Cara Membuat Leather Notebook Cover a la Traveler’s Notebook

Choosing the right notebook isn’t an easy thing to do for me. In fact it’s been such a pain in the neck since I’m quite picky when it comes to this. Sometimes the size is either too big or too small. Sometimes I simply hate its page layout, rulings, and binding method. And sometimes its cover simply doesn’t suit me. Ribet banget ya aing jadi jelma teh? But lucky me, in early 2016 I stumbled upon a very impressive Instagram account who regularly shares her journaling activities with her Midori Traveler’s Notebook; which made me fall in love right away! ♡♡

Kalau misal kalian belum tau, Midori Traveler’s Notebook is a notebook which consists of a leather cover and an elastic cord. What makes it special is its flexibility which allows you to place multiple books/inserts at once. Last time I checked, the price  for the official Midori leather cover from JetPens was around $46.50, way too pricey just for a notebook, regardless of what it’s made of. To get around this, yours truly finally decided to turn it into a DIY project with whatever materials I have on hand. Aku udah pernah bikin ini di tahun 2016, tapi beberapa waktu lalu pas aku update soal ini di Instagram Story ada yang minta tutorialnya, jadi aku bikin lagi dan kebetulan emang bahannya lagi ada.

Alat dan Bahan untuk Membuat Leather Cover Traveler’s Notebook

Berikut adalah alat dan bahan yang harus kalian siapin untuk bikin leather cover a la midori traveler’s notebook, kebetulan disini aku pake seadanya yang kebetulan kutemuin di rumah:

Processed with VSCO with a6 preset
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat leather cover traveler’s notebook
  • Leather, atau bahan apapun sesuai preferensi kalian. Disini aku pakai artificial leather sisa bahan sandal, bukan kulit asli. Kalau mau beli bisa di toko bahan kulit.
  • Gunting/cutter
  • Penggaris
  • Pensil/pulpen untuk bikin pola
  • Paku/alat pembolong
  • Palu
  • Elastic cord. 1-2 meter should be enough. Ini juga bisa dibeli di toko bahan kulit

Baca juga: A Little Bit of Something that I Love: Postcards and Handwritten Letters

Gampang didapetin kan semua alat dan bahannya? Kalau udah siap semua, mari kita mulai proses pembuatan leather covernya.

Cara Membuat Leather Cover Traveler’s Notebook

1. Pertama-tama kita mulai dengan bikin pola pada bahan kulitnya. Ukuran cover yang mau ku buat yaitu 26,5 cm x 22 cm; mendekati ukuran reguler nya Midori. Pola keseluruhannya adalah seperti ini:

POLA COVER LEATHER-
Pola leather cover travaler’s notebook

Ukuran panjang dan lebarnya aku sesuaikan dengan ukuran buku yang nantinya akan ku pakai, disini aku pakai buku dengan ukuran 11 cm x 21 cm yang kubuat sendiri pakai kertas pilihanku. You need to ensure that the size of the leather bigger than the size of the notebook so the books don’t come out when folded. Kalau polanya udah jadi, tinggal kita gunting deh~

2. Setelah kita dapetin pola berukuran 26,5 cm x 22 cm, kita lanjut dengan bikin lubang untuk tali elastisnya, Disini aku bikin lubang sebanyak 5 buah. Kalian sebisa mungkin buat lubang pada posisi yang sesimetris mungkin. Aku biasanya mulai bikin lubang dari tengah dulu. Aku lebih suka mulai dengan bikin garis tengah secara vertikal, terus  aku cari titik tengahnya dan aku tandain lagi pakai pulen. Untuk memastikan kalau titik tengah kalian udah bener, coba lipat covernya jadi 2 bagian untuk ngeliat apakah titik itu udah bener bener ada ditengah lipatan. Kalau ternyata gak pas ditengah, digeser-geser lagi aja titiknya.

Processed with VSCO with a6 preset

Selanjutnya, kalian juga bikin tanda untuk masukin tali elastis bagian atas dan bawah. Aku biasanya ngasih jarak 1 cm dari bagian bawah dan bagian atas bahan kulitnya. Sedangkan antara lubang kanan dan kiri juga berjarak 1 cm atau 0,5 cm dari garis tengah untuk masing-masing lubang di kanan dan di kiri. Ngebingungin gaksih penjelasannya? Huhu I suck at explaining things.

Processed with VSCO with a6 preset

3. Setelah kalian nandain titik untuk bikin lubangnya, kita mulai proses melubangi titik titik tersebut dengan paku dan palu. Sebenernya ada alat khusus untuk ngebolongin bahan kulit kayak gini, cuman aku lupa naro alatnya, jadi aku ganti pakai paku aja walaupun paku ku kekecilan sebenernya.

Processed with VSCO with a6 preset

Kalian ngelubanginnya jangan ragu-ragu ya, pokoknya lubangin aja yang mantep karena ukuran tali elastisnya lumayan gede, daripada susah masukinnya. Btw pas bolongin kulitnya kalau bisa dikasih alas kayu ya, biar lebih gampang ngebolonginnya. Disini aku pakai talenan karena gapunya alas kayu yang lain wkwk.

Baca juga: Sending Postcard and Snail Mail; Revisiting Old Hobbies

4. Now it’s time to put the elastic cord in. Take a long enough piece of your preferred elastic cord and divided it into two parts. Di sini aku ngebagi talinya jadi ukuran 45 cm dan  55 cm. Aku mulai masukin tali elastis sepanjang 45 cm dan aku lipat jadi 2 ke kedalam lubang yang ada di tengah buku sebagai pengunci buku. Begini kurang lebih penampakan talinya ketika udah berhasil dimasukin lewat lubang yang tengah dari sisi dalam.

Processed with VSCO with a6 preset
tampak dalam
Processed with VSCO with a6 preset
tampak luar

Setelah tali berhasil dimasukkan, jangan lupa kita tali mati sisa tali yang ada di dalam cover, biar talinya ga lepas 🙂

Processed with VSCO with a6 preset

5. Setelah tali penguci buku terpasang, selanjutnya kita pasang tali yang digunakan untuk ngikat buku dibagian dalam. Step by step pemasangan talinya kurang lebih seperti ini:

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Untuk pemasangan talinya kurang lebih kayak gambar diatas ya, simple sekali bukan? Btw aku sengaja bikin 2 tali di dalamnya jadi bisa dimasukin 2 buku ke dalam 1 cover.

6. Kalau talinya udah terpasang, sekarang saatnya kita pasang insert/buku ke dalam cover leather yang udah kita bikin. Cuma tinggal diselipin aja talinya~~

Processed with VSCO with a6 preset
Cara pemasangan insert pertama ke dalam leather cover
Processed with VSCO with a6 preset
Cara pemasangan insert kedua ke dalam leather cover

Processed with VSCO with a6 preset

Yeay udah jadi deh leather notebook covernya. Btw ujung ujung covernya bisa kalian bikin melengkung atau mau tetep siku siku kayak punyaku ini. Aku sebenernya lebih suka yang ujungnya melengkung sih, cuma kemarin kelupaan belum bikin tapi udah terlanjur foto dan males foto ulang.

Processed with VSCO with a6 preset

Semoga tutorial –yang gak jelas– ini bisa bermanfaat untuk temen-temen yang pada mau bikin traveler’s notebook juga. Kalau ada yang udah pernah bikin DIY notebook jenis lain atau mungkin pakai midori yang asli, boleh loh share di kolom komen tentang kesan pesannya selama pakai Midori Traveler’s Notebook. I’d love to hear that!

Thank you! See you on the next post. ♡♡

Sending Postcard and Snail Mail; Revisiting Old Hobbies

The thought that in a few months after all the painful hours I spent at work each day I’d be somewhere traveling for a few days is one of the things that keeps me going everyday. But due to the Covid-19 pandemic many plans got cancelled; now I’m even taking a month off of work. I guess what I need right now is pretty much something keep me occupied, or at least something fun to do during this stay-at-home period, just like everyone else on Instagram who seemed so busy doing their hobbies or learning new skills. And all this eventually led me to revisit an old hobby; sending postcard and snail mail. I know I still have to go out to the post office to send them but it’s only 500 meters from my house.

Processed with VSCO with a6 preset

It’s been some time since the last time I sent postcard and I rarely did the direct swap either. I pretty much didn’t stock up on the postcards to actually start sending one again, so I decided to make one with some photos taken by yours truly using analog cameras & mirrorless. Yayy! Another stuff to keep me occupied, plus..our photos don’t only end up on the gram.

Processed with VSCO with a6 preset
The postcards I made with photos from analog cameras
Processed with VSCO with a6 preset
The postcards I made with photos from mirrorless camera

To keep the postcards and other stuffs for snail mailing, I provide 2 boxes; one for the postcards (blank and incomings), snail mails, & handmade envelopes, while the other one is used to keep stamp supplies, washi tapes, image cutouts and whatnot. I know it’s not really much but it makes me easier to organise them rather than to put them in the same box.

Processed with VSCO with a6 preset
My blank postcard
Processed with VSCO with a6 preset
Handmade Envelope for Snail Mai
Processed with VSCO with a6 preset
Stamps, image cutouts, washi tapes, and vintage papers.

Besides sending the postcards for postcrossing, I also sent them to people who wanted it on Twitter and they only had to send their mailing address to me.

In total I sent around 23 postcards on May; 5 for postcrossing. In additon, I also send 1 snail mail to Turkey. I spent more or less two nights to write & decorate the postcards cause I didn’t just send them; I had to look at the pictures and decided who would like it the most. I’m glad that some people already told us that they had received the postcard.

EYpOaA7U0AEkcgy
The postcards I sent on May

Anyway if you’re interested to swap your postcard with mine please let me know. Or if you want to send yours to me that would be great :3

You can see my postcards on my other instagram account created specially for postcard & snail mail thingy @kartuposnadya ♡♡

P.s: wow it’s been two years since the last time I wrote a blog post in English. I kinda miss it.

Perbedaan Maybelline Super Stay Matte Ink Lip Cream Asli vs. Palsu

Setelah 10 bulan nggak ngepost apapun di blog karena jiwaku dikuasai oleh rasa malas yang luar biasa, akhirnya aku mutusin buat ngepost tulisan lagi. By the way, aku ngeganti url blogku loh, pasti nggak ada yang sadar. Ya kan, ya kan? *emang url sebelumnya apa gitu nad?* *emang ada gitu yang masih baca blogmu?*

Tulisan ini didasari oleh rasa khawatir yang muncul setelah liat bibir adekku yang nakale puol itu tiba tiba agak jeding (semacam bengkak) dan kering kemerahan disekeliling atasnya setelah dia pake lipcream “Maybelline” Super Stay Matte Ink yang temennya kasih ke adekku. Kenapa kudu banget pake tanda kutip? Karena, setelah ku telit *cieileeh* ini produk agak aneh, kayak palsu gitu. “Whoa, whoa, kok bisa tau gitu?” “Ahh sotoy nih si Nadya.” Eitsss sebelum ngatain aku sotoy, cari sensasi, panjat sosial, pengen tenar ataupun viral *oposih*, nanti akan ku tulis satu persatu keanehan yang ku temuin biar kalian bisa lebih careful dalam membeli lipcream, khususnya si Maybelline Super Stay Matte Ink ini.

Processed with VSCO with a6 preset

Oiya, setelah aku curiga kalau ini produk palsu, aku langsung check video nya @cittaf di Instagram, karena dia pernah ngepost video perbandingan produk ini yang real vs fake, dan ternyata ciri-ciri produk palsu itu ada semua di lipcream yang dipake sama adekku. Seketika aku langsung larang dia pake produk itu dan ku ajak beli yang baru hari itu juga. Inilah beberapa perbedaan dari produk yang aku beli dan produk yang adekku dapetin dari temennya. Produk yang aku beli yang warna coklat tua yak, dan punya adekku yang merah (eiya gaksih merah? Ah sebut aja merah lah ya biar gampang.

Ukuran dan Bentuk Packaging

Dari segi ukuran, si lipcream coklat ukurannya lebih panjang dan lebih ramping dibandingin yang merah. Terus dari segi bentuk, si lipcream coklat ini nggak kotak siku-siku sempurna, agak melengkung gitu di bagian alasnya. Sedangkan si lipcream merah packagingnya bener-bener kotak. Sebagai tambahan, karena lipcream ini ngga ada boxnya, coba pas beli diliat tekstur packanging lipcreammya. Si lipcream coklat itu packangingnya gak halus, agak bertekstur kayak kertas paperbook. Sedangkan yang merah itu bener-bener halus gak ada teksturnya sama sekali.

Processed with VSCO with a6 preset

Mon maaf itu yang merah tulisannya udah pada ngelopek jadi ngebandingin font nya.

Keterangan Produk pada Packaging

Produk yang warna coklat ini ada tulisan nomor BPOM, distributornya, dll yang tercetak langsung pada kemasan. Sedangkan yang merah bener-bener polos ngga ada keterangan apa-apa cuy. Hiyyyy.

Processed with VSCO with a6 preset

Di kedua lipcream ini sama sama ada label putih yang ber-barcode gitu sih. Bedanya, di lipcream coklat ini ada tulisan ingredientsnya, sedangkan yang merah ngga ada tulisan apa-apa, only barcode dan tulisan maybelline blablabla seperti yang ada difoto di bawah ini. Aku gaktau sih apakah dulu di plastik pembungkus lipcream merah ini ada tulisan ingredientsnya atau engga, tapi yang jelas si lipcream coklat ingredientsnya nempel langsung dipackangin dalam. Gimana kalau ingredientsnya ternyata bahan-bahan aneh kek cat kayu/cat tembok gitu? T.T

Processed with VSCO with a6 preset

Label Keterangan Shade Lipcream

Nah yang ini beda banget sih! Lipcream yang coklat ada keterangan nomor dan nama shadenya. Sedangkan lipcream merah cuma ada tulisan nomor doang tanpa nama shade. Apakah sampai sini kalian sudah percaya kalau ini produk aneh banget?

Processed with VSCO with a6 preset

Oiya, disini kalian bisa liat perbedaan bentuk yang ku bahas diawal tadi. Yang coklat bentuknya nggak kotak, agak melengkung gitu. Sedangkan yang merah bener-bener kotak.

Harga

NAH INI NIH. Karna adekku cuma dikasih sama temennya, jadi akhirnya aku tanya ke temennya yang ngasih lipcream merah ini. Dan kalian tau berapa harganya? Rp 20.000. Yak betul, anda tidak salah baca, saya tidak typo. Lipcream keluaran “Maybelline” ini hanya dibandrol Rp. 20.000. Dan kalian tau berapa lipcream coklat yang saya beli ini? Rp. 115.000 untuk 1 buah lipcream. Perbedaan harga yang fantastis bukan? 1:5 bahkan masih sisa hahaha. Kebayang gaksih ini bahan apa aja yang dipakai? Aku yakin mereka sama sekali gamentingin keamanan produk. Diluar sana emang ada produk lokal dengan harga 20ribuan, tapi setidaknya kalau brand sendiri pasti bakal merhatiin keamanan, beda sama barang palsu yang produsennya bodoamat sama kualitas produknya, secara ini kan merk orang lain.

Sampe sini masa masih mau husnudzon sih sama produk ginian? Nih aku liatin kondisi bibir adekku, biar besok besok lebih berhati-hati dalam beli produk.

Processed with VSCO with a6 preset

Adekku emang polos sih, temennya pun juga. Makanya mereka jadi sasaran empuk para oknum yang pengen dapet keuntungan dari cara yang nggak halal. Buat temen-temen yang punya adek/sodara yang baru coba-coba pake make-up, jangan lupa diawasi. Karena mereka yang baru coba-coba biasanya cenderung milih barang yang harganya murah karena alasannya masih belajar atau hanya untuk latian. Murah boleh, aku pun murah-murah barangnya. Tapi ya murahnya yang masih masuk akal lah, nggak gini juga atuh. Duh.

On Maintaining Friendship

adult-bar-blur-696218

It’s been so long since the last time I had a meaningful conversation with my friends, especially the ones I used to be close with. I’m not gonna play victim and act as if they treated me so bad and left me behind. In fact, I’ve been acting distant lately, and perhaps so have they. It’s safe to say that I have no faintest idea of how they’re doing if it’s not with the help of Instagram and Twitter. Social media indeed has strange way of making us feel like we still know each other’s life when in reality we barely do anymore.

To begin with, in the past several months I haven’t reached out to some of my friends and haven’t replied to their messages to the point where they might assume I ignored them on purpose. Maybe in a way, I did, but not to all of them. I’m a horrible friend and seriously screwed up. I’m really sorry for that. I’m sorry that things haven’t been so great lately. I might come off as uncaring and selfish. I won’t be surprised if some of them no longer consider me as their friends. I get it. I can’t expect anyone to stick by me when I don’t do my best to keep in touch with them and give them the attention they deserve to get.

Friendships are fragile and require active maintenance, or they’ll die. I guess I’ve let it happen more than once. I started to read some articles about how to maintain a friendship so maybe I can still save the remaining friends that I think I still have. Keeping in touch is said to be the fundamental aspect of it, especially when it comes to maintaining a long lasting friendship. It sounds pretty doable though, but I don’t know how to do it. The people I’ve been best friends with until now are the kind of low maintenance friends, and I’m also a low maintenance friend. We don’t always talk to each other every day. We could go months without seeing each other. But we always give the reassurance that we still have each other.

As a trash texter with mild depression, it’s hard to imagine what I have to do to keep the friendship alive when the very basic thing like reaching out to friends, responding back to their messages, or making phone calls can feel so overwhelming sometimes. My close friends came from various background with various upbringing. Each of them carries different set of personality. I have friend whom I can do crazy things together, and I have friends whom I can sit for hours doing nothing but enjoying each other’s company while telling about our secrets. As much as they seem to be diametrically oppisosite, they’re very understanding towards my habit. They never call me out for being not fun when I’m not really up to do anything. That’s the kind of friends that I need in my 20s. I’m only two years away from quarter life crisis so I’m constantly trying to avoid the gravity to fall into it while preparing myself for the probability of experiencing it. No wonder I’m always exhausted.

Talking to my friends has tremendous benefits for my health and psychological well being, as well as broaden my knowledge and perspective. But the crux of the matter is, what kind of friends? Obviously not the ones who drain my energy, make me feel uncomfortable, guilty, insecure, and remind me of all the things I don’t want to be associated with anymore. Even though I’ve forgotten about why I stopped talking to certain people, not all of it was due to some major or minor problems. Sometimes it just happened. We lost the interest to continue the conversation, we started to reply a little longer than usual and finally we never heard anything from each other until our birthday –if we both happened to know each other’s birthday and remember it.

Humans are changing throughout life. The friends you used to do crazy things together apparently have changed and no longer into it. They friends you used to see eye to eye might no longer be on the same page as you about everything, or no longer share the same interest, value, and point of view, which later cause the friendship to be no longer enjoyable. The friends whom you used to stay up late with and talk about everything became person you no longer feel comfortable to spill your guts to.

After witnessing the end of my friendship with a few people, I came to realization that not all friendships are meant to last forever, no matter how good it used to be. Sometimes things are better left as mere memories. We aren’t meant to keep every friend we make, sometimes their chapter in your life is done because they only belong to certain version of yourself. Maybe someday they will end up showing up again in another chapters of your life.

Sakit, Lupa Bawa Dompet, dan Kehabisan Pulsa, Kuota Internet, dan Saldo Gopay

Jumat sore kemarin akhirnya aku beli kartu baru buat internetan. Terakhir beli mungkin sekitar 6 bulan yang lalu, itu pun terpaksa karena lagi ada kerjaan di daerah yang susah sinyal dan sialnya providerku ga ada sinyal sama sekali. Selama hampir dua tahun belakangan aku pake hotspot tetangga, jadi ga ngerasa perlu-perlu amat buang-buang duit buat beli paket internet. Pokoknya kebutuhan akan internetku udah terpenuhi dari sini. Ber season season serial TV favoritku dan ber album-album band favoritku berhasil nangkring di laptop ini atas jasa hotspot tetangga ini. Mana gretong pula woy!! Asik bet lah pokoknya!! Ya biarpun kehalalannya masih diragukan sih karena aku minta username dan passwordnya dari anak tetangga yang pake internet ini juga ehehe. Pokoknya ini adalah nikmat Tuhan yang patut disyukuri. Sebagai sobat qismin, ini semua sangat membantu dari segi finansial.

Sekitar awal Februari kemarin, pas aku ngeposting writing challenge hari ke dua, koneksi internet masih aman-aman aja. Bahkan jam 11 malam aku masih sempet dengerin lagu di Spotify sebelum tidur. Tapi entah kenapa jam 3 pagi aku kebangun terus udah gabisa log in ke hotspot tetangga. Aku pikir lagi error, karena emang kadang sering kayak gitu, tapi palingan ntar siang udah bisa dipake lagi. Yaudah paginya aku paketin internet aja pake pulsa karena emang harus pesen gojek buat berangkat ke kantor. Kalo pulangnya kan emang bisa pake wifi sana.

Hari-hari berikutnya internet tetangga tetep gabisa dipake. Akhirnya aku berniat nanya ke anak tetangga yang dulu ngasih username dan password. Dan ternyata dia selama ini juga ga langgangan!! Dia dikasih passwordnya sama penjaga warung yang kerja di penyedia hotspot ini. Wah kacau ini mah. Kaga bisa pake hotspot tetangga lagi –secara haram.

Sejak ga ada hotspot tetangga hidupku mulai berubah. Ga ada lagi yang namanya nontonin ulang video review makeup dan skincarenya Suhay Salim. Ga ada lagi yang namanya nontonin drum cover pas lagi bosen. Ga ada lagi nontonin videonya brain craft dan SciShow. Kudu nungguin jam 1 malam buat nontonin itu semua, soalnya cuma kuota malamku yang berlimpah ruah. Sejak saat itu aku jadi boros beli pulsa buat internetan. Ini benar-benar berdampak pada perekonomian keluarga. Keluargaku terancam kelaparan gara-gara duitnya pada dipake buat beli pulsa terus. Dan begonya, sampai detik itu aku masih belom kepikiran buat beli kartu baru dengan kuota yang besar biar ga boros pulsa. Sampai akhirnya, beberapa moment menyebalkan yang terjadi minggu ini bikin aku berpikir ulang tentang semuanya.

Moment menyebalkan itu terjadi hari rabu kemarin. Jadi sehari sebelumnya, sekitar selasa sore paket internetku abis. Aku males maketin internet karena pas itu badanku lagi gaenak dan aku pengen istirahat tanpa tergoda internetan. Kalo ada paket pasti jatohnya malah blogwalking kemana-mana. Baru sekitar rabu sore aku maketin internet karena takut ada yang nyariin. PADAHAL MAH GA ADA. Beberapa menit awal hapeku berisik banget sama notif dari whatsapp, line, IG, wordpress, dan email. Pas udah agak tenang akhirnya aku check satu per satu dan ternyata ada email penting tentang program yang pengen aku ikutin yang seharusnya aku baca sejak hari selasa malam. Isinya adalah pemberitahuan interview yang diadain hari rabu siang. Alhasil aku ga dateng, lha emailnya aja baru tak baca menjelang maghrib. Untungnya aku punya kontak whatsapp pengirim email dan tenyata masih dibolehin ikut interview hari kamis jam 9.

Hari kamis pagi, ternyata paket internetku abis karena pas hari rabu sore itu aku cuma maketin 200 MB doang dan udah abis buat nontonin IG story orang-orang. Kampret, gapenting banget. Tapi aku juga update story deng, ehe. Yaudah lah ya, paginya aku paketin lagi karena harus pesen gojek. Dengan bodohnya aku maketin internet 2 kali karena first attempt pulsaku belom kepotong kepotong. Ku kira lagi error kan karena sebelumnya sampai jam 7 pagi emang aku gabisa ngecheck pulsa dan maketin internet. Baru jam setengah 8an aku bisa maketin internet. Karena yang pertama gagal, dengan sotoynya aku maketin lagi beberapa menit kemudian. Tiba tiba pas ada pemberitahuan ternyata aku keitung maketin dua kali. Goodbye my friend. Pulsa terakhirku langsung abis, tinggal 500 perak apa ya.

Aku ga nyangka moment sesepele maketin internet 2 kali bisa bikin aku sesusah itu dikemudian hari. Malam kamisnya, aku dapet pemberitauan interview hari Jumat jam 9. Ini beda sama interview yang kemaren yak. Yaudah lah aku bales kalo aku bakal datang sesuai waktu yang ditentukan. Paginya aku inget sih kalo paket internetku bakal abis pagi ini jam 7 lebih karena emang masa aktifnya cuma 24 jam. Niatnya bakal beli pulsa abis interview aja, soalnya kadang konter pulsa deket rumah baru buka jam 9an. Toh interview gabutuh hape kan, pikirku. Eeeh pas sampe tempatnya ternyata ada semacam psikotest dulu gitu, ngerjainnya suruh lewat hape aja. Mas nya nyodorin secarik kertas berisi username sama password buat log in ke halaman testnya sambil bilang “internet hapenya bisa kan?”. Berhubung aku lagi ga fokus, aku cuma jawab “iya mas”. Aku nangkepnya secarik kertas itu isinya password buat log in ke wifi mereka. Setelah beberapa detik aku liatin, terus aku baru sadar kalo itu bukan password buat wifi. Terus aku bingung lah ya,soalnya mas masnya udah menghilang entah kemana. Lah, terus gimana ngerjainnya?!

Beberapa detik berlalu dengan percuma. Kertasnya kupantengin dengan harapan ada password wifi juga yang tertulis disitu. YA JELAS KAGA ADA LAH. Daripada ga ngerjain akhirnya aku coba ngetok ruangan sebelah, soalnya pas awal datang masnya keluar dari ruangan itu. Eee rejeki anak solehah, alhamdulillah mas nya ada. Abis itu langsung aja aku bilang “mas maaf ternyata hape saya ga ada kuotanya”, untung mas nya dengan baik ngejawab “oh yaudah pake wifi aja”. Alhamdulillah bisa ngerjain testnya, tapi sebelumnya balesin beberapa whatsapp dulu hehehe.

Setelah test selesei, akhirnya aku langsung interview. Pokoknya kelar kelar jam setengah 12an. Aku pengen langsung pulang karena emang lagi gaenak badan. Waktu hari selasa kan cuma gaenak badan, nah rabu malamnya itu aku mulai demam, muntah muntah, dan sakit perut. Masih untung hari kamis kemarin bisa nyempetin interview. Intinya di hari jumat itu aku pengen cepet-cepet sampe rumah soalnya takut sakit perut atau muntah di jalan. Sempet kepikiran mau order gojek aja, tapi gopay ku abis dan aku ga bawa uang cash banyak. DAN GA BAWA DOMPET PULA KARENA AKU BAWA TAS YANG BERBEDA DENGAN TAS YANG AKU BAWA WAKTU INTERVIEW HARI KAMIS. Aku juga ga yakin sih di dompetku yang ketinggalan ada duit cash dalam jumlah besar, soalnya kemarin kamis abis interview aku langsung buru buru pulang dan ga mampir ke ATM. Aku sih gapapa ga bawa dompet selama ada kuota internet, pulsa, atau minimal saldo gopay. Soalnya biasanya aku tetep bawa uang pecahan di pouch kecil yang biasa dipake buat naro kembalian. Masalahnya kali ini tiga tiganya abis semua dan duit receh di dalam pouch cuma 20ribu. Yang 1500 ku pakai fotocopy, dan yang 3500 akhirya ku pake bayar trans untuk pulang. Untung halte trans nya deket sama tempat interviewnya, cuma harus jalan gasampe 100 M. Sebelum naik trans, aku sempet kepikiran mau ke alfamart dulu isi pulsa. Tapi harus jalan agak jauh. Ah yaudahlah ntar turun dari trans di Lapangan Kasihan kan ada alfamart dan banyak konter pulsa juga.

Di dalem trans aku ngecheckin hape mulu. Sok sibuk abis, biar kayak ada yang ngehubungin, padahal mah liatin meme yang ku panen dari thread twitter orang-orang, sambil sesekali mikir “wah udah mau mulai jumatan nih, nanti agak lama ga ya dapet driver gojek ngga ya?”. Btw, dari halte trans ke rumah jaraknya sekitar 2 KM an jadi emang harus ngegojek dulu. Jalan gapapa sih, jaman SMP aku biasanya jalan kaki rame rame. Tapi sekarang kan aku sendirian, lagi sakit pula. Kalo pingsan siapa yang mau nyeret sampe rumah?

Pas udah nyampe di halte tujuan, aku langsung menyadari kalo konter pulsanya tutup. Mampus, lagi pada jumatan apa yak mas mas konternya? Yaudahlah ke alfamart aja. Btw itu posisinya duitku tinggal 15000. Niatnya, yang 6000 mau ku pakai untuk naik gojek. Yang 6500 mau ku pake isi pulsa. Sisanya terserah dah mau buat apaan. Pas lagi muter-muter di dalem alfamart, aku tergoda beli makanan. Kebiasaan emang kudu muter-muter dulu terutama ke bagian per chitatoan dan per parfuman biarpun udah tau kaga bakal beli, orang duitnya ga cukup juga wkwk sedih amat. Masa iya ngutang. Yaudahlah aku beli mie rebus seharga 2200 sama beli pulsa aja. Pas sampe kasir buat bayar mie dan beli pulsa, ternyata kata mas nya “MAAF LAGI GABISA ISI PULSA MBAK”. BUSEETTT GIMANA PULANGNYA WOY. Mie nya tetep ku beli sih, ya masa iya dibalikin, biarpun sebenernya seketika itu juga langsung ga nafsu makan mie.

Aku keluar alfamart dengan tampang cemberut. Disekitar bener-bener lagi ga ada konter pulsa men!! Gimana kaga cemberut. Aku udah coba jalan tapi ga nemu nemu konter pulsa. Mungkin kalo aku maksain jalan agak jauh bakal nemu, tapi siang itu cuacanya lagi panas banget dan badanku lagi gak mendukung buat jalan jauh. Yaudahlah aku nyari tempat duduk aja buat sms ayah minta jemput. Akhirnya aku nemu tukang es coklat dan mengikhlaskan uang yang semula untuk beli pulsa dipake untuk beli es coklat. Udah rejeki mba mba es coklatnya kali ya.

Jadi setelah beli es coklat itu sisa uangku tinggal 6800. Oke ini buat naik gojek cukup sih, tapi pake apa ordernya???? Hmm. Sambil mikir akhirnya aku nulis sms dulu buat ayah yang isinya “yah pulang dari kampus jam berapa? abis jumatan langsung pulang aja dong, kuota dan pulsaku abis, konter pulsa pada tutup semua, alfamart juga lagi gabisa isi pulsa, gopayku kemarin abis lupa diisi, please ya aku nungguin di es coklat sebrang halte takut keburu pingsan”. Sms nya ga langsung aku kirim sih, soalnya aku masih menimbang-nimbang kira-kira siapa yang bisa ku mintain tolong tanpa nunggu lama. Ayah pasti masih jumatan dan jarak dari kampusnya ke tempat aku nunggu mungkin 30 menitan, yang ada aku keburu pingsan. Siapa tau ada orang yang baik hati disekitar situ yang dihapenya ada aplikasi gojek dan mau dimintain tolong orderin gojek dari hapenya. Atau ada yang berbaik hati mau tetheringin.

Kebetulan banget mba mba penjual es coklatnya daritadi mainan hape mulu. Aku samperin aja dan nanya “mba, maaf, ada aplikasi gojek ngga dihapenya?” terus dia bilang “wah gapunya e mba. Kenapa memangnya?”. Untung banget mbaknya nanyain kenapa, jadi aku ada kesempatan untuk ngejelasin kalo aku mau order gojek tapi kuotaku abis dan ga ada konter yang buka. Emang penting sih untuk selalu nanyain “memangnya kenapa?” ketika ada orang nanya sesuatu, kalo gabisa jangan cuma sekedar jawab “engga”. Akhirnya mba ini berbaik hati mau tetheringin hapenya :”) alhamdulillah bisa pulang yeaaaay!!!!

Pas pak gojeknya dateng, aku bilang makasih lagi ke mbaknya karena udah menyelamatkan hidupku. Sebelum naik, duit 6000 buat ongkos udah aku masukin ke saku celana biar ga ribet ngobrak abrik isi tas. Sepanjang perjalanan ga banyak ngbrol sih sama pak gojeknya. Tiba tiba udah mau sampe rumah aja pokoknya. Nah pas udah mau deket, aku raba-raba saku celana buat mastiin keberadaan duitnya. Pas aku pegang, kok duitnya dikit ya? Pas aku itung lagi kok ternyata cuma 4000. Padahal aku yakin banget yang ku masukin beneran 6000. Dua rebuan tiga lembar. Asli. Ga boong. Ya Allah tu duit pake acara ilang segala sih. Terbang kali ya? Huaaaaa 😦

Gara-gara ribet nyariin duit di saku celana, ehhh malah jadi lupa nyuruh berhenti ke pak gojeknya dan akhirnya kebablasan. Puter balik pak, puter balik! Pas lagi puter balik pun aku sibuk nyariin lagi duit di tas, eeeeh kebablasan lagi. Akhirnya puter balik untuk kedua kalinya dan aku minta turun di warung sebelah rumah. Aku langsung ke warung bu Indro dan minjem duit 2000 buat nambahin bayar gojeknya soalnya di dompet yang ketinggalan di rumah emang ga ada uang kecil seingetku. Dan pas ku check ternyata emang ga ada uang karena aku adalah tipe anak yang baru ambil duit kalo pas mau pergi. Ya masa pa gojeknya ku suruh anter ke ATM dulu kan gamungkin. Ya Allah kenapa hari ini gini amat sih.. 😦

adult-alone-autumn-262075

Sampe rumah aku langsung bersih-bersih dan masak mie. Karna berhasil sampe rumah dengan selamat, jadinya aku mau makan mie nya ehehe. Untungnya ga lama kemudian ayah dateng, jadi aku bisa langsung nyeritain semuanya dari awal ampe akhir. Ampe keselek pas lagi makan mie gara-gara ketawa mulu. Ayah juga cuma ngakak sambil ngepuk puk kepalaku dan bilang “yaudah nanti sore beli kartu baru aja dek yang kuotanya gede”. Yeay ayahku emang pengertian.

Mungkin ini hukuman atas dosa yang kuperbuat selama dua taun belakangan ini, pake hotspot tetangga secara gretongan padahal harusnya langganan. Kenapa kok ga langganan? Hmm ya karena aku dan ayahku sama-sama mager buat bilang ke tetangganya. Gajelas banget emang kita.

Semoga ga ada lagi rentetan kejadian menyebalkan kayak gini dikemudian hari.