Culinary, Opinion, Review

Nyobain Menu Baru Combo Richeese Black: Versi Dark Mode dari Richeese Factory

“Richeese black enak ngga?” tiba-tiba Febri nanyain hal itu ketika dia bingung mau makan apa tengah malem. Aku yang gatau menau soal itu langsung kebingungan dong yaaa, dan akhirnya check di google dan gofood juga untuk memastikan kebenarannya dan liat kisaran harganya. Wow beneran ada yaa ternyata.

Processed with VSCO with a6 preset

By the way, bagi para pecinta pedes pastinya udah gak asing dong yaaa sama Richeese Factory? Coba sini ngaku anak Jogja yang beberapa tahun kebelakang pernah bela-belain pergi ke Solo naik prameks cuman demi beli Richeese doang? Wkwkwkwk toss duluuu sini. Maklum ya, dulu pas awal awal booming memang belum ada Richeese di Jogja. Sekarang mah alhamdulillah udah ada empat cabangnya yaitu di Sudirman, Jogja City Mall, Jalan Parangtritis, dan yang terakhir di Lippo Plaza (ini baru banget, kurang tau sekarang udah buka atau belum).

Setelah belakangan ini orang-orang pada pamer soal Instagram dark mode, Richeese juga ternyata juga gamau ketinggalan dong dengan ngeluarin richeese dark mode alias Richeese Black. Awalnya aku gabegitu penasaran sih sama trend trend makanan kayak gitu, tapi setelah liat banyak meme tentang Richeese Black yang berseliweran di twitter, ditambah foto tangan orang-orang yang pada item-item abis makan richeese, aku jadi terpanggil untuk nyobain juga. Dan tanpa pikir panjang akhirnya langsung ngajakin Febri buat nyobain langsung keesokan harinya.

Malam sebelumnya, Febri dengan curangnya ngeiyain ajakanku untuk makan Richeese Black tapi dia gamau pesen Richeese Blacknya doooong. Dia tetep mau pesen menu andalannya aja yaitu Combo Fire Wings Level 5. Bhaaaaaiqq beeb. Bhaaaiiiq. Dasar tida mau mengambil resiko wkwkwk. Tapiii, karena dalam lubuk hati yang terdalam  aku pun masih menyimpan keraguan akan rasanya, jadinya aku udah niatin mau tetep pesen tambahan saus BBQ nya + minta cheese yang biasa. Biar ga kecewa amat dan tetep bisa menikmati makanannya gitu kalau ternyata rasanya jauh dari ekspektasi.

Processed with VSCO with a6 preset

Combo fire wings + combo richeese black

Menu Richeese Black

Ada beberapa makanan yang masuk kedalam varian Richeese Black ini yaitu Combo Richeese Black, Richeese Black Sauce, Richeese Black Friend Fries *aku gangerti kenapa namanya friend fries instead of french fries?*, Richeese Black Lava, dan Richeese Black Ice Cream, dan Cheesy Fish Bite. Dan dari semua menu itu warnanya item, kecuali si ayam dan si cheesy fish bitenya. Itu menurut gambar ya manteman, karena pada kenyataannya aku cuma pesen Combo Richeese Blacknya dan mendapatkan ayam goreng + saus keju hitam + black lava (plus minta tambahan saus BBQ level 5 dan extra cheese seperti yang kusebutin diawal).

banner-richeese-black

Source: richeesefactory.com

Perbedaan Combo Richeese Black dengan Combo Richeese Fire Chicken Lainnya

1. Tidak ada saus BBQ dalam paket kalian

Hal yang paling mencolok dari menu yang kalian dapatkan dari Richeese Black adalah hilangnya saos BBQ khas Richeese dari menu kalian. Buat aku pribadi ini agak mengecewakan sih, soalnya aku sedoyan itu sama pedes. Aku kirain ayamnya bakalan tetep dikasih saus BBQ tapi warnanya hitam, eh ternyata yang hitam itu cuma kejunya, sedangkan ayamnya ya cuma ayam biasa dengan warna selayaknya ayam goreng richeese dengan rasa yang sama saja. Ini bisa diakalin sih dengan pesen saus BBQ lagi, tapi itu artinya kalian harus ngeluarin uang lagi untuk beli saus seharga kurang lebih Rp 5.500. Sausnya bisa request untuk langsung dicampur sama ayamnya (kayak combo fire) atau dipisah kayak punyaku.

Processed with VSCO with a6 preset

Combo richeese black. Saus BBQ dibeli terpisah diluar paket

2. Warna dan rasa saus keju

Kalau kalian pesen Richeese Black, keju yang kalian dapet warnanya hitam, bukan kuning kayak biasanya. Sebenernya ini sih inti dan juru kunci dari Richeese Black yang kalian beli. Tanpa si keju hitam ini, Richeese Black kalian tidak ada bedanya dengan ayam Olive biasa wkwkwk. Ya sama aja kayak Richeese Combo Special lah ya. Karena agak was was sama rasa saus keju hitamnya, jadi saya minta extra cheese yang biasa untuk jaga jaga. Eheheh

Processed with VSCO with a6 preset

Soal rasa kejunya, aku pribadi ngerasa kayak yang keju hitam isi sedikit lebih asin daripada yang kuning. Gak beda jauh sih sebenernya, so I dont know it’s just me or not?

Processed with VSCO with a6 preset

3. Minuman yang kalian dapatkan

Kalau biasanya kalian bisa milih antara Pink Lava atau Fruitarian Tea, nah untuk Combo Richeese Black ini menu yang bisa kalian pilih cuma Richeese Black Lava aja. Tapi kalian tetep bisa milih sih mau yang ukuran biasa atau yang gedean dikit. Berhubung aku suka ga abis kalah pesen diupsize, jadi pesen yang ukuran biasa aja.

Processed with VSCO with a6 preset

Soal rasa black lava nya sih kalau kata Febri kayak coca cola. Bedanya, ini agak asem asem gimana gitu, tapi gak seasem fruitarian tea ya temen-teman. And oh, kalau kalian pesen combo selain richeese black, kalian gak bisa milih black lava ini sebagai minuman kalian ya. Febri kemarin sempet milih yang Black Lava padahal dia pesen combo fire wings terus kata mbaknya “oh maaf mas nggak bisa”.

Harga Combo Richeese Black

Berhubung aku adalah orang yang gak suka nyimpan nota pembelanjaan jadinya notanya ku tinggalin gitu aja atau mungkin ku jadiin lap tangan sebelum mencucinya di wastafel. Mon maap jorok dikit gapapa ya hihihihi. Jadi, yaa, mon maap juga nih agak lupa harganya. Kalau gaksalah sih sama aja deh kayak Combo Fire Wings yaitu sekitar Rp 39.000. Soalnya kalau aku check di GoFood harganya Rp 42.000, sama kayak combo fire wings gitu hehe. Semoga infonya tidak salah ya manteman :”). Duh sangat tidak informative memang. Gimana sih nad niat nulis atau kagak wooooooy?

Repurchase or not?

Sejujurnya, setelah mencoba menu baru ini, hatiku tetep berada di combo fire wings level 5. Bahkan pas Febri makan pun aku sesekali melirik ke arah makanan dia sampai ditawarin “ini kalau mau ambil aja” “apa mau tukeran?” Pacar saya peka sekali memang, ya walaupun untuk tawaran yang kedua pasti dia basa basi sih. Jadi kalau ditanya mau beli atau tidak? Hmm kemungkinan besar tidak, kecuali kalau ditraktir gapapa. Nanti saya tinggal beli saus BBQ level 5 nya saja.

Selain itu, sebenernya aku agak terganggu dengan warna item item yang nempel ditangan dan bikin kotor kuku. Udah gitu kata Febri nempel-nempel juga di bibir dan di gigi hahahahah. Dan agak serem juga gaksih kalau misal gasengaja kena baju? Apalagi aku clumsy sekali. Kalau noda yang di jari sih cukup dijilat dan disedot sedot mulut juga mayan ilang, tapi ini versi jorok ya wkwk. Versi normalnya ya silahkan jalan ke wastafel dan cuci tanganmu doong yaaa. Nah kalau noda dibaju aku gatau apakah nge-stain atau tidak.

Tapiiii kalau soal rasa keseluruhan enak enak aja kok. Ya kayak kalau kalian pesen Richeese Combo Special gitu lah. Saranku sih kalau mau makan ini mendingan di take away aja biar lebih bebas makannya.

Buat yang mau nyobain, selamat mencoba yaa. Buat yang udah nyobain, please let me know what you think of it 😉

Advertisements
Standard
Holiday

The Heritage Palace, Bekas Pabrik Gula yang Kini Jadi Instagrammable di Solo

Kalau ada pertanyaan yang sering aku dan Febri tanyain selain “lagi ngapain?” maka itu adalah “besok kita mau kemana lagi nih?”. Padahal mah belum lama ini kita kan abis ke Gunung Andong. Tapi emang gitu kali yaa? Main main itu bikin ketagihan. Capek, tapi nagih, yaa biarpun pas sampe rumah tetap sambat “anjir pegel pegel banget badanku cuuuk”. Dan diakhir bulan September kemarin, pertanyaan itupun muncul kembali dan kita akhirnya memutuskan Kota Solo sebagai jawabannya, sekalian icip icip makanan yang ada di sana. Akhirnyaaaa ke Solo juga setelah sekian lama cuman jadi wacana.

Sebenernya, kita sama-sama udah pernah ke Solo sih, tapi kalo pergi berduaan belum pernah. Dan biarpun Yogya-Solo ga jauh jauh amat, kita tetep ngelist tempat main dan tempat makan yang mau kita datengin, biar waktu libur yang cuma sehari dan tenaga kita untuk pergi kesana ga terbuang sia-sia. Salah satu tempat yang ada didaftar kita yang bakal aku bahas dipostingan ini adalah The Heritage Palace. Sejujurnya aku udah ngincer ini tempat soalnya tiap kali liat di Instagram @explore.solo kok kayak kece kece gimanaaa gitu tempatnya.

Processed with VSCO with a4 preset

Lokasi The Heritage Palace

The Heritage Palace terletak di Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Jaraknya kurang lebih 10 KM dari pusat Kota Solo. Kalau kalian ngikutin arahan google maps Inshaallah ga akan kesasar, karena kita pun cuma berbekal google maps. If I could find it, you could too. Lokasinya emang gak di jalan raya banget sih, tapi tetep easy to find. Kalau kalian udah makin deket sama lokasinya, kalian akan liat ada bangunan tinggi diantara bangunan lainnya and that is it.

Halaman parkir The Heritage Palace ini lumayan luas. Pas aku sama Febri datang sih ga begitu rame sama kendaraan, mungkin karena weekday juga kali ya. Dan sejujurnya, pas sampai parkiran aku sempet agak skeptis sama tempatnya, soalnya dari luar kayak biasa aja. Etssss tapi kita gabole suudzon ya kaaaan, kita coba masuk dulu lah yaaaak, numpang cekrek cekrek, apalagi di halaman parkirnya ada baleho gede yang isinya info mengenai the best spot foto di dalam sana yang bisa kalian jadikan referensi. Oiya untuk tiket masuknya kita harus membayar 20ribu untuk yang outdoor, atau kalau mau terusan sampe indoor harganya 55ribu pada weekdays dan 65ribu pada weekend. Berhubung kita ga akan lama lama juga, jadi kita beli yang outdoor doang aja. Toh agak pricey juga menurutku kalau beli sama yang indoor.

The Heritage Palace? Apaan tuh?

Buat yang penasaran sebenernya The Heritage Palace itu apaan, nah, jadiiii, *browsing dulu* *padahal uda ada di judulnya* The Heritage Palace ini adalah bekas pabrik gula tinggalan jaman belanda, yang kemudian direnovasi dan kemudian dibuka kembali untuk umum sebagai tempat wisata. Oiya, tempat ini masih terhitung baru, belum ada 2 tahun. Pantesan aja, pas aku masuk masih ada semacam pekerja yang terlihat lagi bikin sesuatu, mungkin lagi ngerancang spot baru? *sok tau*.

Processed with VSCO with a4 preset

Seperti pabrik pada umumnya, bangunan bekas pabrik gula ini juga dikelilingi benteng yang cukup tinggi. That’s why dari luar kayak kurang menyakinkan gitu karena yang kita liat cuma bentengnya aja, tapi cukup menarik perhatian sih soalnya bangunan ini tanpa berbeda dari bangunan-bangunan baru yang ada disekitarnya. Tapiiiii, ketika kalian udah mulai melangkahkan kaki ke dalam melewati petugas pengecheck-an tiket, kalian akan mulai bisa liat keindahan bangunan didalamnya.

Di halamannya, kalian akan liat banyak mobil-mobil kuno yang terparkir rapi. Mungkin mirip mirip musium angkut gitu kali yaa? Aku kurang paham jenis jenis mobilnya apa aja, tapi salah satunya adalah mobil kuning yang matching ama kaos aku ini :3

Processed with VSCO with a4 preset

Processed with VSCO with a4 preset

Instagrammable Spot, Serasa Foto di Luar Negeri

Berhubung ini adalah bangunan tinggalan jaman belanda, jadi didalamnya emang kental banget sama nuansa Eropa, terutama gedung utamanya yang paling besar yang berada ditengah halaman. Berasa lagi diluar negeri gitu. Aku rasa ini adalah daya tarik yang paling besar dari tempat ini, soalnya spot didepan gedung utama ini pasti selalu ada yang pake untuk foto-foto. Jadiii kalau kalian kesini mungkin bisa agak tau diri dikit kalau foto-foto, jangan kelamaan dan berasa seluruh spot milik berdua.

Processed with VSCO with a4 preset

Tapi, gak cuma di depan gedung utama doang kok yang instagrammable, di samping gedung pun juga cantik untuk foto-foto sambil duduk di bangku tamannya. Kalau misalnya ngerasa belum puas foto-foto dari halaman, kalian bisa naik tangga menuju lantai 2 agar bisa lebih bebas menikmati pemandangan dihalamannya dan berfoto-foto dengan latar belakang gedung bertuliskan the Heritage Palace.

Processed with VSCO with a4 preset

Buat orang-orang yang doyan foto-foto, pulang dari sini bisa panen foto yang instagrammable buat dipost di feed sih, apalagi kalau juga beli tiket terusan untuk liat wahana indoornya dan foto-foto di 3D museumnya. Aku sih gabegitu banyak foto, soalnya akutu anaknya pemalu dan suka keabisan gaya kalau difoto.

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a4 preset

Processed with VSCO with a4 preset

Oiya buat kalian yang mau main kesini, mereka buka pukul 09.00 – 18.00 WIB. Kebetulan pas itu aku datang sekitar jam 4 sore, jadi udah gabegitu panas dan lebih enak buat foto-fotonya.

Processed with VSCO with  preset

FYI, disana gadiperbolehkan bawa makan dan minum dari luar. Tapi kalian gaperlu khawatir kelaperan atau kehausan karna di dalam sana ada tempat makan yang cukup besar. Dan kalau misal kalian gatertarik sama makanan yang disana, ya tinggal cari makan diluar aja wkwkwk secara di Solo kan banyak makanan enak, kayak yang aku makan sama Febri. Penasaran sama apa yang kita makan di sana? Cus ke blognya Febri ya!

Standard
Holiday

Trip to Baluran & Rekomendasi Homestay Dekat Baluran

Kenapa ya kebanyakan orang kalau udah capek dan stress sama kerjaan, bawaannya langsung pengen liburan? Kayak aku nih contohnya, kadang kalau udah ngerasa stress bawaannya pengen langsung bikin itinerary dan book tiket kereta. Padahal liburan juga menguras tenaga sih sebenernya. Kalian ngerasa gitu juga nggaksih? Walaupun cuma sekedar liburan ke kota sebelah, tapi setidaknya pasti tetep butuh tenaga dan nyiapin segala sesuatunya, biar waktu liburan yang amat berharga itu gak kebuang gitu aja.

Ngomong-ngomong soal liburan, september taun lalu aku sama Febri liburan bareng untuk pertama kalinya ke suatu kota yang ada di ujung timur Pulau Jawa, yaitu Banyuwangi. Agak random juga sih kita bisa nyampe kesana. Semuanya berawal dari aku yang asal nyeplos bilang “aku mau ke Baluran loh” yang ternyata ditanggapi dengan serius oleh Febri. Padahal mah research tentang transport kesana juga belum, nabung juga belum, yakin ada waktu buat kesana juga engga. Tapi seriusan deh, pergi kesini adalah salah satu dari hal yang pengen aku lakuin sebelum nikah, so when I knew I’d go there soon, I was SO ecstatic. Selang 3 minggu, masih di bulan yang sama, akhirnya kita beneran berangkat dong!

Processed with VSCO with a4 preset

Tujuan utama liburan kita adalah ke Taman Nasional Baluran, jadi di post kali ini aku cuma mau nulis seputar transport menuju kesana, penginapan disekitar sana, dan tiket masuknya aja. Untuk tempat lain yang kita datengin di Banyuwangi, baca di blognya Febri aja! Hehehe *dasar males nulis*

Karena kita emang niatnya backpacker on budget, jadi kita milih naik kereta ekonomi Sri Tanjung yang kita beli dari Traveloka karena Febri ada voucher diskon *teteup cari diskonan biarpun cuma potongan admin fee*. Tiket keretanya waktu itu harganya 88ribu per person. Kereta Sri Tanjung berangkat dari Stasiun Lempuyangan pukul 07:00 dan tiba di Stasiun Banyuwangibaru pukul 20:50. Nggak, aku ngga salah nulis. Emang selama itu coy perjalanannya. Ngebayanginnya udah capek duluan.

Setibanya di Banyuwangi, kita kelaperan parah dan langsung beli makanan deket stasiun untuk dibungkus dan dimakan di penginapan. By the way, setelah kalian keluar dari stasiun, sebenernya ada banyak penginapan murah di sepanjang jalannya, jadi kalian sebenernya gaperlu bingung-bingung cari penginapan kayak kita. Karena apa? Karena ternyata penginapan yang kita “book” pun ternyata rada rgajelas. Range harga penginapan di depan Stasiun Banyuwangibaru adalah 80-120 ribuan/kamar/malam berdasarkan beberapa penginapan yang kita datengin pas cari kamar untuk malam ketiga.

Setelah mendapatkan tidur yang cukup di penginapan, paginya kita packing dan check out dari penginapan yang pertama. Sebelum kita caw, Febri ke tempat rental motor yang udah kita hubungi sebelumnya untuk ambil motor. Yaiyala masa ambil truk tronton. Harga sewa motornya adalah 65ribu/hari dan kita nyewa selama dua hari. Kalau harga sewa truk trontonnya kita ndatau soalnya ga nyewa.

Sebelum kita caw ke penginapan kedua buat naro barang, kita sempetin dulu untuk sarapan yang nyerempet-nyerempet makan siang di Nasi Tempong Mbok Nah yang enaknya subhanallah masyaallah allahuakbar. Gangerti lagi. Ini makanan dari surga atau gimana kenapa bisa seenak itu? Jarak warung ini dari stasiun kurang lebih 11 KM kearah selatan. Untuk lokasinya check aja di google maps, anak mager dan gatau jalan gini mana bisa ngejelasin arah-arah jalan gitu. Jalan-jalan di mall aja bisa kesasar ga nemu pintu keluar dan lupa markir motor dimana.

Processed with VSCO with a4 preset

Setelah kenyang makan, kita langsung tancap gas menuju penginapan kita yang kedua, yaitu Bima Homestay yang berada di Desa Wisata Kebangsaan,  Situbondo bener-bener sebelah persis gerbang Taman Nasional Baluran.  Kita booking satu minggu sebelum kedatangan via  WhatssApp. Jaraknya dari Stasiun Banyuwangi Baru kurang lebih 35 KM kearah utara.

Processed with VSCO with a4 preset

Harga kamar di Bima Homestay adalah 150rb/hari untuk maksimal 2 orang, include breakfast yang dianterin pagi-pagi ke kamar, ada tv, kamar mandi dalam, kasurnya ada 2 ukuran queen size pula. Sebenernya satu kamar bisa dipakai untuk 4 orang sih, tapi setauku kalau lebih dari 2 orang akan ada tambahan biayanya 50ribu. Tapi untuk lebih pastinya langsung kontak nonor yang terpampang dipapan homestaynya aja ya.

First impression saat masuk ke halaman homestaynya dan markirin motor tepat di halaman depan pintu kamar adalah.. gilee halamannya luas juga. Dan ketika ketemu bapak pemilik homestaynya langsung disambut dengan ramah banget. Kamar yang mau kita tempatin terasnya disapu lagi. Dan yang terpenting adalah kamarnya luas dan bersih banget, ya Allah setelah dikecewakan di penginapan pertama, rasanya bahagia banget bakal ngelewatin malam kedua disini 🙂 pokoknya recommened banget buat kalian yang mau ke Baluran dan bingung mau nginep dimana.

Oiya sebenernya di dalam Taman Nasionalnya, tepatnya di Pantai Bama ada beberapa wisma yang bisa dipakai nginep dengan range harga 100-200ribuan/malamnya. Aku sempet mencetuskan ide ini sih ke febri sampai kita nemuin blog orang yang udah pernah nginep disana. Dan ternyata…..listriknya cuma sampe jam 11 malam doang coy. Abis itu gelap gulita tanpa penerangan, kecuali kalau emang mau pakai genset dan menambah biaya lagi. Saya sih jelas milih di Bima Homestay dooong. Apalagi, disini kan lokasinya deket jalan raya juga jadi kalau beli makan malam ga susah, udah gitu include sarapan pula, jadi paginya udah gaperlu pusing mikir menu sarapan. Secara aku sama Febri suka bingung nentuin mau makan apa.

Processed with VSCO with a6 preset

Setelah naro barang-barang di Bima Homestay dan beberes alakadarnya, kita langsung gas pelan-pelan ke Baluran. Gausa ngebut-ngebut karena emang deket banget, dan karena lokasinya tepat ditikungan jadi bahaya uga kalau ngebut ngebut. Tiket masuk ke Baluran kurang lebih 35ribuan untuk 2 orang udah termasuk parkir. Pas kita datang, lagi ada perbaikan dibeberapa titik jalan menuju savana bekol jadi emang jalannya masih rusak dan bener-bener butuh perjuangan, dan 14 KM menuju ke savana bekol dari parkiran berasa lama banget, tapiiiii pemandangan pepohonan sepanjang jalannya itu bener-bener bagus sih. I’ve never seen anything like that before in my life.

Processed with VSCO with a4 preset

Perjalanan dari gerbang sampai ke savana bekol ditempuh dalam waktu kurang lebih…..eh berapa ya? Lupaaa eeh 😦 sungguh sangat informative sekali nadya. Ya mungkin 45 menit-1 jam kali ya mengingat kita gak bisa ngebut dan mungkin kecepatan maksimal kita hanya 20 km/jam. Silahkan do the math. Medan jalannya lumayan berbatu sih, karena jalannya emang rusyak parah. Bener-bener nggronjal. Sesungguhnya aku agak was-was kalau bannya bocor. Mana sepanjang perjalanan jarang banget ada orang lewat. Sekalinya ada mobil lewat, eeeh malah cuma bikin debu di jalan pada beterbangan! Tapi, sekarang jalan di Baluran sudah beaspal dan muluus. Pasti makin asyik dan bisa lebih fokus menikmati pemandangan hutan sambil sesekali liat beberapa satwa yang lewat.

Setelah melewati perjalanan panjang dan berbatu, akhirnya sampai juga ke Savana Bekol!! Hal pertama yang kurasain adalah…wow panas uga ya. Haha gakdeng, yang kagum parah sih sama pemandangan savana yang ada. Berhubung kita kesana pas musim kemarau jadi pepohonan dan rerumputan yang ada di savana lagi pada coklat dan kering. Eksotis banget lah pokoknya, ga salah kalau disebut Africa van Java. Nggak nyangka banget beneran bisa sampai ketempat ini sama Febri. Ga nyangka banget :”

Processed with VSCO with a4 preset

Pas kita lagi foto foto, ada beberapa orang yang dateng juga. Wow kita tida sendirian ternyata. Setelah puas foto-foto, kita lanjutin perjalanan kita menyusuri jalanan menuju ke Pantai Bama. Perjalannya kurang lebih 30 menitan, jalanannya masih lumayan ancur. Satu hal yang aku sadari adalah makin ke arah pantai makin banyak monyetnya. Mereka bener-bener ada dimana mana. Nyebrang-nyebrang, duduk duduk dipinggir jalan, bahkan ada yang masang muka ngeselin ketika aku lewat, mungkin kalau diterjemahkan kurang lebih dia bilang “apalo liat-liat? gue samperin lo ntar di pinggir pantai”. Dan bener ajaaa, sesampainya di Pantai Bama monyetnya banyak banget. Bahkan sebelum kita parkir motor pun udah kedengeran suara teriakan dari orang-orang yang pada dikejar monyet, biasanya sih karena mereka bawa makanan. Jadi, please keep in my that jangan bawa makanan banyak-banyak apalagi dikantong kresekin dan ditenteng-tentang, kecuali ya kalau kalian pengen diikutin monyet monyetnya ya no problem sih.

Processed with VSCO with a4 preset

Kita sampai di Pantai Bama sekitar pukul….lupak juga. Pokoknya udah lumayan sore deh, jadi ga panas-panas banget. Pantai Bama ini kayak ngga ada ombaknya dan bener-bener tenang, bahkan pantainya tuh kayak surut gitu airnya, monyet-monyet juga pada berkeliaran di bibir pantai dengan leluasa, berbaur sama pengunjung pantai lainnya. Oiya di Pantai Bama ini gaperlu beli tiket apa apa lagi ya, cukup bayar parkir sebesar 2ribu saja.

Processed with VSCO with a4 preset

Setelah puas foto-foto dan keliling pantai, kita akhirnya mutusin buat beli minum yang ada di warung-warung sekitar pantai sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Selain karena haus, rasanya belum pengen pulang lagi ke penginapan :” tapi ya gimana ya, udah keburu sore dan bakalan serem aja gitu kalau kemalanan di jalan. Kalau gak salah, mbak mbak tiketingnya juga ngingetin untuk pulang dari Savana bekol sebelum jam 6 sore.

Processed with VSCO with a4 preset

Rasanya sedih dan terharu ketika harus ngelewatin jalanan yang udah kita lewatin tadi. Sedih karena gatau kapan bisa kesini lagi, terharu karena beneran bisa pergi kesini, sama Febri, dan karena Febri juga. Asli deh kalau bukan karena dia, I would’ve never been there. Dan sebelum kita bener-bener pulang, kita sempetin lagi berenti di area savana bekol untuk foto-foto lagi. It was WAY TOO BEAUTIFUL to just walk past it without enjoying the scenery it has to offer for the last time.

Processed with VSCO with a4 preset

Perjalanan pulang kembali ke penginapan terasa lebih cepat dibanding ketika berangkat. Kenapa selalu begitu ya? Haha. Sepanjang perjalanan, kita gak begitu banyak mengeluhkan soal capeknya perjalanan sih, cuma sekedar menikmati pemandangan sambil bercandaan. Kapan lagi yaaaa kira-kira bisa liburan ketempat ya sekece ini? :” ya biarpun emang beneran capek dan memakan waktu yang lumayan banyak. Seperti yang aku bilang diawal cerita tadi, liburan kan memang bikin capek dan menguras tenaga, hahaha, tapi sepadan juga dengan experience yang didapat. And this place is worth the effort & the energy. I think you all should consider vising this place someday.

Standard
Holiday

Cerita Tektok Gunung Andong 1726 mdpl via Dusun Sawit

For the very first time I’m gonna write about my hiking experience. Sebenernya aku bukan anak gunung, bahkan bisa dibilang ini adalah naik gunung pertama yang berasa naik gunungnya dibanding gunung lain yang pernah kudatengin. Yaaa walaupun itungannya gunung ini lumayan pendek juga. Etsss, tapi tetep tidak boleh menyepelekan gunung, ya kan?

Sebelum masuk ke cerita utamanya, cerita dikit dulu ya. Jadi, di tahun 2018, aku sama Febri pernah punya rencana untuk ke Ranu Kumbolo. Sedeeeppp kan rencana kitaaaah. Sebagai pemanasan, kita gegayaan nih ke Gunung Api Purba Nglanggeran (700 mdpl) tapi gataunya kita ngos-ngosan parah (atau lebih tepatnya, aku ngos ngosan parah). Akhirnya kita ngerombak total rencana kita, dan atas saran temennya Febri (lupa siapa namanya beb) kita mutusin buat holiday cantiqq ke Gunung Bromo pake open trip started from Malang. Tinggal duduk manis di dalam jeep, dijemput dan didrop di hotel, plus ada fotografernya sekalian. Wow lazy traveler much?! Hahaha. Btw cerita tentang liburan ke Malang ama Febri belum sempet ditulis 🙂 ehehe 🙂

Bulan April 2019, aku nyempetin main lagi ke Gunung Api Purba sama Ayah. Kali ini lebih terkontrol dan gabegitu ngos-ngosan. Efek pengen terlihat kuat didepan Ayah kali ya, jadinya sok kuat padahal keringat bercucuran ampe alis ikut luntur. Lanjut ke bulan Juli 2019, mumpung lagi di Tasik, disempetin lah untuk main ke Gunung Galunggung (2167 mpdl). Untuk mencapai puncaknya, kita harus ngelewatin 602 anak tangga kalau lewat tangga kuning. Capek? Yaa mayan lah, tapi surprisingly nggak ngos-ngosan, dan kaki pun ga gemeteran. Daaaan, di bulan September ini akhirnya aku sama Febri nyempetin main ke gunung yang diawal-awal trekking udah disuguhi anak tangga juga, yaituuuu *drum rolls* Gunung Semeru!!!! Gakdeng, boong, Gunung Andong. *akhirnya setelah bacot sepanjang 3 long ass paragraphs masuk juga ke inti ceritanya*

Processed with VSCO with a6 preset

Perjalanan Menuju Basecamp Sawit Gunung Andong

Sehari setelah ulang tahunku, akhirnya aku sama Febri gasss ke Gunung Andong, Magelang. Kita berangkat dari Jogja sekitar jam 7.30 dan sampai di basecamp sawit sekitar jam 10an, yaa kurang lebih 2,5 jam karena kita sempet berenti buat beli perbekalan, isi bensin, dan makan di angkringan dulu. Lokasi basecamp sawit ini sangat mudah diikuti di google maps, ditambah lagi akan ada banyak papan petunjuk jalan yang akan mempermudah kalian. Di google maps sebenernya diarahin lewat jalan lain, tapi kita milih jalan yang ngelewatin Armada Town Square dan belok kana ke Jl. Soekarno Hatta. Nah dari sini kalian lurus terus sampai ngelewatin Terminal Tidar, dan nanti ketika nemuin lampu merah kalian belok ke kanan menuju ke Jl. Magelang-Salatiga. Dari sana menurutku jalannya lebih gampang buat diikuti dan juga ga begitu serem.

Registrasi dan Beli Tiket di Basecamp Pendakian Gunung Andong

Setibanya di dusun sawit, kita langsung nyari parkiran motor di area basecamp. Berhubung itu hari minggu jadi basecampnya lumayan rame sama pendaki yang baru aja turun. Sampai di basecamp kita langsung ngantri buat bayar tiket seharga 12.000/orang dan biaya parkir 5.000/motor. Sebelum mulai pendakian, Febri nyempetin dulu untuk ke toilet. Kali inii alhamdulillah dia bisa ke toilet dengan aman tanpa khawatir kedingingan kayak pas di Bromo wkwkwk. Sambil nungguin dia ke toilet, aku benerin posisi barang bawaan yang sebenernya ga banyak juga sih, soalnya kita ga bakal ngecamp alias tektok aja. Barang yang kita bawa untuk tektok kali ini cuma air mineral 600 ml 2 botol per orang, makanan secukupnya, tissue untuk ngelap kalo ke toilet (tapi bukan tissue basah ya, karena sama sekali gaboleh bawa tissue basah), jaket, headlamp buat jaga-jaga, dan kamera untuk dokumentasi.

Processed with VSCO with a6 preset

Gerbang pendakian Gunung Andong via Sawit

Pendakian Gunung Andong dari Basecamp hingga Puncak

Kita start pendakian jam 10:30, diawal perjalanan kita bakal ngelewatin perkampungan dan ladang sayur milik warga sekitar sampai akhirnya ketemu gerbang pendakian. Dari gerbang pendakian sampai ke pos pengecheckan tiket, jalannya masih rata semenan gitu, aku gatau apa istilahnya, dan view disepanjang kanan kirinya masih berupa ladang sayur milik warga. Setelah ngelewatin pos pengecheckan tiket, barulah kalian akan nemuin tangga yang lumayan sedep bikin lutut agak bergetar dan nafas mulai ngos-ngosan. Pemandangan di kiri kanan pun udah bukan ladang lagi, tapi hutan pinus. Btw di depan gerbang pendakian ada yang jualan cilok hihihi, dan di sepanjang jalur pendakian kalian juga akan nemuin beberapa warung. It’s a plus! Jadi gaperlu takut kelaperan kalo main kesini.

Perjalanan dari gerbang pendakian sampai pos 1 memakan waktu kurang lebih 20 menit, kalau dari basecamp mungkin sekitar 25 menitan, depends on how fast you walk. Kita milih jalur lama biar lebih cepet untuk sampai ke pos 1. Situasi di pos 1 waktu itu lumayan rame sama rombongan pendaki yang pada istirahat, akhirnya kita mutusin buat jalan terus aja dan cuma berhenti sesekali di tengah trek ketika papasan sama pendaki yang mau turun. Foto di pos 1 pun kita ambil ketika turun. Oiya di pos 1 ini ada toiletnya jadi kalau tiba tiba kebelet bisa mampir dulu. Kalian cukup bayar 3.000 aja 😉 toiletnya menurutku lumayan bersih kok dan dan airnya juga melimpah, yaa walaupun gelap sih. Jadi mending bawa headlamp kalau ke kamar mandi.

Processed with VSCO with a6 preset

Pos 1. Watu pocong. Foto diambil saat turun

Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 ppemandangannya masih hutan pinus, jalannya juga belum begitu terjal, tapi pasirnya lumayan licin kalau ga hati hati jalannya, apalagi pas turunnya. Beberapa kali aku nemuin mbak mbak yang pada kepleset. Untung mas mas yang nggandengnya pada sigap megangin mbaknya. Kayak Febri yang selalu sigap megangin pas aku turun. Waktu tempuh dari pos 1 ke pos 2 kurang lebih 15 menitan, dan pos 2 ini adalah kamar mandi terakhir. Dan lagi lagi, di pos 2 kita ga istirahat karena penuh, jadi kita mutusin buat jalan terus aja. Setelah ngelewatin pos 2, kita nemuin tempat agak rata buat foto foto sebentar sekalian istirahat. Sayang kan udah unyu unyu bawa instax hadiah dari Febri kalo gadipake foto foto.

Processed with VSCO with a6 preset

Pos 2. Watu gambir. Foto diambil saat turun

Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 adalah perjalanan yang paling lama dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Jalanan mulai terjal berkelok kelok dan kita beberapa kali berenti buat minum dan ambil nafas, dan tentunya sesekali foto foto. Mumpung ada mas mas yang lewat yang ngefotoin kita, ditambah lagi viewnya emang aduhaiiiii. Setelah sebelumnya kanan kiri hutan pinus yang lumayan rapat, makin keatas hutan pinusnya udah makin terbuka dan kita bisa lihat pemandangan yang ada di bawah. Kebetulan siang itu belum begitu berkabut. Setibanya di pos 3, kita mutusin buat gas terus aja karna emang rame orang juga.

Processed with VSCO with a6 preset

Pos 3. Foto diambil saat turun

Biarpun kita ga berenti di pos 1, 2, 3 tapi selama pendakian ini Febri sangat supportive, pengertian, dan perhatian. Beberapa kali saya berhenti ditengah trek dan gabisa jalan cepet karena kuku jempol kaki saya lagi sakit, dan dia nungguin tanpa protes. Dia juga beberapa kali dengan siap sedia ngefotoin hihihi. Oiya perjalanan dari pos 2 ke pos 3 memakan waktu kurang lebih 10 menitan. Rasanya udah lega ketika puncak makam mulai keliatan dan camping ground nya juga udah keliatan.

Processed with VSCO with a6 preset

View di trek menuju pos 3

Pas kita sampe camping ground, udah gabegitu banyak tenda. Paling sekitar 3-4 aja. Udah pada turun kali ya, secara udah jam 12an. Karena cuananya lumayan cerah dan gabegitu berkabut, kita nyempetin untuk foto-foto lumayan lama di puncak sambil mengagumi keindahan viewnya. Setelah puas foto-foto, kita nyobain beli susu di warung yang ada di Puncak, tapi sayang banget kita gak nyobain gorengannya karena udah abis. Iya, kamu ga salah baca, di puncak Gunung Andong ada yang jualan. Ada kali kita sejam lebih diatas buat foto foto dan makan nasi kuning favorite kita yang dibeli sebelum berangkat.

Ini adalah beberapa foto yang kita ambil pas di Puncak.

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Estimasi Waktu Perjalanan dari Basecamp sampai Puncak Gunung Andong

Yak mari kita rangkum total waktu perjalanan dari basecamp sampai ke puncak. Tapi ini total waktu bagi pemula seperti aku dan Febri yes wkwk. Katanya sih rata-rata 1jam an, kalau santai ya 2 jam an.
Basecamp – Pos 1: 20-25 menit
Pos 1 – pos 2: 15 menit
Pos 2 – pos 3: 45 menit
Pos 3 – puncak: 10 menit
Total waktu perjalanan: 1,5 jam an.
Untuk turunnya, sedikit lebih cepet yaitu 1 jam 15 menitan. Tapi setelah keluar gerbang kita langsung foto-foto dulu di gebang karena pas naik gasempet fotoooo cuuuy. And oh, sempetin jajan cilok, nanti bonus difotoin sama mamang ciloknya hihihihi.

Btw, agak sedih juga gaksih ngeliat akhir akhir ini banyak hutan yang pada kebakaran? Semoga lekas segera pulih yaaaa biar temen temen semua bisa explore ke lebih banyak tempat lagi 😉

Standard
Beauty, Makeup, Uncategorized

Perbedaan Maybelline Super Stay Matte Ink Lip Cream Asli vs. Palsu

Setelah 10 bulan nggak ngepost apapun di blog karena jiwaku dikuasai oleh rasa malas yang luar biasa, akhirnya aku mutusin buat ngepost tulisan lagi. By the way, aku ngeganti url blogku loh, pasti nggak ada yang sadar. Ya kan, ya kan? *emang url sebelumnya apa gitu nad?* *emang ada gitu yang masih baca blogmu?*

Tulisan ini didasari oleh rasa khawatir yang muncul setelah liat bibir adekku yang nakale puol itu tiba tiba agak jeding (semacam bengkak) dan kering kemerahan disekeliling atasnya setelah dia pake lipcream “Maybelline” Super Stay Matte Ink yang temennya kasih ke adekku. Kenapa kudu banget pake tanda kutip? Karena, setelah ku telit *cieileeh* ini produk agak aneh, kayak palsu gitu. “Whoa, whoa, kok bisa tau gitu?” “Ahh sotoy nih si Nadya.” Eitsss sebelum ngatain aku sotoy, cari sensasi, panjat sosial, pengen tenar ataupun viral *oposih*, nanti akan ku tulis satu persatu keanehan yang ku temuin biar kalian bisa lebih careful dalam membeli lipcream, khususnya si Maybelline Super Stay Matte Ink ini.

Processed with VSCO with a6 preset

Oiya, setelah aku curiga kalau ini produk palsu, aku langsung check video nya @cittaf di Instagram, karena dia pernah ngepost video perbandingan produk ini yang real vs fake, dan ternyata ciri-ciri produk palsu itu ada semua di lipcream yang dipake sama adekku. Seketika aku langsung larang dia pake produk itu dan ku ajak beli yang baru hari itu juga. Inilah beberapa perbedaan dari produk yang aku beli dan produk yang adekku dapetin dari temennya. Produk yang aku beli yang warna coklat tua yak, dan punya adekku yang merah (eiya gaksih merah? Ah sebut aja merah lah ya biar gampang.

Ukuran dan Bentuk Packaging

Dari segi ukuran, si lipcream coklat ukurannya lebih panjang dan lebih ramping dibandingin yang merah. Terus dari segi bentuk, si lipcream coklat ini nggak kotak siku-siku sempurna, agak melengkung gitu di bagian alasnya. Sedangkan si lipcream merah packagingnya bener-bener kotak. Sebagai tambahan, karena lipcream ini ngga ada boxnya, coba pas beli diliat tekstur packanging lipcreammya. Si lipcream coklat itu packangingnya gak halus, agak bertekstur kayak kertas paperbook. Sedangkan yang merah itu bener-bener halus gak ada teksturnya sama sekali.

Processed with VSCO with a6 preset

Mon maaf itu yang merah tulisannya udah pada ngelopek jadi ngebandingin font nya.

Keterangan Produk pada Packaging

Produk yang warna coklat ini ada tulisan nomor BPOM, distributornya, dll yang tercetak langsung pada kemasan. Sedangkan yang merah bener-bener polos ngga ada keterangan apa-apa cuy. Hiyyyy.

Processed with VSCO with a6 preset

Di kedua lipcream ini sama sama ada label putih yang ber-barcode gitu sih. Bedanya, di lipcream coklat ini ada tulisan ingredientsnya, sedangkan yang merah ngga ada tulisan apa-apa, only barcode dan tulisan maybelline blablabla seperti yang ada difoto di bawah ini. Aku gaktau sih apakah dulu di plastik pembungkus lipcream merah ini ada tulisan ingredientsnya atau engga, tapi yang jelas si lipcream coklat ingredientsnya nempel langsung dipackangin dalam. Gimana kalau ingredientsnya ternyata bahan-bahan aneh kek cat kayu/cat tembok gitu? T.T

Processed with VSCO with a6 preset

Label Keterangan Shade Lipcream

Nah yang ini beda banget sih! Lipcream yang coklat ada keterangan nomor dan nama shadenya. Sedangkan lipcream merah cuma ada tulisan nomor doang tanpa nama shade. Apakah sampai sini kalian sudah percaya kalau ini produk aneh banget?

Processed with VSCO with a6 preset

Oiya, disini kalian bisa liat perbedaan bentuk yang ku bahas diawal tadi. Yang coklat bentuknya nggak kotak, agak melengkung gitu. Sedangkan yang merah bener-bener kotak.

Harga

NAH INI NIH. Karna adekku cuma dikasih sama temennya, jadi akhirnya aku tanya ke temennya yang ngasih lipcream merah ini. Dan kalian tau berapa harganya? Rp 20.000. Yak betul, anda tidak salah baca, saya tidak typo. Lipcream keluaran “Maybelline” ini hanya dibandrol Rp. 20.000. Dan kalian tau berapa lipcream coklat yang saya beli ini? Rp. 115.000 untuk 1 buah lipcream. Perbedaan harga yang fantastis bukan? 1:5 bahkan masih sisa hahaha. Kebayang gaksih ini bahan apa aja yang dipakai? Aku yakin mereka sama sekali gamentingin keamanan produk. Diluar sana emang ada produk lokal dengan harga 20ribuan, tapi setidaknya kalau brand sendiri pasti bakal merhatiin keamanan, beda sama barang palsu yang produsennya bodoamat sama kualitas produknya, secara ini kan merk orang lain.

Sampe sini masa masih mau husnudzon sih sama produk ginian? Nih aku liatin kondisi bibir adekku, biar besok besok lebih berhati-hati dalam beli produk.

Processed with VSCO with a6 preset

Adekku emang polos sih, temennya pun juga. Makanya mereka jadi sasaran empuk para oknum yang pengen dapet keuntungan dari cara yang nggak halal. Buat temen-temen yang punya adek/sodara yang baru coba-coba pake make-up, jangan lupa diawasi. Karena mereka yang baru coba-coba biasanya cenderung milih barang yang harganya murah karena alasannya masih belajar atau hanya untuk latian. Murah boleh, aku pun murah-murah barangnya. Tapi ya murahnya yang masih masuk akal lah, nggak gini juga atuh. Duh.

Standard
Uncategorized

A Closure

Hello A,

How are you? I don’t know what you’ve been up to recently, but I’d always love to imagine you somewhere being happy with the life that you live, because that’s how I want you to always be.

I’m not one to share my feeling and thought to you. You know that, right? And now that a few things have changed between us, it’d be weird if I suddenly reach out to you and tell you things that happened in my life after you’re gone because…it’s not your business anymore. Duh. So from now on, my post will no longer be about you. And as a closure for what had ended between us, let me tell you something that has just begun in my life.

A, I met someone. He’s nice, funny, and has the best heart. He has a mysterious way of making me feel safe. Safety; it’s something that I had been searching for so long in a person, and I didn’t find it elsewhere before him. Can you imagine how ecstatic I am to have met him? Well, maybe ecstatic is an understatement. I’m a firm believer that without the feeling of safety, you will never be able to open up and be the true version of yourself in front of your partner. And he, with everything he has, makes me feel safe. That’s a good thing, right?

I used to be scared of opening up myself to others. The concept of letting someone see the ugly side of me is really terrifying. Maybe that’s why I always pushed away those who tried to get to know me better. Maybe that’s why I wasn’t that open to anyone about my very personal issue. I was too scared to do all that. But he, he has a strange way to encourage me to show my vulnerability. He has a strange way to make me feel safe enough to feel again.

I had a hard time accepting myself but he accepts me in ways I couldn’t even do myself. He loves me in ways I couldn’t even imagine. I started to think that if there’s a person who could love me like that, then why couldn’t I love myself?

Now I can finally love myself, even just for a bit. And that’s because he showed me that someone could still love me for who I am, and accept me with my ugly side and dark past.

A, I love him. I love him so much. I thought I’ve become disinterested in falling in love and caring for someone. I thought my cold, dysfunctional heart would never be able to love someone again. Apparently, I was wrong. I’m falling in love with him. My love for him is real and I want to keep him in my life for as long as possible.

A, if you ever read this, please keep in mind that I’m grateful for everything that once we had. You’ll always be one of my good friends. Now I just want to let you know that I’m so happy with him and I hope you’re always happy too, wherever you are, with whoever she is.

Goodbye.

Standard
Feelings, Opinion, Uncategorized

On Maintaining Friendship

adult-bar-blur-696218

It’s been so long since the last time I had a meaningful conversation with my friends, especially the ones I used to be close with. I’m not gonna play victim and act as if they treated me so bad and left me behind. In fact, I’ve been acting distant lately, and perhaps so have they. It’s safe to say that I have no faintest idea of how they’re doing if it’s not with the help of Instagram and Twitter. Social media indeed has strange way of making us feel like we still know each other’s life when in reality we barely do anymore.

To begin with, in the past several months I haven’t reached out to some of my friends and haven’t replied to their messages to the point where they might assume I ignored them on purpose. Maybe in a way I did, but not to all of them. Relax. I’m a horrible friend and seriously screwed up. I’m really sorry for that. I’m sorry that things haven’t been so great lately. I might come off as uncaring and selfish. I won’t be surprised if some of them no longer consider me as their friends. I get it. I can’t expect anyone to stick by me when I don’t do my best to keep in touch with them and give them the attention they deserve to get.

Friendships are fragile and require active maintenance, or they’ll die. I guess I’ve let it happen more than once. I started to read some articles about how to maintain a friendship so maybe I can still save the remaining friends that I think I still have. Keeping in touch is said to be the fundamental aspect of it, especially when it comes to maintaining a long lasting friendship. It sounds pretty doable though, but I don’t know how to do it. The people I’ve been best friends with until now are the kind of low maintenance friends, and I’m also a low maintenance friend. We don’t always talk to each other every day. We could go months without seeing each other. But we always give the reassurance that we still have each other.

As a trash texter with mild depression, it’s hard to imagine what I have to do to keep the friendship alive when the very basic thing like reaching out to friends, responding back to their messages, or making phone calls can feel so overwhelming sometimes. My close friends came from various background with various upbringing. Each of them carries different set of personality. I have friend whom I can do crazy things together, and I have friends whom I can sit for hours doing nothing but enjoying each other’s company while telling about our secrets. As much as they seem to be diametrically oppisosite, they’re very understanding towards my habit. They never call me out for being not fun when I’m not really up to do anything. That’s the kind of friends that I need in my 20s. I’m only two years away from quarter life crisis so I’m constantly trying to avoid the gravity to fall into it while preparing myself for the probability of experiencing it. No wonder I’m always exhausted.

Talking to my friends has tremendous benefits for my health and psychological well being, as well as broaden my knowledge and perspective. But the crux of the matter is, what kind of friends? Obviously not the ones who drain my energy, make me feel uncomfortable, guilty, insecure, and remind me of all the things I don’t want to be associated with anymore. Even though I’ve forgotten about why I stopped talking to certain people, not all of it was due to some major or minor problems. Sometimes it just happened. We lost the interest to continue the conversation, we started to reply a little longer than usual and finally we never heard anything from each other until our birthday –if we both happened to know each other’s birthday and remember it.

Humans are changing throughout life. The friends you used to do crazy things together apparently have changed and no longer into it. They friends you used to see eye to eye might no longer be on the same page as you about everything, or no longer share the same interest, value, and point of view, which later cause the friendship to be no longer enjoyable. The friends whom you used to stay up late with and talk about everything became person you no longer feel comfortable to spill your guts to.

After witnessing the end of my friendship with a few people, I came to realization that not all friendships are meant to last forever, no matter how good it used to be. Sometimes things are better left as mere memories. We aren’t meant to keep every friend we make, sometimes their chapter in your life is done because they only belong to certain version of yourself. Maybe someday they will end up showing up again in another chapters of your life.

Standard