untuk duduk di bagian belakangnya, biar lebih adem aja sih kena angin sepoi-sepoi dari sawah sambil denger gemericik suara air di kolam ikannya, secara Jogja lagi super panas banget cuy belakangan ini. Gangerti lagiiiii.

Processed with VSCO with a6 preset
Bagian belakang/semi-outdoor di Aroma Kasongan

Selain kita, disana kebetulan lagi ada bule yang lagi belajar bahasa Indonesia gitu. Entah mereka udah berapa lama duduk situ. Gak lama kemudian datang lagi 2 orang bule yang makan disana, tapi di meja yang berbeda. Ini tempatnya emang enak buat duduk ngobrol berlama-lama gitu sih. Hawanya bikin ga pengen pulang saking ademnya dan nenangin banget.

Processed with VSCO with a6 preset
Beberapa pengunjung Aroma Kasongan

Menu Makanan dan Minuman di Aroma Kasongan

Setelah dirasa mendapat tempat yang pas, akhirnya kita mulai untuk pilih-pilih menu makanan dan minumannya. Tentunya, kita foto-foto juga dong daftar menunya. Untuk makanan utamanya sih semuanya makanan jawa rumahan gitu dari mulai Nasi Campur Jawa, Gado-gado, Nasi Goreng Aroma, Opor Ayam, Kari Ayam Pedas, dan ada juga dalam bentuk rice bowlnya, tapi tetep dengan menu jawanya. Oiya mereka juga nyediain Nasi Campur untuk Vegetarian loh, it’s a plus! Untuk harga menu utamanya berkisar antara IDR 25.000-40.000. Sedangkan untuk menu tambannya berkisar antara IDR 5.000-25.000.

Processed with VSCO with a6 preset
Menu Makanan di Aroma Kasongan

Untuk menu minumannya, Aroma Kasongan menawarkan beberapa varian kopi, jus, dan minuman lain yang unik seperti lidah buaya, twinning tea, green tea, dan infused water. Harga minumannya berkisar antara IDR 10.000-20.000.

Processed with VSCO with a6 preset
Menu Minuman di Aroma Kasongan

Setelah memilah-memilah menu makanan dan minuman, akhirnya pilihanku jatuh ke Nasi Campur Jawa dengan Sate Lilit Tuna seharga IDR 40.000 dengan minuman Infused Water (timun + lemon + mints) seharga IDR 10.000. Febri sih pesen Nasi Campur Aroma dengan Ayam Kecap Pedas seharga IDR 40.000 dengan minuman green tea (dengan campuran madu, mints, dan earuk nipis) seharga IDR 15.000. Kita juga gak lupa pesen carrot cake nya yang katanya the best carrot cake in Jogja seharga IDR 25.000.

Gak butuh waktu lama untuk nunggu makanannya datang ke meja kita, dan kita pun langsung sempetin untuk ambil beberapa foto sebelum icip icip menunya.

Processed with VSCO with a6 preset
Menu makanan yang kita pesan di Aroma Kasongan

Btw mereka cukup unik dalam hal penyajian makannya. Makanan yang aku pesan alias Nasi Campur Jawa dengan Sate Lilit Tuna ini ditaruh diatas piring bulat berbahan…apa ya? Kayak kaleng, seng, apalaah itu, pokoknya mirip bahan gelas jadul yang warnanya hijau loreng-loreng putih punya kakek/nenek kalian gitu. Seporsi Nasi Campur Jawa dengan Sate Lilit Tuna ini terdiri dari Nasi + Tempe + Lodeh Kampung + Bihun + Sambal Ikan Teri Kacang + Sate lilit tuna. Honestly, porsi lauknya lumayan banyak buatku. Mungkin porsi lauknya bisa dikurangin dan porsi nasi nya ditambah. Tapi untuk rasanya sih enak banget. Sate lilitnya juaraaaa!

Processed with VSCO with a6 preset
Nasi Campur Jawa dengan Sate Lilit Tuna Aroma Kasongan

Untuk minumannya, aku puas sih sama Infused Waternya soalnya emang beneran nyegerin dikala jogja lagi panas-panasnya. Mintsnya beneran ngademin banget. Waktu itu aku lagi emang gatertarik sama minuman jus-jus yang ada dan lagi pengen yang seger-seger, dan si Infused Waternya emang senyegerin itu.

Processed with VSCO with a6 preset
Infused Water Aroma Kasongan

Menu yang dipesan Febri yaitu Nasi Campur Aroma dengan Ayam Kecap Pedas terdiri dari Nasi + 2 jenis sayuran (waktu itu sih tumis sawi tahu dan satu sayur yang ada kemanginya yang kita sama-sama gatau itu apaan) + Terong Balado + Sambal + Ayam Kecap Pedas. Berhubung cowokku ga doyan terong, jadinya aku barter pakai tempe gorengku wkwk. Rasa terongnya ya seperti rasa terong pada umumnya ya, tapi ayam kecapnya enak sih kalau dari yang aku cicipin. Febri sih bilang daging ayamnya lembuuut. Tapi dia agak kurang cocok sama sayurnya, tapi kalo dipikir-pikir dia emang kurang suka sayur lagi, apalagi kalo sayurnya asanya lumayan asing dilidah dia.

Processed with VSCO with a6 preset
Nasi Campur Aroma dengan Ayam Kecap Pedas Aroma Kasongan

Sebagai anak green tea, udah kuduga si Febri bakal pesen Green Tea. Tapi ini bukan kayak green tea latte ya, ya emang Cuma teh hijau aja dicampur madu dan jeruk nipis dan mints. Rasanya lumayan nyegerin sih, tapi mints nya gabegitu kerasa. Febri sih lebih suka punyaku katanya.

Processed with VSCO with a6 preset
Green Tea Aroma Kasongan

Sebagai penutup menurutku Carrot Cake ini wajib dicoba buat pencuci mulut sih. Biarpun ukurannya terlihat kecil, kayak cupcake gitu, tapi ini lumayan bikin kenyang juga lho even dimakan berdua. Udah gitu taburan almondnya dan creamnya bener-bener enak banget dan gak enek. Tekstur rotinya emang agak rapuh gitu, dan kalian bisa rasain ada serpihan wortel di dalam kuenya *yaiyala namanya juga carrot cake, bukan eggplant cake* yang menambah rasa untuk dari carrot cake ini. Kalau kalian mau ngemil sehat bisa nih cobain carrot cakenya!

Processed with VSCO with a6 preset
Carrot Cake Aroma Kasongan

Processed with VSCO with a6 preset

Ya kurang lebih begitu lah ya pengalaman kita selama nyobain makanan di Aroma Kasongan. Secara keseluruhan, menurut aku pribadi nilai yang aku kasih buat Aroma Kasongan ini adalah 8.5/10 untuk makanannya dan 9/10 untuk tempatnya. Mungkin kalau kalian main ke Jogja bagian selata, bisa nih mampir ketempat ini dan langsung cobain sendiri makannya.

Icip-Icip Makanan di JiwaJawi Jogja: Hidden Gem di Selatan Kota Jogja

Dari sekian banyak tempat makan yang ada di Jogja, entah kenapa kadang aku tuh suka bingung mau makan apaan. Kalian juga suka pada ngerasa gitu gak sih? Kalau pas lagi sama Febri nih, kita tuh sering buanget kelamaan mikir sampe akhirnya makan ketempat yang itu lagi itu lagi (biasanya sih ini terjadi karena aku males mikir dan Febri suka ngalah dengan makan ketempat yang sama). Tapi, beberapa minggu belakangan ini kita semacam punya perjanjian untuk nyobain makan ditempat yang belum kita coba alias Febri udah gakmau makan kesitu lagi kesitu lagi wkwkwk. Maaf ya beb, I used to drag you to go to the same place over and over again.

Setelah perjanjian itu kita sepakati, referensi kuliner kita mulai bertambah banyak dan kita mulai sering jajan kesana kemari. Cieeilehh, buang-buang duit ceritanya. Tapi nih ya ngeselinnya si Febri, dia tuh suka ngeledekin dan nyindirin aku karena kurang berkontribusi dalam memberikan ide dan gagasan tempat makan yang mau didatengin. Tapi giliran aku ngasih ide, eh dianya gamau, terus ntar beberapa lama kemudian dia nawarin tempat itu dan ngaku-ngaku kalau itu adalah ide dia. Pancen kampreeett kok kowe ki. Untung sayang.

Setelah ketinggalan score lumayan jauh dari Febri, akhirnya aku inget kalau ada satu tempat deket rumah yang pengen aku datengin dan langsung buru-buru bilang ke Febri untuk cobain makan disitu. Tanpa banyak basa basi, dipertemuan selanjutnya kita langsung nyobain untuk dateng kesini. Gatau deh ya Febri beneran mau karena interested atau kasian sama aku. Nama tempatnya adalah JiwaJawi Jogja

Lokasi JiwaJawi Jogja

JiwaJawi ini beralamat di Jl. Bangunjiwo Podo Asih, Salakan, Bangunjiwo, Kec. Kasihan, Bantul. Tapi di kartu namanya alamatnya tuh Banyutemumpang RT 01, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Tapi yasudahlah ya tida perlu diperdebatkan dan diambil pusing yang penting anda cukup mengetik JiwaJawi Jogja di google maps dan mengikuti petunjuk jalan yang ada di lokasi sambil terus berdoa. Insha allah sampai dengan selamat.

Lokasinya emang nggak deket sama pusat kota, cocok buat kalian yang lagi pengen makan dengan suasana yang tenang dan jauh dari hingar bingar suara kendaraan. Berikut aku kasih link locationnya biar gak kesasar

Honestly ini lokasinya emang beneran di desa dan agak mblusuk. I wonder how people know this place, well I know because they do a good promotion on internet and stuff but, yeah I’m still wondering because I knew this place pertama kali dari postingan blog orang yang lagi liburan ke Jogja. Dan tempat ini pun masih tergolong baru karena baru buka bulan februari tahun 2019 ini, belum ada 1 tahun. Meanwhile I live in the same district as this place (only 4 kilo meters away or less) and had zero idea about this place. Memang saya kudet sekali ya astaga.

By the way, berhubung ini lokasinya bukan di jalan utama, jadi kalian harus perhatikan petunjuk jalan yang ada. Tapi tenang, mereka selalu masang petunjuk jalan disetiap belokan ketika kalian udah masuk ke area jalan desa.

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Suasana di JiwaJiwa Jogja

Ketika kalian udah sampai di lokasinya, kalian akan disambut dengan gerbang yang unik. Untuk masuk ke gerbangnya kayak semacam jembatan gitu dan ada kolam di bawahnya, entah sih itu kolam apaan. Setelah ngelewatin gerbang, kalian bakal liat pekarangan yang lumayan luas dengan banyak pepohonan yang rindang dan meja kursi di beberapa sudutnya. First impressionnya… wow luas banget ini tempatnya. Sejuk dan masih asri banget. Bener-bener hidden gem di Jogja belahan selatan yang selalu dikatain pelosok sama Febri.

Processed with VSCO with a6 preset
Pintu Gerbang JiwaJawi Jogja
Processed with VSCO with a6 preset
Halaman depan JiwaJawi Jogja

Beberapa langkah memasuki gerbang, kita dikasih tau sama bapak bapak yang lagi nyapu untuk langsung masuk ke arah Joglonya kalau mau pesen makanan. Area Joglo JiwaJawi ini lumayan gede juga. Banyak meja dan kursi berukuran besar yang tertata rapi disini. Waktu itu kayaknya lagi ada rombongan yang makan siang disana, dan mereka pada milih tempat di Joglo ini.

Processed with VSCO with a6 preset
Area Joglo JiwaJawi Jogja

Setelah minta daftar menu ke bagian kasirnya, kita langsung masuk ke bagian lain dari JiwaJawi ini. Jadiiii setelah ngelewatin joglo kasir, kalian bakal sampai di area balkonnya. Disini pun areanya masih rindang banget. Enak banget sih kalau makan disini sambil nugas atau meeting syantik. Soalnya beneran seenak itu. 

Processed with VSCO with a6 preset
Area balkon JiwaJawi Jogja

 

Pas itu ada beberapa orang yang makan di area balkon, jadi kita mutusin untuk turun ke bawah, ke area taman gitudeh. Area taman ini lumayan luas sih, ada bangunan dengan tembok dari bebatuan tepat dibawah balkon yang ternyata adalah coffee shopnya, dan ada beberapa meja dan kursi yang terbuat dari batu yang disusun sedemikian rupa menjadi meja makan. Dan karena taman ini berbatasan langsung sama area kebun gitu, jadi bener-bener berasa makan di hutan wkwkw. Plusnya adalah suasananya sejuk dan santai banget, minusnya adalah aku sempet bentol bentol karna digigit serangga/nyamuk.

Processed with VSCO with a6 preset

Sumpah deh saking luasnya dan saking banyak area makannya, aku sampe bingung ngejelasinya. Kalian kayaknya harus cobain langsung makan kesini dan muterin semua area yang ada.

Menu Makanan dan Minuman di JiwaJawi Jogja

JiwaJawi Jogja ini menawarkan menu yang lumayan variatif, meskipun semuanya adalah indonesian food ala masakan rumahan. Menu selengkapnya silahkan check gambar dibawah ini ya!

Processed with VSCO with a6 preset
Sebagian menu makanan di JiwaJawi Jogja
Processed with VSCO with a6 preset
Sebagian menu minuman di JiwaJawi Jogja

Untuk urusan minuman, mereka juga menawarkan banyak variasi minuman mulai dari jus, berbagai jenis kopi, teh, coklat, dan minuman tradisional dengan istilah yang unik. Kalau kalian ga paham sama menunya, nanti akan ada mas mas disana yang dengan senang hati menjelaskan menunya. Untuk lihat menu makanan dan minuman lainnya, langsung ke Instagram mereka aja ya di @jiwajawijogja

Makanan yang aku pesan adalah Ayam Suwir Kecombrang (IDR 40.000) karena disebelah tulisannya ada simbol cabenya yang menandakan bahwa menu isi pedas. Febri sih pesen Ayam Tangkap (IDR 40.000), dia juga pesen sambal bawang (IDR 3.000) karena menu yang dia pilih ga pedes. Dasar gakbisa banget ya makan yang gak pedes pedes.

Untuk menu Ayam Suwir Kecombrangnya, suwiran ayamnya lumayan banyak sih tapi rasanya kurang pedes kalau untuk aku. Tapi beneran deh suwirannya itu buanyaaak. Udah gitu ada lauk lainnya juga kayak nangka muda yang direbus dan dicacah halus dan dikasih bumbu, ada kacang dan ikan kecil kecil juga, kerupuk udang, plussss sambal matah. Sambal matahnya lumayan strong sih dibanding sambal matah yang biasa aku makan. Porsi nasinya biarpun terlihat kecil, tapi kalau udah dicampur sama lauk yang lain surprisingly banyak juga sampeee bikin kekenyangan. Dari 1-10, untuk rasa makannya aku kasih 8 deh.

Processed with VSCO with a6 preset
Ayam Suwir Kecombrang

Kalau untuk menu Ayam Tangkapnya, rasanya mirip mirip ayam goreng buatan rumahan tapi ada rasa bumbu rempahnya. Dia bentuknya bukan ayam utuh ya, tapi udah dipotong-potong. Sebagai pelengkap ada semacam bunga pepaya yang udah ditumis/dibumbui, sambal matah, dan juga kerupuk. Menurut Febri sih rasanya agak kurang nendang, ga seenak menu Ayam Suwir Kecombrangnya katanya wkwk. Nilainya kata Febri 7 ajadeeeh.

Processed with VSCO with a6 preset
Ayam Tangkap

Untuk menu minumannya, aku pesen Forever Young (IDR 30.000) yang merupakan campuran apple, ginger, dan lime. Entah apa yang ada dipikiranku pokoknya aku pengen pesen minum dengan nama yang aneh-aneh aja. Febri sih pesen Kawista (IDR 25.000) yang merupakan perpaduan antara sirup soda, lime, sama batang serai/sereh kalau orang jawa bilang.

Processed with VSCO with a6 preset

Untuk rasa dari Forever Youngnya sih nyegerin abisss. Asem kecut seger gimana gitu. Tapi kalau kata Febri aneh sih rasanya. Mana dia yang nyobain duluan lagi, kan jadi bikin deg-degan eike. Untungnya tapi pas diminum enak enak aja kok, malah aku bingung kenapa kata dia aneh rasanya wkwk. Kalau untuk Kawista yang dipesen febri sih ya enak enak ajasih, cuman menurutku terlalu manis. Tapi nyegerin juga sih apalagi ada aroma dari serehnya.

Kesimpulan

Untuk rasa makanannya baik punyaku ataupun punya Febri bagiku sih enak enak aja. Tipe masakan rumahan banget, tapi sentuhan yang lebih modern. Untuk harganya ya harga standar kalau kalian makan di resto/cafe gitu sih ya, bukan tipe jajanan yang biasa ku beli karena aku adala pecinta makanan murah meriah wkwk. Nah untuk tempatnya, ini yang paling menang banget sih. Tempatnya tuh nyaman dan tenang banget. Udah gitu unik aja gitu bangunannya. Kalau kalian mau makan rame-rame sambil reunian disini bisa banget sih. Untuk tempatnya aku kasih nilai 9, kalau dari Febri 8. Intinya aku sih suka sama makanan dan minuman yang aku pesen. Tempatnya juga bener-bener such a hidden gem di area Jogja bagian selatan.

Kalau kalian main ke Jogja, kira-kira bakalan nyempetin mampir kesini dan nraktir aku gak nih?

Ehehe